Harga Minyak Dunia Bervariasi, Ini Penyebabnya

Harga minyak dunia beragam usai Wakil Presiden AS JD Vance menyampaikan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 19 Juni 2026, 07:46 WIB
Harga minyak sedikit berubah pada perdagangan Kamis, 18 Juni 2026 (Frederic J. BROWN/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak sedikit berubah pada perdagangan Kamis, 18 Juni 2026 (Jumat waktu Jakarta). Pergerakan harga minyak dipengaruhi pernyataan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance. Ia menuturkan, kapal tanker dengan muatan lebih dari 12 juta barel melintasi Selat Hormuz pada Kamis malam.

"Itu adalah angka tertinggi sejak awal konflik,” ujar Vance kepada wartawan dalam konferensi pers di Gedung Putih, dikutip dari CNBC.

Adapun CNBC belum dapat segera mengkonfirmasi angka itu. Namun, sekitar 14 juta barel minyak per hari dan 6 juta barel produk olahan per hari melewati Selat Hormuz sebelum perang Iran.

Harga minyak Brent naik 30 sen menjadi US$ 79,85 per barel. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) berjangka susut 19 sen menjadi USD 76,60 per barel. Harga minyak telah turun lebih dari 11% sejak AS dan Iran mengumumkan kesepakatan pada Minggu lalu yang bertujuan mengakhiri perang.

Presiden AS Donald Trump menandatangani kesepakatan tersebut pada Rabu pekan ini dengan mitranya dari Iran, Masoud Pezeshkian.

Berdasarkan kesepakatan itu, Iran harus mengizinkan kapal-kapal untuk melintasi Selat Hormuz tanpa membauar bea selama 60 hari. Sementara itu, AS harus mencabut blokade angkatan lautnya.

"Untuk malam kedua berturut-turut, Iran tidak menembaki kapal apapun di Selat Hormuz,” ujar Vance.

"Sejauh ini mereka menghormati komitmen mereka,” ia menambahkan.

"Mengenai blokade, Centcom mengizinkan lebih dari selusin kapal untuk melewati blokade angkatan laut kami, dan dengan demikian kami juga menghormati bagian awal kesepakatan,” ujar wakil presiden.

Kemudian Centcom mengumumkan AS telah mengakhiri blokadenya.

 

Hadapi Perhitungan

Penutupan lalu lintas pelayaran yang melalui Selat Hormuz oleh Iran, pasca serangan udara Amerika Serikat dan Israel pada akhir pekan lalu, berdampak langsung dan signifikan terhadap lonjakan harga minyak dunia. Tampak foto yang menunjukkan tampilan bercahaya harga BBM di sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Bochum, Jerman. (Ina FASSBENDER/AFP)

Pelacak kapal Kpler belum mengamati peningkatan lalu lintas yang signifikan hingga Kamis pagi. Tiga kapal tanker Saudi yang membawa 6 juta barel terlihat di Teluk Oman. Lebih dari 100 kapal, puluhan di antaranya adalah kapal tanker, melintasi selat setiap hari sebelum perang Iran.

“Pintu air belum terbuka, belum ada eksodus massal. Pengirim tampaknya masih ragu menyeberangi Hormuz,” ujar Direktur Kpler, Matt Smith.

Sementara itu, Presiden Rapidan Energy, Bob McNallu menuturkan, pasar akan menghadapi perhitungan akhir tahun ini ketika data menunjukkan lubang besar dalam pasokan dan persediaan minyak.

Kepada CNBC, McNally menuturkan, perjanjian antara AS dan Iran sebenarnya adalah gencatan senjata sementara.

“Ini tidak lebih dari pembayaran tebusan yang mahal untuk setidaknya 65 juta barel yang terperangkap di dalam Hormuz,” ujar dia.

Trump berharap kesepakatan itu akan memungkinkan negara-negara Arab Teluk untuk meningkatkan produksi dan mencegah krisis pasokan musim panas yang telah diperingatkan oleh para analis, kata McNally, yang merupakan penasihat energi senior untuk Presiden George W. Bush.

“Dia membeli waktu, dia membeli minyak,” kata analis tersebut.

“Mari kita lihat apakah ini akan bertahan dan mengarah pada penyeimbangan kembali, aliran pasokan kembali yang dia harapkan.”

 

 

Fokus Pasar

Sebagai informasi, sekitar 20 persen (seperlima) dari total pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia melewati selat ini setiap harinya. Tampak foto yang menunjukkan tampilan harga BBM di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Aral di Bochum, Jerman. (Ina FASSBENDER/AFP)

Pendiri Energy Aspects, Amrita Sen menuturkan, pasar minyak tidak diperdagangkan berdasarkan fundamental dan sudah berbulan-bulan seperti itu.

“Pasar mengabaikan fakta bahwa persediaan minyak telah mencapai rekor terendah, suatu peristiwa yang biasanya akan memaksa harga naik, kata Sen.

Sebaliknya, para pedagang fokus pada apa yang terjadi ketika Hormuz dibuka kembali, tetapi lalu lintas kapal kemungkinan tidak akan kembali ke tingkat sebelum perang, kata analis tersebut kepada CNBC.

"Semuanya akan lebih bertahap,” kata Sen.

"Awalnya, tentu saja, kapal-kapal yang terjebak akan keluar, tetapi tidak akan kembali ke tingkat sebelum konflik dalam semalam.”

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya