Yen Kian Terpuruk, Dekati Level Terendah dalam 40 Tahun

Mata uang yen Jepang kian terpuruk hingga menembus level 161 per dolar AS, mendekati posisi terendahnya dalam hampir empat dekade terakhir.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 19 Juni 2026, 14:00 WIB
Mata uang Yen Jepang. Meski sudah diintervensi senilai US$ 70 miliar, nilai tukar yen tetap melemah ke level 161 per dolar AS akibat kuatnya tekanan ekonomi struktural. (Richard A. Brooks/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Mata uang Jepang, Yen, melemah hingga menembus level 161 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (waktu setempat), mendekati posisi terendahnya dalam hampir empat dekade. Kondisi ini kembali memicu spekulasi bahwa pemerintah Jepang dapat melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menahan pelemahan mata uangnya.

Melansir CNBC, Jumat (19/6/2026), setelah pasar saham Jepang ditutup pada Kamis, nilai tukar yen mengalami pelemahan tajam dan menembus level 161 per dolar AS. Pelemahan tersebut berlanjut hingga menyentuh 161,80 per dolar AS, yang menjadi posisi terendah yen sejak Juli 2024.

Apabila yen melemah lebih lanjut hingga melampaui level 161,96 per dolar AS, mata uang Jepang itu akan berada pada titik terlemahnya sejak 1986.

Pelemahan yen yang berlanjut mendorong pejabat keuangan Jepang kembali mengeluarkan peringatan. Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, dalam pertemuan G7 baru-baru ini dilaporkan menyatakan bahwa Jepang siap mengambil tindakan tegas terhadap pergerakan spekulatif di pasar valuta asing.

Tekanan terhadap yen masih berlangsung meskipun Kementerian Keuangan Jepang telah menggelontorkan lebih dari US$ 70 miliar untuk intervensi pasar pada Mei lalu. Selain itu, Bank of Japan (BOJ) juga telah menaikkan suku bunga, yang membuat biaya pinjaman mencapai level tertinggi sejak 1995.

 

Intervensi Belum Efektif

Mata uang Yen Jepang. (Foto AFP)

Wakil Gubernur BOJ, Ryozo Himino, juga dilaporkan menyampaikan kepada parlemen bahwa bank sentral terus memantau secara ketat pergerakan nilai tukar mata uang karena dampaknya terhadap perekonomian dan inflasi.

Sejumlah analis yang diwawancarai CNBC menilai upaya intervensi pemerintah sejauh ini belum efektif dalam membendung pelemahan yen karena faktor-faktor yang memengaruhi mata uang tersebut bersifat struktural.

Beberapa faktor utama yang menekan yen antara lain masih tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury), yang terus mendukung penguatan dolar AS.

Selain itu, kebijakan ekonomi pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang berfokus pada pertumbuhan juga dinilai cenderung mendukung kondisi moneter yang relatif longgar.

Di satu sisi, pelemahan yen memberikan keuntungan bagi sektor ekspor Jepang dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Namun di sisi lain, kondisi tersebut meningkatkan risiko inflasi impor serta mengurangi daya beli rumah tangga di dalam negeri.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya