Deretan PM Inggris Tercatat Pernah Mundur dari Jabatan

Pengunduran diri Keir Starmer menambah daftar panjang PM Inggris yang meninggalkan jabatan sebelum masa politiknya benar-benar berakhir. Siapa saja yang mundur?

oleh Luqman RimadiDiterbitkan 23 Juni 2026, 07:01 WIB
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan istrinya, Victoria, berdiri di depan kediaman resmi 10 Downing Street usai menyampaikan pernyataan kepada media di London, Senin (22/6/2026). (Dok. AP Photo/Kin Cheung)

Liputan6.com, London - Pengunduran diri Keir Starmer pada Senin, 22 Juni Juni 2026 kembali menambah daftar panjang perdana menteri Inggris yang meninggalkan jabatan sebelum masa politiknya benar-benar berakhir.

Pengunduran diri ini terjadi di tengah tekanan yang terus menguat dari dalam partai agar kepemimpinan diserahkan kepada sosok baru yang dinilai mampu memperbaiki kinerja pemerintahan yang terus kehilangan dukungan publik.

Starmer membawa Partai Buruh menang besar dalam pemilu Juli 2024. Namun sejak itu, popularitas pemerintah dan partai terus merosot.

Pengunduran diri Starmer terjadi setelah Andy Burnham memenangkan pemilihan sela pekan lalu dan memperkuat posisinya untuk menantang Starmer dalam perebutan kepemimpinan Partai Buruh. Meningkatnya dukungan terhadap Burnham disebut memperbesar tekanan terhadap Starmer untuk mundur. 

Berdiri di depan kediaman resmi perdana menteri di 10 Downing Street, Starmer menyampaikan pengumuman singkat yang diwarnai emosi. Suaranya sempat terdengar bergetar saat menutup pernyataannya.

"Pertanyaan yang kini diajukan partai saya adalah apakah saya masih sosok yang tepat untuk membawa partai ini menghadapi pemilu berikutnya," ujar Starmer seperti dikutip Associated Press. 

"Saya telah mendengar jawaban dari rekan-rekan saya di parlemen dan menerimanya dengan lapang dada."

Dengan pengunduran diri tersebut, Starmer menjadi perdana menteri keenam dalam kurun satu dekade terakhir yang mengakhiri masa jabatannya lebih cepat dan mengumumkannya dari depan nomor 10 Downing Street.

Mundur Imbas Perang Dunia II hingga Ditendang Partai Sendiri

Pemimpin di era Perang Dingin: Mikhail Gorbachev dari Rusia dan Margaret Thatcher (The Iron Lady) dari Inggris. Dok: AP Photo/Gerald Penny, File

Dalam sistem parlementer Inggris, seorang pemimpin tidak hanya bergantung pada hasil pemilu, tetapi juga harus mempertahankan dukungan partai dan parlemen.

Sejarah mencatat sejumlah perdana menteri Inggris terpaksa mundur akibat perang, krisis ekonomi, skandal politik, hingga kehilangan dukungan internal.

Berikut deretan pemimpin Inggris yang memilih atau dipaksa meninggalkan Downing Street dalam era politik modern: 

 

Neville Chamberlain (1937-1940), Tumbang di Awal Perang Dunia II

Neville Chamberlain dikenang sebagai perdana menteri yang menjalankan kebijakan "appeasement" atau pendekatan kompromi terhadap Adolf Hitler sebelum pecahnya Perang Dunia II.

Ketika Jerman terus memperluas agresi militernya di Eropa, kepercayaan parlemen terhadap Chamberlain merosot tajam. Pada Mei 1940, ia kehilangan dukungan politik dan mengundurkan diri. Posisinya kemudian digantikan oleh Winston Churchill yang memimpin Inggris selama masa perang.

 

Anthony Eden (1955-1957), Mundur Setelah Krisis Terusan Suez

Anthony Eden sempat dianggap sebagai penerus alami Winston Churchill. Namun pemerintahannya diguncang Krisis Terusan Suez pada 1956 ketika Inggris, Prancis, dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Mesir.

Krisis tersebut memicu kecaman internasional dan merusak reputasi Inggris di panggung global. Di tengah tekanan politik dan kondisi kesehatan yang memburuk, Eden mengundurkan diri pada Januari 1957.

 

Harold Wilson (1974-1976), Mundur karena Faktor Kesehatan

Harold Wilson merupakan salah satu tokoh penting Partai Buruh yang dua kali menjadi perdana menteri.

Pada 1976, Wilson secara mengejutkan mengumumkan pengunduran diri saat masih memiliki dukungan politik yang cukup kuat. Ia menyebut usia dan kondisi kesehatan sebagai alasan utama meninggalkan jabatan. Keputusan tersebut mengejutkan banyak kalangan politik Inggris saat itu.

 

Margaret Thatcher (1979-1990), Iron Lady yang Dijatuhkan Partainya Sendiri

Margaret Thatcher merupakan perdana menteri perempuan pertama Inggris dan salah satu pemimpin paling berpengaruh dalam sejarah negara itu.

Selama 11 tahun berkuasa, Thatcher melakukan reformasi ekonomi besar-besaran dan memenangkan Perang Falklands. Namun menjelang akhir masa jabatannya, ia menghadapi perlawanan dari internal Partai Konservatif terkait kebijakan pajak komunitas (poll tax) dan sikapnya terhadap integrasi Eropa.

Pada November 1990, Thatcher akhirnya mengundurkan diri setelah kehilangan dukungan dari rekan-rekannya sendiri di Partai Konservatif. Ia menjadi perdana menteri Inggris dengan masa jabatan terlama pada abad ke-20.

 

 

 

Tony Blair, eks PM Inggris yang kini jadi dewan pengawas Danantara (Foto: ekon.go.id)

Tony Blair (1997-2007), Mengakhiri Satu Dekade Kekuasaan

Tony Blair memimpin Partai Buruh meraih kemenangan telak pada 1997 dan menjadi salah satu perdana menteri paling dominan dalam politik Inggris modern.

Selama menjabat, Blair memperkenalkan berbagai reformasi domestik dan membawa Inggris terlibat dalam invasi Irak pada 2003 bersama Amerika Serikat.

Meski menuai kontroversi akibat perang Irak, pengunduran dirinya pada 2007 merupakan bagian dari proses transisi yang telah lama direncanakan untuk memberikan jalan kepada Menteri Keuangan saat itu, Gordon Brown.

 

David Cameron (2010-2016), Tumbang karena Brexit

David Cameron menjadi pemimpin Inggris yang membuka babak ketidakstabilan politik modern.

Ia menggelar referendum Brexit pada Juni 2016 dengan harapan Inggris tetap bertahan di Uni Eropa. Namun hasil referendum justru menunjukkan mayoritas pemilih mendukung keluar dari Uni Eropa.

Keesokan harinya, Cameron mengumumkan pengunduran dirinya karena merasa tidak tepat memimpin proses Brexit yang tidak didukungnya.

 

Theresa May (2016-2019), Terjebak Kebuntuan Brexit

Theresa May menggantikan Cameron dengan tugas utama menyelesaikan proses Brexit.

Namun selama hampir tiga tahun memimpin, ia gagal mendapatkan persetujuan parlemen terhadap kesepakatan Brexit yang telah dinegosiasikannya dengan Uni Eropa. Setelah mengalami kekalahan berulang kali di parlemen, May mengumumkan pengunduran diri pada 2019.

 

Gantian 3 Perdana Menteri dalam 8 Tahun

PM Inggris, Boris Johnson selesai memberikan pernyataan pada hari pertamanya kembali bekerja setelah pulih dari virus Corona di Downing Street, London, Senin (27/4/2020). (AP/Frank Augstein)

Boris Johnson (2019-2022), Jatuh karena Skandal

Boris Johnson membawa Partai Konservatif meraih kemenangan besar dalam pemilu 2019 dan berhasil menuntaskan Brexit.

Namun pemerintahannya kemudian dihantam berbagai kontroversi, termasuk skandal "Partygate", yakni pesta di lingkungan kantor pemerintahan saat Inggris memberlakukan pembatasan ketat pandemi Covid-19.

Gelombang pengunduran diri puluhan menteri dan pejabat senior membuat Johnson kehilangan dukungan politik hingga akhirnya mengumumkan pengunduran diri pada Juli 2022.

 

Liz Truss (2022), Bertahan Hanya Bertahan 45 Hari

Liz Truss mencatat sejarah sebagai perdana menteri dengan masa jabatan tersingkat dalam sejarah Inggris modern.

Ia menjabat pada September 2022, namun kebijakan pemotongan pajak yang diumumkan pemerintah memicu gejolak pasar keuangan, anjloknya nilai poundsterling, dan krisis kepercayaan investor.

Setelah hanya sekitar 45 hari berkuasa, Truss mengundurkan diri pada Oktober 2022.

 

Keir Starmer (2024-2026), Berakhir di Tengah Tekanan Politik

Keir Starmer membawa Partai Buruh kembali berkuasa pada 2024 setelah 14 tahun menjadi oposisi.

Namun kurang dari dua tahun kemudian, popularitas pemerintahannya merosot akibat persoalan ekonomi, kebijakan pajak, dan tekanan politik dari internal partai. Setelah menghadapi pemberontakan politik yang terus membesar, Starmer mengumumkan pengunduran dirinya pada Juni 2026. Ia akan tetap menjabat hingga penggantinya terpilih.

Sejak referendum Brexit pada 2016, Inggris telah mengalami pergantian enam perdana menteri hanya dalam waktu satu dekade: David Cameron, Theresa May, Boris Johnson, Liz Truss, Rishi Sunak, dan Keir Starmer.

Kondisi tersebut menjadi salah satu periode paling tidak stabil dalam sejarah politik Inggris modern.

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya