Rupiah Dibuka Loyo terhadap Dolar AS Hari Ini

Rupiah akan bergerak di kisaran 17.690-17.728 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu, (17/6/2026),

oleh Agustina MelaniTira SantiaDiterbitkan 17 Juni 2026, 11:15 WIB
Petugas menunjukkan uang rupiah di penukaran uang, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah dibuka lesu terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu pagi, (17/6/2026). Namun, rupiah diprediksi berpeluang menguat hari ini. Prediksi pergerakan rupiah terhadap dolar AS hari ini dibayangi tekanan terhadap dolar AS yang mulai mereda karena optimisme pelaku pasar yang meningkat terhadap stabilitas geopolitik global.

Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turun 13 poin atau 0,07% ke 17.738 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.725.

Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi, menuturkan rupiah akan bergerak fluktuatif tetapi berpotensi ditutup menguat pada rentang Rp 17.690 hingga Rp 17.728 per dolar AS. Proyeksi tersebut muncul setelah tekanan terhadap dolar AS mulai mereda akibat meningkatnya optimisme pelaku pasar terhadap stabilitas geopolitik global. 

"Untuk perdagangan Rabu, 17 Juni 2026, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang  Rp 17.690-Rp 17.728," ujar Ibrahim kepada media.

Adapun sebelumnya pada perdagangan Selasa, 16 Juni 2026, rupiah ditutup melemah 19 poin ke level Rp 17.725 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp 17.708 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, mata uang rupiah sempat menguat sekitar 5 poin sebelum akhirnya berbalik tertekan menjelang penutupan pasar.

Ibrahim menuturkan, faktor utama yang mendukung prospek penguatan rupiah adalah pengumuman Washington dan Teheran terkait kerangka kerja perdamaian yang akan mengakhiri konflik kedua negara serta membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Kesepakatan awal tersebut dinilai mampu menurunkan risiko gangguan pasokan energi global yang selama ini menjadi kekhawatiran investor. Rencana penandatanganan resmi pada akhir pekan ini juga memicu pergeseran dana ke aset berisiko dan mengurangi permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven.

Sentimen Positif

Pegawai menunjukkan mata uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sentimen positif semakin kuat setelah harga minyak mentah Brent anjlok ke level terendah dalam tiga bulan terakhir. Penurunan harga energi dipandang dapat mengurangi tekanan inflasi global dan memberikan ruang yang lebih besar bagi pemulihan ekonomi di berbagai negara.

Di sisi lain, pasar saham global bergerak menguat karena investor menyambut baik prospek biaya energi yang lebih rendah. Meski demikian, pasar masih menunggu kepastian mengenai implementasi perjanjian tersebut karena kedua negara menyebutkan bahwa gencatan senjata permanen masih harus melalui proses negosiasi lanjutan.

"Minyak mentah Brent jatuh ke level terendah tiga bulan pada hari Senin, sementara ekuitas global menguat karena ekspektasi bahwa biaya energi yang lebih rendah dapat mengurangi tekanan inflasi," ujarnya.

Fokus Pasar Beralih ke Kebijakan Bank Sentral

Petugas bank menghitung uang dollar AS di Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selain perkembangan geopolitik, pergerakan rupiah juga akan dipengaruhi oleh keputusan sejumlah bank sentral utama dunia yang dijadwalkan berlangsung pekan ini.

Bank Sentral Jepang (BOJ) telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 1,0%, level tertinggi dalam 31 tahun. Kebijakan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya normalisasi moneter dan pengendalian inflasi di Jepang.

Sementara itu, Bank Cadangan Australia memutuskan mempertahankan suku bunga di level 4,35% setelah melakukan tiga kali kenaikan berturut-turut. Keputusan tersebut menunjukkan sikap hati-hati otoritas moneter terhadap perkembangan ekonomi global.

"Para pedagang kini menunggu pengumuman kebijakan dari Federal Reserve AS dan Bank of England akhir pekan ini. Pasar akan mengamati dengan cermat komentar dari Ketua Fed Kevin Warsh untuk mendapatkan petunjuk tentang arah suku bunga AS di masa mendatang," pungkasnya. 

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya