Liputan6.com, Jakarta - PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) membukukan pendapatan sebesar US$ 184,3 juta pada Januari-Maret 2026, naik 2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar US$ 181,2 juta.
Mengutip keterbukaan informasi BEI, Minggu (21/6/2026) kinerja pendapatan tersebut menunjukkan aktivitas bisnis SMDR masih tumbuh meskipun laju pertumbuhannya relatif moderat. Peningkatan ini turut mendorong perolehan EBITDA yang naik 13% menjadi US$ 54,9 juta dari US$ 48,6 juta pada kuartal I 2025.
Advertisement
Berdasarkan paparan kinerja perusahaan, pendapatan SMDR pada kuartal I 2026 mencapai US$ 184,3 juta. Angka ini melanjutkan tren pertumbuhan yang juga tercermin pada kinerja sepanjang tahun 2025, di mana pendapatan perseroan meningkat menjadi US$ 801,7 juta dari US$ 737,4 juta pada 2024.
Meski pendapatan meningkat, laba usaha dan laba bersih perusahaan turun. Laba usaha SMDR pada kuartal I 2026 tercatat US$ 18,3 juta, turun 27% dibandingkan US$ 24,9 juta pada kuartal I 2025. Sementara itu, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun menjadi US$ 10,1 juta dari US$ 15,5 juta pada periode sama tahun lalu. Laba per saham dasar tercatat US$ 0,001 pada kuartal pertama 2026.
Neraca Tetap Solid
Dari sisi posisi keuangan, SMDR masih menunjukkan fundamental yang kuat. Kas dan setara kas per akhir Maret 2026 mencapai US$ 337,2 juta, naik 6% dibanding posisi akhir 2025 sebesar US$ 317,7 juta. Total aset perusahaan juga meningkat menjadi US$ 1,46 miliar dari US$ 1,43 miliar pada akhir tahun lalu.
Kenaikan ini mencerminkan ekspansi aset dan penguatan posisi keuangan perusahaan. Di sisi lain, utang bank jangka panjang naik 15% menjadi US$ 185,2 juta, sementara utang bank jangka pendek meningkat 9% menjadi US$ 46,1 juta. Namun, kenaikan liabilitas tersebut masih diimbangi oleh pertumbuhan aset dan ekuitas. Ekuitas SMDR tercatat naik menjadi US$ 785,3 juta dari US$ 773,5 juta pada akhir 2025, menunjukkan perusahaan tetap mampu menciptakan nilai bagi pemegang saham.
Harga Minyak Melonjak, Intip Strategi Samudera Indonesia Jaga Operasional
Sebelumnya, PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) memastikan tetap mampu menjaga stabilitas operasional di tengah potensi kenaikan harga bahan bakar akibat konflik di Timur Tengah. Perusahaan mengandalkan mekanisme penyesuaian biaya kepada pelanggan untuk meredam dampak lonjakan harga minyak dunia.
Direktur Utama Samudera Indonesia, Bani M. Mulia, mengatakan bahwa fluktuasi harga bahan bakar kapal atau bunker merupakan hal yang sudah biasa dihadapi industri pelayaran.
Menurut Bani, setiap terjadi kenaikan harga bahan bakar, perusahaan memiliki ruang untuk melakukan penyesuaian melalui surcharge atau biaya tambahan kepada pelanggan. Skema ini menjadi strategi utama dalam menjaga keseimbangan biaya operasional.
"Ya sebagaimana sering saya jelaskan sebelumnya bahwa apabila ada kenaikan maupun penurunan dari harga bunker atau (biaya) bahan bakar yang dipakai oleh operasional kapal. Biasanya kami tentu bisa melakukan surcharge kepada para customer," kata Bani dalam konferensi pers Laporan Kinerja Tahun Buku 2025, secara virtual, Senin (30/3/2026).
Ia menjelaskan, surcharge tersebut memungkinkan perusahaan secara langsung mengalihkan beban kenaikan biaya kepada pengguna jasa. Dengan begitu, dampak kenaikan harga minyak tidak sepenuhnya ditanggung oleh perusahaan.
Tidak hanya saat harga naik, perusahaan juga melakukan penyesuaian sebaliknya. Ketika harga bahan bakar turun, Samudera Indonesia dapat memberikan potongan biaya kepada pelanggan sebagai bentuk penyesuaian tarif.
"Bisa malah menaikkan pendapatan melalui surcharge (biaya tambahan) maupun juga kita bisa memberikan potongan apabila ada penurunan dari bunker price," ujarnya.
Operasional Tetap Stabil
Menurut Bani, dengan strategi tersebut, Samudera Indonesia menilai fluktuasi harga bahan bakar tidak menjadi ancaman signifikan bagi keberlangsungan bisnis. Sistem penyesuaian tarif dinilai cukup efektif dalam menjaga margin perusahaan.
Bani menegaskan bahwa hingga saat ini, kenaikan maupun penurunan harga bahan bakar belum mengganggu operasional perusahaan secara keseluruhan.
"Jadi, sampai sejauh ini kenaikan dan penurunan bahan bakar tidak mengganggu operasional dari perusahaan," ujarnya.