Sempat Tertunda, AS-Iran Berunding Hari Ini di Swiss

Negosiasi akan dimulai di tengah perselisihan mengenai implementasi nota kesepahaman yang diteken kedua negara awal pekan ini.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 21 Juni 2026, 09:23 WIB
Kompleks hotel Burgenstock di Swiss yang akan menjadi lokasi perundingan Amerika Serikat-Iran. (Dok. AFP)

Liputan6.com, Bern - Pakistan menyatakan perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang sempat ditunda pada Jumat (19/6/2026) akan dimulai di Swiss pada Minggu (21/6). Di saat yang sama, Teheran mengumumkan kembali penutupan Selat Hormuz sebagai respons atas berlanjutnya serangan Israel di Lebanon.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei pada Sabtu (20/6) mengonfirmasi bahwa delegasi Iran yang terdiri atas Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, dan sejumlah pejabat senior lainnya sedang menuju Swiss. Media penyiaran pemerintah Iran melaporkan pada Sabtu malam bahwa tim negosiasi telah tiba di Zurich.

Di Washington, juru bicara Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan Vance juga telah berangkat ke Swiss pada Sabtu. Dalam pernyataan yang dikutip Reuters, Vance mengatakan dirinya hanya dapat berada di negara tersebut selama satu atau dua hari, tetapi berharap kemajuan dapat dicapai terkait gencatan senjata di Lebanon maupun isu program nuklir Iran.

Pertemuan ini akan menjadi awal negosiasi tingkat teknis menuju kesepakatan final antara AS dan Iran setelah kedua negara menandatangani nota kesepahaman (MoU) awal pekan ini yang menyatakan berakhirnya secara permanen operasi militer di semua front, termasuk di Lebanon.

MoU tersebut menetapkan bahwa kesepakatan final harus dicapai dalam waktu 60 hari dan dapat diperpanjang atas persetujuan bersama.

Namun, proses menuju meja perundingan setelah penandatanganan MoU tidak berjalan mulus. Putaran pembicaraan yang semula dijadwalkan pada Jumat ditunda setelah Iran gagal mengirimkan delegasinya karena serangan mematikan Israel di Lebanon masih terus berlangsung.

Meski Israel menyetujui gencatan senjata baru dengan Hizbullah pada Jumat, serangan di Lebanon tetap berlanjut hingga Sabtu. Menurut laporan pertahanan sipil dan media pemerintah Lebanon, sedikitnya 32 orang tewas.

Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, serangan Israel pada Jumat menewaskan 83 orang dan melukai 141 lainnya.

 

Selat Hormuz Ditutup

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Sabtu mengumumkan kembali pemberlakuan pembatasan di Selat Hormuz sebagai respons atas apa yang disebutnya sebagai "kejahatan" Israel di Lebanon serta pelanggaran komitmen AS untuk mewujudkan gencatan senjata.

IRGC memperingatkan awak kapal agar tidak mendekati jalur perairan strategis tersebut, dengan menyatakan bahwa keselamatan mereka akan terancam jika tetap melintas.

Mohammad Mokhber, penasihat pemimpin tertinggi Iran, memperingatkan bahwa arus energi di Timur Tengah akan terhenti selama kesepakatan AS-Iran "hanya sebatas kesepakatan di atas kertas".

Namun, militer AS mengklaim pasukannya masih beroperasi di kawasan sekitar Selat Hormuz dan tetap hadir serta siaga untuk memastikan seluruh aspek kesepakatan dengan Iran dipatuhi.

Militer AS mengatakan 55 kapal komersial telah melintasi selat tersebut pada Sabtu dan jalur pelayaran yang aman masih "tetap terjaga".

"Iran tidak mengendalikan Selat Hormuz," kata juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM) Kapten Tim Hawkins.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa selat tersebut akan tetap bebas dari pungutan Iran selama maupun setelah periode negosiasi 60 hari.

Namun, ia mengancam akan memberlakukan pungutan AS di jalur perairan itu apabila tidak tercapai kesepakatan final.

 

"Keadaan Bergerak Mundur"

Menurut pemerintah Pakistan, sejumlah pejabat Pakistan, termasuk Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Panglima Angkatan Darat Marsekal Lapangan Asim Munir, serta para mediator dari Qatar, akan bergabung dalam perundingan AS-Iran pada Minggu di kawasan resor pegunungan Burgenstock, Swiss.

Melaporkan dari lokasi tersebut, koresponden Al Jazeera Osama Bin Javaid mengatakan telah terjadi aktivitas diplomatik intensif di balik layar menjelang negosiasi resmi. Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani disebut telah menggelar sejumlah pertemuan.

Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar juga mengadakan pembicaraan di Mesir, sementara Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi melakukan perjalanan ke Iran.

Baghaei mengisyaratkan bahwa kemajuan perundingan kemungkinan akan terbatas hingga Iran merasa AS benar-benar memenuhi kewajibannya dalam kesepakatan sementara tersebut.

Dalam pernyataan yang disiarkan IRIB, Baghaei mengatakan Iran akan bersikap tegas dan serius dalam menuntut pemenuhan kewajiban, mengingat "kegagalan masa lalu" AS dalam menghormati komitmennya. 

Koresponden Al Jazeera James Bays yang melaporkan dari Burgenstock mengatakan terdapat indikasi bahwa "situasi bergerak mundur dibanding saat MoU ditandatangani", dengan merujuk pada berlanjutnya pengeboman Israel di wilayah selatan Lebanon.

"Pihak Iran melihat ini sebagai pelanggaran serius terhadap MoU," katanya. "Respons pertama mereka adalah dengan menunda kehadiran mereka dalam putaran perundingan yang semula dijadwalkan pada Jumat. Kini mereka menggunakan instrumen tekanan yang lebih besar dengan menutup Selat Hormuz." 

"Iran meyakini taktik ini akan membantu mengembalikan situasi ke jalurnya terkait Lebanon selatan," tambah Bays.

Abdulla Banndar al-Etaibi, profesor di Qatar University, mengatakan Iran sedang "memberikan tekanan maksimum kepada Presiden Trump dan para mediator dengan menjadikan Hormuz sebagai alat tawar untuk Lebanon".

"Mereka ingin seluruh pertempuran di Lebanon dihentikan agar Selat Hormuz kembali dibuka," ujarnya kepada Al Jazeera.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya