Liputan6.com, New Delhi - India menghadapi kemarahan publik setelah tiga pelaut asal negara itu tewas dalam serangan Amerika Serikat (AS) terhadap sebuah kapal tanker minyak komersial. Insiden tersebut memperburuk hubungan India dan AS yang dalam beberapa waktu terakhir diwarnai sejumlah ketegangan diplomatik.
Peristiwa itu terjadi pada Rabu (10/6) pagi ketika M/T Settebello melintasi Teluk Oman sambil mengangkut minyak Iran. Sebuah pesawat militer AS menembakkan amunisi presisi ke ruang mesin kapal, memicu kebakaran dan kepulan asap tebal yang terlihat dari kejauhan. Serangan itu juga memicu operasi penyelamatan berskala besar.
Advertisement
Tiga awak kapal yang ditemukan tewas setelah serangan terhadap kapal berbendera Palau tersebut menjadi pelaut pertama yang dipastikan meninggal dunia dalam operasi militer AS untuk memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran. Kematian mereka memicu kekhawatiran di India bahwa warganya menjadi korban dalam konflik yang tidak melibatkan negara itu secara langsung.
Militer AS menyatakan serangan dilakukan setelah awak kapal berulang kali mengabaikan instruksi pasukan AS yang menjalankan blokade tersebut.
Di tengah meningkatnya kekhawatiran atas keselamatan para pelaut India yang bekerja di kawasan Teluk, New Delhi mendesak Washington menghentikan serangan terhadap kapal-kapal komersial.
Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar telah menghubungi Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio untuk menyampaikan protes resmi setelah serangan terhadap tiga kapal dagang yang sebagian besar diawaki warga India di Teluk Oman menewaskan tiga orang.
"Berbicara dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio malam ini," tulis Jaishankar dalam unggahannya di platform X pada Sabtu (13/6) dini hari.
"Saya kembali menyampaikan protes keras India atas serangan Angkatan Laut AS di Teluk yang menewaskan tiga pelaut India. Tindakan mematikan terhadap pelayaran komersial seperti ini tidak dapat dibenarkan."
Percakapan tersebut berlangsung setelah pemerintah India memanggil seorang diplomat senior AS di New Delhi untuk kedua kalinya dalam dua hari terakhir guna meminta penjelasan terkait insiden tersebut.
Momen ini dinilai sangat sensitif karena terjadi hanya beberapa hari sebelum Perdana Menteri India Narendra Modi dijadwalkan bertemu Presiden AS Donald Trump di sela-sela KTT G7 di Prancis pekan depan.
Modi sendiri belum memberikan komentar publik terkait kematian ketiga pelaut tersebut. Namun, sejumlah serikat pekerja mulai mendesak pemerintah India agar bersikap lebih tegas terhadap Washington.
"Ketika militer asing membunuh pekerja India di perairan internasional, pemerintah India harus bersuara dengan lantang dan tegas," demikian pernyataan Centre of Indian Trade Unions pada Jumat (12/6).
Kementerian Luar Negeri India menyebut sebagian besar dari 28 awak kapal yang berada di atas M/T Settebello merupakan warga negara India.
Insiden itu bukan satu-satunya yang melibatkan pelaut India dalam beberapa hari terakhir.
Sehari sebelumnya, sebanyak 24 pelaut India harus dievakuasi dari kapal tanker minyak komersial M/T Marivex setelah kapal tersebut diserang pasukan AS di Teluk Oman.
Kemudian pada Kamis (11/6), pasukan AS kembali menembakkan rudal ke ruang mesin kapal tanker M/T Jalveer yang berbendera Guinea-Bissau karena diduga mengangkut minyak Iran. Kapal tersebut juga diawaki warga India, meski seluruh awak dilaporkan selamat.
Keluarga Korban Menuntut Penjelasan
Di tengah polemik diplomatik yang berkembang, keluarga korban masih berusaha memahami bagaimana orang-orang yang mereka cintai kehilangan nyawa.
"Saya hanya memiliki satu tuntutan, yaitu agar jenazah anak saya dipulangkan," kata Rajesh Sharma, ayah salah satu pelaut yang tewas, kepada kantor berita ANI.
"Saya ingin tahu apa yang terjadi pada saat-saat terakhir hidupnya. Apakah ada upaya untuk menyelamatkannya? Dalam keadaan seperti apa tiga awak kapal dari negara kami bisa meninggal dunia?"
India merupakan salah satu pemasok tenaga kerja pelaut niaga terbesar di dunia. Menurut Manoj Yadav, Sekretaris Jenderal Forward Seamen's Union (FSUI), lebih dari 300.000 pelaut India bekerja di berbagai kapal yang beroperasi di seluruh dunia.
Banyak dari mereka bekerja di kapal berbendera asing yang berlayar di kawasan Teluk dan Timur Tengah sehingga sangat rentan terdampak ketika konflik regional meningkat.
Yadav mengatakan serangan-serangan terbaru telah memicu kepanikan dan ketakutan di kalangan pelaut India. Banyak di antara mereka juga masih berada di kawasan Teluk sejak konflik meletus.
Ia mempertanyakan alasan di balik serangan terhadap kapal komersial yang tidak membawa persenjataan.
"Jika memang diperlukan, mereka bisa dengan mudah menaiki dan menahan kapal tersebut," ujarnya.
Partai-partai oposisi India menjadikan insiden ini sebagai ujian bagi efektivitas diplomasi Modi.
"Perdana Menteri, yang berulang kali menampilkan hubungan pribadinya dengan Presiden Donald Trump sebagai keberhasilan diplomatik, tidak bisa menghindari tanggung jawab ketika hubungan itu gagal melindungi nyawa warga India," demikian pernyataan Partai Kongres Nasional India.
Sementara itu, Menteri Pelabuhan dan Perkapalan India menyatakan pemerintah akan terus mendampingi keluarga korban.
"Pemerintah berdiri bersama keluarga yang berduka," ujarnya.