Belajar dari Sahabat Nabi, Menag Tekankan Penghormatan kepada Difabel

Menteri Agama Nasaruddin Umar ajak masyarakat muliakan penyandang disabilitas di momen 1 Muharram.

oleh Ade Nasihudin Al AnsoriDiterbitkan 20 Juni 2026, 18:29 WIB
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar soal penyandang disabilitas. (Tim Humas Kemenag)

Liputan6.com, Jakarta - Di momen tahun baru Islam, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengajak masyarakat menjadikan momentum 1 Muharram sebagai ruang untuk memperkuat kepedulian, penghormatan, dan keberpihakan kepada penyandang disabilitas.

Tahun baru Islam bukan hanya pergantian waktu, tetapi juga kesempatan memperbaiki cara pandang terhadap sesama manusia. Keterbatasan fisik bukan penghalang kemuliaan seseorang di hadapan Allah SWT.

Dia mengingatkan bahwa nilai manusia tidak ditentukan oleh kesempurnaan tubuh, melainkan oleh ketaatan, ketulusan, dan kualitas batin yang dimilikinya.

“Jangan minder terhadap saudara yang lain. Anggaplah kekurangan itu sebagai kelebihan dari Allah SWT,” ujar Nasaruddin Umar saat Kick Off Penyusunan Kosa Isyarat Keislaman Indonesia (KOSMIN) untuk penyandang Disabilitas Sensorik Rungu Wicara di Masjid Istiqlal, Selasa (16/6/2026).

Menag juga mengajak seluruh umat untuk memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada penyandang disabilitas. Keberpihakan kepada kelompok difabel bukan sekadar agenda sosial, tetapi juga bagian dari nilai keagamaan yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Nasaruddin mencontohkan kisah Abdullah bin Ummi Maktum, seorang sahabat disabilitas netra yang mendapat tempat terhormat dalam sejarah Islam.

Dalam beberapa kesempatan, Rasulullah SAW bahkan mempercayakan kepemimpinan kepada Abdullah bin Ummi Maktum karena kapasitas, hafalan, dan kemuliaan pribadinya.

Keterbatasan Tak Pengaruhi Lahirnya Pengaruh Besar

Menurut Menag, sejarah dunia juga mencatat banyak tokoh besar yang lahir dari kondisi disabilitas, tetapi mampu memberi karya luar biasa bagi kemanusiaan. 

Dia menyebut nama-nama seperti Franklin Roosevelt, Helen Keller, hingga Stevie Wonder sebagai contoh bahwa keterbatasan tidak pernah membatasi lahirnya pengaruh besar.

“Batin itu tidak mengenal sempurna atau tidak sempurna. Karya batin bisa menjadi monumental,” kata Menag.

Terkait Masjid Istiqlal, Nasaruddin sebut tempat ini sebagai rumah ibadah yang ramah bagi semua kalangan. Ia menyampaikan bahwa Istiqlal telah menyiapkan sejumlah fasilitas bagi penyandang disabilitas, mulai dari jalur penuntun bagi disabilitas netra, kursi roda, lift khusus, ruang depan bagi difabel, hingga layanan bahasa isyarat dalam pelaksanaan khutbah.

Selain itu, Istiqlal juga memiliki toilet khusus, tempat mandi khusus, klinik 24 jam, dan ruang pendukung bagi jamaah yang membutuhkan layanan kesehatan.

Menag menyebut fasilitas tersebut sebagai bagian dari ikhtiar menjadikan rumah ibadah benar-benar hadir untuk semua umat, termasuk penyandang disabilitas, ibu menyusui, anak-anak, dan jamaah yang sedang sakit.

Rencana Penguatan Fasilitas Tambahan

Tidak berhenti di situ, Nasaruddin juga menyampaikan rencana penguatan fasilitas tambahan, termasuk pembangunan lift khusus dari sektor selatan dan penyediaan kamar tamu bagi penyandang disabilitas beserta pendampingnya. Fasilitas kamar tersebut disiapkan untuk membantu jamaah dari luar daerah yang memiliki keperluan dengan Kementerian Agama maupun Masjid Istiqlal.

“Saya ingin menjadikan Istiqlal ini sebagai contoh bagi pelayanan terhadap kelompok difabel,” tegas Menag.

Dia juga mengapresiasi kegiatan malam 1 Muharram yang diisi dengan ibadah, mulai dari salat isya berjamaah, salat sunah, tahajud, witir, muhasabah, hingga salat subuh berjemaah. Ia menyebut rangkaian ibadah tersebut sebagai bentuk kesadaran spiritual dalam menyambut tahun baru Islam.

“Jangan hanya menjemput 1 Januari dengan mabuk-mabukan, tetapi jemputlah 1 Muharram dengan penuh kesadaran,” pungkas Menag.

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas. (Liputan6.com/Triyasni)

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya