UNICEF: 27 Anak Tewas Akibat Konflik Lebanon

UNICEF juga melaporkan ada 1.000 lebih anak-anak yang terluka.

oleh Tim GlobalDiterbitkan 19 Juni 2026, 07:01 WIB
Kehadiran sejumlah relawan yang mengenakan kostum tokoh menambah kegembiraan anak-anak saat merayakan Hari Raya Idulfitri. Tampak dalam foto, seseorang yang mengenakan kostum berpose dengan anak-anak pengungsi yang merayakan hari raya Idulfitri, di sebuah universitas negeri yang diubah menjadi tempat penampungan setelah serangan udara Israel di Beirut, Lebanon, Jumat, 20 Maret 2026. (AP Photo/Hassan Ammar)

Liputan6.com, Beirut - Dana Anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) melaporkan sedikitnya 27 anak tewas dan 992 lainnya terluka sejak eskalasi konflik di Lebanon pada awal Maret 2026. Lembaga PBB itu memperingatkan bahwa kekerasan yang berkepanjangan telah memperburuk kondisi anak-anak dan keluarga di negara tersebut.

Dalam pernyataannya pada Rabu (17/6/2026), UNICEF menyebut ratusan ribu anak juga terdampak pengungsian, kehilangan akses terhadap layanan dasar, serta hidup dalam kondisi yang tidak aman akibat konflik yang terus berlangsung.

"Konflik yang berkepanjangan terus memberikan dampak yang sangat besar terhadap anak-anak di Lebanon," demikian pernyataan UNICEF, dikutip dari laman Antara News, Jumat (19/6).

UNICEF memperkirakan lebih dari 770.000 anak kini menghadapi tekanan emosional dan gangguan kesehatan mental akibat perang. Di sisi lain, situasi keamanan yang belum stabil serta banyaknya amunisi yang belum meledak masih menghambat kepulangan keluarga ke tempat tinggal mereka.

Lembaga tersebut kembali mendesak seluruh pihak yang bertikai agar segera menghentikan pertempuran, melindungi warga sipil beserta infrastruktur penting, serta menjamin akses kemanusiaan tanpa hambatan bagi organisasi bantuan.

Seruan itu disampaikan di tengah upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik. Amerika Serikat dan Iran pada Minggu (14/6) telah memfinalisasi nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang menjadi dasar negosiasi damai dan diharapkan dapat menghentikan pertempuran antara Israel dan Hizbullah di Lebanon.

Meski demikian, prospek gencatan senjata masih menghadapi tantangan. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Senin (15/6) menegaskan pasukan Israel akan tetap berada di "zona keamanan" yang dikuasainya di Lebanon, Suriah, dan Jalur Gaza selama masih dianggap diperlukan.

Pernyataan Netanyahu tersebut memunculkan keraguan mengenai implementasi penuh kesepakatan damai yang tengah dirundingkan, khususnya terkait penghentian operasi militer di Lebanon.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya