Cerita Pilu Penderita Tumor Rahim Tidur di Selasar Rumah Sakit

Dengan alas seadanya, Ibu Ade (52), warga Kampung Cicariang Sukabumi penderita tumor rahim, memilih bertahan di selasar rumah sakit.

oleh Fira SyahrinDiterbitkan 22 Juni 2026, 19:55 WIB
Ditemani keluarga, Ibu Ade (52), warga Kampung Cicariang Sukabumi penderita tumor rahim, tidur di selasar rumah sakit. (Liputan6.com/ Fira Syahrin)

Liputan6.com, Sukabumi - Seorang ibu paruh baya bernama Ade (52), warga Kampung Cicariang, Desa Ridogalih, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, terpaksa harus tidur dan bertahan di selasar Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Palabuhanratu.

Langkah memilukan ini terpaksa diambil pihak keluarga lantaran kepesertaan jaminan kesehatan BPJS atau Kartu Indonesia Sehat (KIS) milik pasien kedapatan sudah tidak aktif, tepat di saat dirinya membutuhkan tindakan medis secepatnya akibat mengidap tumor rahim.

Budiman, keluarga pasien, menceritakan bahwa kondisi mertuanya kian mengkhawatirkan sejak beberapa hari terakhir.

Sebelum memutuskan bertahan di selasar, pihak keluarga sempat membawa Ade ke rumah sakit dan menunggu selama satu malam.

Namun, karena status BPJS yang tidak aktif, mereka sempat diminta pulang terlebih dahulu guna menyelesaikan urusan administrasi.

Setibanya di rumah, kondisi kesehatan Ade justru merosot tajam. Ia mengalami perdarahan hebat hingga membuat keluarga panik dan langsung membawanya kembali ke IGD RSUD Palabuhanratu, Minggu pagi (21/6/2026).

"Dokter bilang sakitnya tumor dan harus diangkat. Kemarin kami sudah menunggu satu malam di sini, lalu disuruh pulang. Tadi pagi dibawa lagi ke rumah sakit karena di rumah sudah mulai perdarahan," ungkap Budiman saat ditemui di rumah sakit, Minggu (21/6/2026).

Pihak keluarga mengaku tidak berani membawa Ade kembali ke rumah karena jarak tempuh yang jauh dan risiko medis yang tinggi jika perdarahan kembali terjadi di jalan. Selain terkendala biaya operasi, keluarga juga harus membeli obat-obatan secara mandiri.

"Kalau dibawa pulang lagi saya kasihan, dari sini ke rumah jauh perjalanan juga. Di sini pun masih keluar darah, kami takut ada apa-apa di rumah. Kami sangat butuh penanganan segera dari rumah sakit, mohon tolong mertua saya," keluh Budiman.

 

Penjelasan RSUD Palabuhanratu

Merespons situasi tersebut, Kepala Seksi Pelayanan Medis, Penunjang Medis, dan Logistik RSUD Palabuhanratu, dr. Rizky Tanjil, menjelaskan bahwa pasien sebenarnya sudah diperiksa oleh dokter spesialis kandungan di poli terkait. Berdasarkan hasil pemeriksaan, kondisi tanda vital pasien dinyatakan stabil.

"Ibu Ade sudah diperiksa oleh spesialis kandungan di poli, kondisinya stabil dan perdarahannya minimal sehingga sementara bisa berobat jalan. Kami juga sudah mengarahkan keluarga untuk mengurus BPJS-nya agar operasi bisa segera direncanakan," kata dr. Rizky.

Mengenai keberadaan keluarga yang memilih diam di selasar IGD, dr. Rizky menegaskan hal itu terjadi bukan karena pihak rumah sakit menelantarkan pasien, melainkan karena besarnya rasa kekhawatiran dan kebingungan psikologis yang dialami pihak keluarga.

"Mereka khawatir karena sebelumnya perdarahannya sempat banyak, jadi mereka bingung dan takut kalau pulang akan perdarahan lagi. Sebetulnya belum perlu rawat inap karena kondisinya stabil, tidak dibiarkan begitu saja. Tapi sudah kami jelaskan posisinya," tambahnya.

Upaya Reaktivasi BPJS Pasien

Pihak RSUD Palabuhanratu memastikan tidak akan lepas tangan terkait masalah jaminan kesehatan yang membelit Ibu Ade.

Manajemen rumah sakit telah memanggil perwakilan keluarga serta berkoordinasi langsung dengan pemerintah desa asal pasien untuk memandu proses pengaktifan kembali kartu KIS yang sempat dinonaktifkan.

"Sebelumnya beliau sempat memiliki BPJS KIS namun ada penonaktifan. Saat ini kami bersama pihak desa dan keluarga sedang mengusahakan dan membantu proses pengaktifan kembali KIS-nya agar hak layanannya bisa berjalan," jelasnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya