AS-Iran Berdamai, Harga Pertamax Seharusnya Turun

Kesepakatan damai AS-Iran memicu penurunan harga minyak dunia. Pengamat ekonomi UGM menilai pemerintah semestinya segera menurunkan harga BBM Pertamax.

oleh Maulandy Rizky Bayu KencanaDiterbitkan 15 Juni 2026, 15:45 WIB
Harga BBM jenis Pertamax naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya mulai 10 Juni 2026. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Harga Pertamax (RON 92) sebagai BBM nonsubsidi diramal bakal kembali terkena penyesuaian. Hal ini menyusul kabar bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran telah mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik.

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menilai jika perdamaian AS-Iran benar-benar terealisasi, pemerintah seharusnya memutuskan untuk menurunkan harga BBM nonsubsidi. Langkah ini sejalan dengan tren harga minyak dunia yang kini mulai terpangkas.

"Jadi kalau perdamaian AS-Iran terealisasi dan kemudian menurunkan harga minyak dunia, maka pemerintah mestinya akan menurunkan juga harga BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax," ujar Fahmy kepada Liputan6.com, Senin (15/6/2026).

Selain harga minyak dunia, Fahmy menyebut beberapa indikator lain yang semestinya menjadi acuan pemerintah untuk segera menurunkan harga BBM. Mulai dari penguatan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS, hingga angka inflasi yang masih terjaga.

"Maka mestinya pemerintah menurunkan harga BBM, termasuk Pertamax. Hanya kapan dia akan menurunkannya itu yang saya tidak tahu," imbuh dia.

Menurutnya, sangat mungkin penyesuaian harga BBM terbaru segera dilakukan. Hal ini berkaca pada pengumuman kenaikan harga BBM yang dilakukan oleh Pertamina dan badan usaha (BU) swasta memasuki pertengahan bulan lalu.

"Kalau biasanya kan (penyesuaian harga BBM diumumkan per) tanggal 1, tapi kemarin menaikkan Pertamax tanggal 10 Juni, jadi kan tidak konsisten juga. Jadi yang tahu persis ya Pak Bahlil," ucap Fahmy.

 

Waspadai Ketidakpastian Kebijakan AS

Presiden Amerika Serikat Donald Trump di New York pada 22 Mei 2026. (Dok. AP/Ryan Murphy)

Hanya saja, Fahmy mengingatkan agar tidak terlalu terlena oleh kabar perdamaian AS-Iran tersebut. Pasalnya, Presiden AS Donald Trump kerap mengambil keputusan yang tidak pasti di tengah dinamika geopolitik ini.

"Masalahnya, setiap kali ada rencana perdamaian, maka harga minyak turun. Namun, jika ada ancaman serangan lagi, harga akan naik lagi. Jadi ini faktor yang tidak bisa dihitung secara pasti," ungkap dia.

Namun, jika kedua negara telah mencapai kesepakatan final, ia berharap harga Pertamax maupun BBM nonsubsidi lain di Tanah Air bisa segera turun.

"Karena memang dalam penetapan harga BBM itu berdasarkan mekanisme pasar, bisa naik bisa turun. Tergantung variabel yang menentukan tadi, utamanya adalah harga minyak dunia," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya