Liputan6.com, Jakarta - Pukul 09.00 pagi, warung Ayam Goreng Rempah Bu Yayuk Condongcatur masih tampak lengang. Deretan kursi dan meja belum terisi pengunjung. Seorang pria muda terlihat sibuk menurunkan bahan-bahan masakan dari mobil, lalu menatanya satu per satu untuk persiapan berjualan.
“Biasanya mulai ramai pas jam makan siang,” ujarnya saat dijumpai tim Liputan6.com pada Rabu (10/6/2026).
Advertisement
Pria muda itu adalah Laode Aryangga (26) atau yang akrab disapa Angga, ia adalah salah satu founder Ayam Goreng Rempah Bu Yayuk. Di sela kesibukannya menyiapkan dagangan, ia duduk sejenak untuk bercerita tentang perjalanan usaha yang dirintisnya. Dari warung yang pagi itu masih sunyi, Angga mengenang bagaimana Ayam Goreng Rempah Bu Yayuk tumbuh hingga memiliki 4 cabang di Yogyakarta.
Berawal dari Sulit Cari Kerja
Kisah Ayam Goreng Rempah Bu Yayuk bermula saat Angga dan Fajar Ramadan sedang berjuang mencari pekerjaan. Berkali-kali mengirim lamaran, keduanya belum juga menemukan pekerjaan yang cocok. Di tengah situasi itu, keduanya mulai memikirkan jalan lain. Jika sulit mendapatkan pekerjaan, mengapa tidak mencoba menciptakan pekerjaan sendiri?
Dari situ, kemudian berkembang menjadi obrolan yang semakin serius. Angga teringat pada resep ayam goreng rempah yang selama ini dimasak ibundanya di rumah.
“Awalnya yang bikin berdua, saya sama Fajar partneran. Waktu itu kita sama-sama susah cari kerja. Terus kepikiran gimana kalau bikin warung makan. Kebetulan ayam goreng rempah ini sudah ada resepnya dari keluarga saya,” tutur Angga.
Jika Angga menyumbangkan resep keluarga sebagai modal utama usaha, Fajar menghadirkan ide dengan konsep free flow, tempat pelanggan bisa mengambil nasi sendiri, menikmati refill nasi sepuasnya, dan mengisi ulang es teh tanpa biaya tambahan.
Dari pertemuan dua gagasan itulah lahir Ayam Goreng Rempah Bu Yayuk.
Menemukan Ceruk Pasar Ayam Goreng Rempah
Di tengah maraknya bisnis menu ayam di Yogyakarta, Angga dan Fajar memilih fokus pada ayam goreng rempah. Menurut Angga, keputusan tersebut didasarkan pada keyakinan bahwa ayam goreng rempah memiliki cita rasa yang khas namun belum banyak pemain yang benar-benar fokus menggarap segmen tersebut.
"Pasar ayam goreng rempah menurut kami belum ada yang kuat. Kalau ayam geprek kan sudah banyak yang besar. Sedangkan ayam goreng rempah belum ada yang benar-benar spesial," katanya.
Ayam Goreng Rempah Bu Yayuk sendiri mulai dirintis pada Januari 2025. Di masa-masa awal itu, keduanya masih dibayangi rasa ragu. Namun di balik kekhawatiran itu, mereka tetap melangkah.
“Pas awal-awal dulu sepi, kepikirannya kayak waduh gimana yaa, bisa berhasil enggak yaa. Tapi Alhamdulillah sampe sekarang masih lancar,” ujarnya.
Perlahan, usaha yang awalnya berjalan pelan mulai menemukan momentumnya. Memasuki Ramadan 2025, suasana warung berubah drastis. Antrean pelanggan mengular, dan warung yang sebelumnya lengang mendadak dipenuhi pembeli.
“Waktu puasa tahun lalu kita kaget. Yang sebelumnya sepi, tiba-tiba banyak yang antre. Sampai kita mikir ini antre apa sih? Ternyata memang pada antre makan di sini,” kenang Angga sambil tertawa kecil.
Ternyata, salah satu ulasan pelanggan tentang Ayam Goreng Rempah Bu Yayuk sempat viral di TikTok. Dari satu konten itu, nama warung ini mulai menyebar lebih luas dan dikenal, terutama di kalangan anak muda.
Harga yang Ramah di Kantong
Sejak awal, target pasar mereka adalah mahasiswa. Karena itu, harga dan konsep menu dibuat tetap ramah di kantong, tanpa mengurangi pengalaman makan yang ditawarkan.
Untuk paket ayam, pelanggan bisa memilih dada atau paha atas dengan harga sekitar Rp22 ribu. Paket tersebut sudah termasuk nasi sepuasnya, es teh sepuasnya, serta dua pilihan sambal, yakni sambal bawang dan sambal ijo. Ada juga paket telur dadar seharga sekitar Rp14 ribu bagi yang ingin pilihan lebih sederhana.
Ayam goreng rempah dengan bumbu yang meresap, sambal pedas yang nikmat, nasi dan es teh yang bisa diambil sepuasnya, membuat pengalaman makan terasa lebih leluasa. Belum lagi, tak perlu khawatir jika kepedasan karena es teh selalu siap diisi ulang. Siapa yang tidak tertarik?
Di antara menu yang tersedia, paket paha atas menjadi salah satu yang paling banyak dipesan. Jukut goreng pun kerap menjadi favorit pelanggan sebagai pelengkap.
Hal tersebut juga dirasakan oleh Kina (28) karyawan swasta, pengalaman makan di Ayam Goreng Rempah Bu Yayuk meninggalkan kesan yang cukup kuat sejak kunjungan pertamanya di cabang Tamsis. Aroma ayam goreng yang baru matang dan penyajian yang masih hangat menjadi hal yang paling ia ingat.
“Dulu cobain di Tamsis dan langsung jadi favoritku. Disajinya hangat banget, fresh dari penggorengan, terus dapat dua sambal,” katanya.
Selain rasa, ia juga merasa sistem pembayaran yang digunakan cukup praktis. “Sekarang sudah jarang pakai cash, jadi QRIS itu poin plus banget.
QRIS BRI Permudah Transaksi
Ya, sejak pertama kali beroperasi, usaha ini sudah menggunakan QRIS sebagai metode pembayaran. Angga mengaku, pilihan jatuh pada QRIS BRI karena proses pendaftarannya yang mudah dan praktis.
“Dari awal kita pakai QRIS. Waktu itu milih QRIS BRI karena pendaftarannya simpel,” ujar Angga.
Menurutnya, kehadiran QRIS kini menjadi kebutuhan penting bagi pelaku usaha kuliner. Perubahan perilaku pelanggan yang semakin jarang menggunakan uang tunai membuat transaksi non-tunai menjadi pilihan utama.
“Cash sekarang malah lebih jarang dibanding QRIS. Jadi lebih gampang juga karena enggak perlu kembalian,” katanya.
Selain memudahkan pelanggan, penggunaan QRIS juga membantu pengelolaan keuangan usaha menjadi lebih rapi. Setiap transaksi tercatat secara otomatis sehingga lebih mudah dicek ketika terjadi selisih pencatatan.
“QRIS membantu usaha karena pengeluaran dan pemasukan lebih jelas. Ada log transaksinya, jadi kalau ada yang salah bisa langsung dilihat,” jelasnya.
Di sisi operasional, Angga juga memanfaatkan aplikasi BRImo untuk berbagai kebutuhan usaha, mulai dari transfer hingga pembayaran tagihan listrik. Menurutnya, kemudahan layanan digital banking ikut mendukung kelancaran aktivitas harian bisnis.
KUR BRI Dorong Usaha hingga Kini Punya 4 Cabang
Seiring pertumbuhan usaha yang terus meningkat, pada Maret lalu Bu Yayuk juga memperoleh fasilitas KUR BRI senilai Rp300 juta dengan tenor empat tahun untuk pengembangan usaha.
“Mungkin karena sudah tahu kalau BRI daftarnya gampang. QRIS juga BRI, jadi sekalian saja,” ujar Angga.
Dukungan layanan perbankan tersebut turut membantu pengembangan usaha mereka. Saat ini, dalam kurun waktu sekitar 17 bulan sejak berdiri, Ayam Goreng Rempah Bu Yayuk telah berkembang menjadi empat titik operasional, termasuk cabang di Condongcatur, Babarsari, Demangan (khusus online), serta cabang terbaru di kawasan UII. Selain itu, layanan mereka juga tersedia melalui platform online.
Dimulai dari satu outlet di Condongcatur, usaha ini sempat membuka cabang di Tamsis sebelum akhirnya tutup. Kini, dengan empat titik layanan, pertumbuhan usaha mereka terus berlanjut dan semakin stabil.
Angga menyebut, perkembangan usaha saat ini telah mencapai sekitar 30 persen dibandingkan awal berdiri. Dalam satu hari, Angga mengaku mampu menjual 500 porsi sehari.
Siapakah Sosok Bu Yayuk?
Terlepas dari itu, siapakah sosok Bu Yayuk? Nama Bu Yayuk mudah membuat orang berasumsi bahwa sosok tersebut adalah pemilik resep ayam goreng rempah yang menjadi andalan warung ini. Dugaan itu ternyata tidak tepat.
Nama yang kini terpampang di depan warung tersebut bukanlah nama anggota keluarga Angga maupun Fajar. Keduanya sengaja memilih nama Bu Yayuk karena ingin menghadirkan kesan sosok ibu yang hangat, ramah, dan dekat dengan banyak orang.
Inspirasi nama itu justru datang dari masa sekolah mereka di SMA Negeri 9 Yogyakarta. Bu Yayuk adalah nama seorang guru yang meninggalkan kesan baik bagi keduanya, hingga akhirnya diabadikan menjadi identitas usaha yang mereka bangun bersama.
"Nama Bu Yayuk sebenarnya enggak ada sangkut pautnya sama keluarga kami," kata Angga sembari tertawa kecil.
"Saya sama Fajar kan satu SMA di SMA 9 Yogyakarta. Waktu itu kami ingin pakai nama yang identik dengan sosok ibu yang baik hati dan ramah. Nah, Bu Yayuk ini sebenarnya nama guru kami waktu SMA."
Di penghujung cerita, Angga berharap Bu Yayuk dapat terus berkembang dan memberi manfaat bagi banyak orang yang terlibat di dalamnya.
“Harapannya semoga usaha ini lancar terus dan bisa menjadi berkah bagi orang-orang yang terlibat di usaha ini,” pungkasnya.
KUR BRI Dorong UMKM Tumbuh
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus memperkuat perannya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR), termasuk bagi pelaku usaha mikro di sektor kuliner yang terus berkembang, seperti Ayam Goreng Rempah Bu Yayuk di Yogyakarta.
Sebagai bank yang berfokus pada pemberdayaan UMKM, BRI konsisten memperluas akses pembiayaan untuk meningkatkan produktivitas, menciptakan lapangan kerja, sekaligus memperkuat sektor riil sebagai fondasi perekonomian nasional.
Komitmen tersebut tercermin dari realisasi penyaluran KUR BRI sepanjang Januari hingga Mei 2026 yang mencapai Rp84,36 triliun. Nilai tersebut setara dengan 46,87 persen dari total alokasi KUR BRI tahun 2026 sebesar Rp180 triliun.
Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan, sebagian besar pembiayaan tersebut disalurkan ke sektor-sektor produktif yang berdampak langsung pada aktivitas ekonomi masyarakat.
“Mayoritas penyaluran tersebut diarahkan ke sektor-sektor produktif yang memiliki dampak langsung terhadap aktivitas ekonomi masyarakat, dengan porsi mencapai 67,18 persen dari total KUR yang telah disalurkan,” ujarnya.
Salah satu pelaku usaha yang merasakan manfaat akses pembiayaan ini adalah Ayam Goreng Rempah Bu Yayuk di Yogyakarta. Usaha kuliner yang dirintis dari skala kecil tersebut kini berkembang menjadi beberapa cabang dalam waktu relatif singkat, didukung oleh kemudahan akses permodalan bagi pelaku UMKM.