Liputan6.com, Jakarta - Pasar kripto bergerak beragam pada perdagangan Selasa (16/6/2026) di tengah aksi ambil untung yang terjadi pada sejumlah aset digital utama seperti Bitcoin, Ether, dan Solana. Pelaku pasar tampak masih berhati-hati menanti kepastian penandatanganan kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berlangsung pada 19 Juni di Swiss.
Sentimen global meski membaik setelah munculnya kabar kesepakatan antara kedua negara, pergerakan Bitcoin (BTC) belum menunjukkan respons yang sekuat pasar saham maupun komoditas. Kondisi ini mencerminkan sikap wait and see investor terhadap keberlanjutan perdamaian yang masih menyisakan sejumlah ketidakpastian.
Advertisement
Mengutip CoinDesk.com, Rabu (17/6/2026) harga Bitcoin sempat menembus level US$ 67.000 atau Rp 1,18 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.740) pada Senin malam sebelum kembali terkoreksi ke bawah US$ 66.000 atau Rp 1,17 miliar. Pada perdagangan Selasa, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$ 65.845 atau naik tipis 0,3% dalam 24 jam terakhir dan menguat 4,8% dalam sepekan.
Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin sempat menyentuh level tertinggi US$ 67.217 sebelum mengalami tekanan jual. Kondisi tersebut menunjukkan, investor masih belum sepenuhnya yakin untuk meningkatkan eksposur terhadap aset kripto meski sentimen makro mulai membaik.
Sementara itu, Ether mencatat kinerja yang lebih kuat dengan kenaikan 2,8% menjadi US$ 1.764 atau Rp 31,28 juta. Dalam sepekan, aset kripto terbesar kedua tersebut telah menguat 5,8%.
Kripto lain juga bergerak positif. Solana naik 3,2% ke level US$ 73, XRP menguat 3,2% menjadi US$ 1,22, sedangkan token HYPE milik Hyperliquid memimpin penguatan kelompok aset digital utama dengan lonjakan 6,3% ke posisi US$ 69.
Pergerakan tersebut terjadi setelah Presiden AS Donald Trump dan Wakil Presiden JD Vance menandatangani salinan elektronik nota kesepahaman dengan Iran. Trump juga menyatakan, Selat Hormuz yang telah dibuka sebagian akan dibuka sepenuhnya pada Jumat mendatang.
Pasar Menunggu Kepastian Penandatanganan Kesepakatan
Membaiknya hubungan AS-Iran mendorong perubahan signifikan pada sentimen pasar global. Harga minyak mentah Brent turun ke bawah US$ 83 per barel setelah mencatat penurunan harian terbesar dalam lebih dari dua pekan.
Di pasar saham, indeks S&P 500 melonjak 1,7% pada Senin, sementara Nasdaq 100 melesat 3,1%. Namun, Bitcoin belum menunjukkan pola kenaikan yang sama dengan aset berisiko lainnya.
Co-Founder dan COO Axis, Jimmy Xue, menilai respons Bitcoin yang relatif datar menunjukkan pelaku pasar belum sepenuhnya menerima reli pemulihan yang terjadi saat ini. Menurut dia, pasar masih menyimpan keraguan karena ini merupakan upaya gencatan senjata ketiga antara kedua negara.
Selain itu, Trump juga mengingatkan kesepakatan dapat dibatalkan apabila Iran tidak menyetujui penghentian program nuklirnya. Xue menambahkan, banyak trader tampaknya memilih menunggu penandatanganan resmi perjanjian pada 19 Juni sebelum memberikan penilaian terhadap dampak jangka panjang kesepakatan tersebut terhadap pasar keuangan global, termasuk kripto.
Arus Dana ETF dan Keputusan Bank Sentral Jadi Penentu
Selain faktor geopolitik, dinamika permintaan terhadap Bitcoin juga menjadi perhatian investor. ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat sebelumnya mengalami arus keluar dana selama empat pekan berturut-turut dengan total sekitar US$ 5,4 miliar atau Rp 95,7 triliun.
Bahkan dalam salah satu pekan, arus keluar dana hampir mencapai US$ 3,4 miliar atau Rp 60,30 triliun, menjadikannya salah satu periode penarikan terbesar sejak produk tersebut diluncurkan. Meski tren pelemahan arus dana mulai berhenti, investor institusi dinilai belum kembali masuk secara signifikan.
Di sisi lain, terdapat sinyal positif berupa meningkatnya perpindahan Bitcoin dari bursa ke dompet penyimpanan dingin (cold storage). Fenomena ini berpotensi mengurangi pasokan yang tersedia di pasar apabila permintaan kembali meningkat.
Calon Kepala Franklin Crypto di Franklin Templeton, Chris Perkins, menilai kondisi saat ini tetap konstruktif bagi aset berisiko termasuk kripto. Menurut dia, setelah IPO SpaceX yang sempat menyedot sebagian likuiditas investor ritel, membaiknya kondisi makro dapat mendorong kembalinya minat investasi ke pasar kripto.
Selain itu, pasar juga menantikan perkembangan regulasi melalui pembahasan Undang-Undang CLARITY yang bertujuan memperjelas status aset digital sebagai sekuritas atau komoditas. Dalam jangka pendek, perhatian investor akan tertuju pada keputusan suku bunga sejumlah bank sentral, termasuk Federal Reserve, yang bersama penandatanganan kesepakatan AS-Iran akan menjadi faktor utama penentu arah Bitcoin selanjutnya.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.