Bursa Saham Global Bervariasi, Investor Pantau Negosiasi AS-Iran

Sejumlah sentimen mempengaruhi bursa global dii Eropa dan Asia.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 20 Juni 2026, 08:28 WIB
Orang-orang berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham global bervariasi menyambut akhir pekan. Namun, hal itu dengan catatan hati-hati karena kesepakatan perdamaian sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Saat ini fokus bagaimana kesepakatan perdamaian itu dapat bertahan.

Mengutip Yahoo Finance, Sabtu, (20/6/2026), bursa saham AS libur memperingati Juneteenth pada Jumat, 19 Juni 2026. Di bursa berjangka, futures S&P 500 turun setelah indeks acuan mencatat pekan terbaiknya sejak akhir Mei.

Stoxx 600 Eropa melemah 0,2%, sementara saham Asia turun 0,3% dari rekor tertinggi sepanjang masa. Bursa saham di China, Hong Kong dan Taiwan libur.

Adapun pembicaraan tentang kesepakatan permanen yang dijadwalkan pada Jumat di Swiss telah ditunda. Israel dan militan Hizbullah yang didukung Iran bentrok di Lebanon. Ini sebuah perkembangan yang menjadi penyebab penundaan pertemuan itu, menurut sejumlah sumber.

Adapun Israel dan Hizbullah kini telah menyetujui gencatan senjata pada pukul 4 sore waktu setempat, menurut seorang pejabat AS. Iran telah menjadikan gencatan senjata di Lebanon sebagai syarat kesepakatan awal dengan AS.

Harga minyak mentah Brent naik 0,9% menjadi di atas US$ 80 per barel. Hal itu mengurang penurunan 7,7% pada pekan ini. Lalu lintas melalui Selat Hormuz juga menipis pada Jumat, hanya sehari setelah lonjakan arus melalui jalur air tersebut. Sementara itu, Teheran mengatakan, kapal yang melintasi selat tersebut membutuhkan izinnya.

Perkembangan ini merupakan ujian bagi optimisme yang telah membuat reli saham yang dipimpin teknologi semakin menguat setelah AS dan Iran mencabut blokade ganda Selat Hormuz yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.

Pembicaraan pada Jumat pekan ini dimaksudkan untuk memulai negosiasi 60 hari untuk kesepakatan permanen tentang kegiatan nuklir Iran.

"Tentu saja, dengan Trump selalu ada kemungkinan hambatan di sepanjang jalan, tetapi kami percaya bahwa kita telah memasuki fase de-eskalasi baru," kata Alexandre Drabowicz dari Indosuez Wealth Management.

Ia menyarankan, investor untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan tentang kesepakatan permanen.

 

Prospek S&P

Pedagang bekerja di New York Stock Exchange, New York. (AP Photo/Seth Wenig, file)

Obligasi pemerintah Inggris memimpin kenaikan luas imbal hasil obligasi Eropa setelah Wali Kota Greater Manchester, Andy Burnham, memenangkan kursi di Parlemen, memberinya jalan untuk menantang Perdana Menteri Keir Starmer untuk jabatannya. Investor sedang memperdebatkan apakah kepemimpinan Burnham dapat beralih ke kebijakan fiskal yang lebih longgar.

Poundsterling mengungguli sebagian besar mata uang utama, sementara dolar bertahan pada level tertingginya sejak Maret. Bitcoin mengakhiri penurunan selama tiga hari berturut-turut. Emas menuju kerugian mingguan ketiga berturut-turut, diperdagangkan sekitar US$ 4.150 per ons.

Pasar global menutup pekan penting yang ditandai dengan kesepakatan sementara AS-Iran yang bersejarah, pertemuan kebijakan pertama Ketua Federal Reserve Kevin Warsh, dan awal mula SpaceX sebagai perusahaan publik. Saham menunjukkan ketahanan, sebagian didukung oleh antusiasme seputar kecerdasan buatan.

Para ahli strategi yang disurvei oleh Bloomberg telah menaikkan target akhir tahun S&P 500 dari bulan lalu karena gangguan dari perang Iran mereda dan prospek pendapatan membaik.

Target rata-rata naik menjadi 7.716 dari 7.612 pada Mei. Angka ini hampir 3% lebih tinggi dari penutupan terakhir dan menyiratkan kenaikan hampir 13% untuk tahun ini. Estimasi pendapatan juga meningkat untuk tahun ini dan tahun depan.

"Pasar tampaknya memasuki beberapa minggu yang jarang terjadi tanpa katalis utama di depan," kepala strategi di Singular Bank, kata Roberto Scholtes.

"Semoga ini adalah kesempatan untuk beristirahat setelah tahun yang sibuk, dan mungkin juga periode rotasi sektor."

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya