Liputan6.com, Jakarta - Calon konsumen sepeda motor di Indonesia, saat ini tidak hanya mempertimbangkan desain dan performa saja untuk memilih satu kendaraan. Sistem rem, sebagai teknologi pendukung keselamatan, kini juga menjadi faktor penting saat memilih roda dua baru.
Saat ini, dua teknologi rem yang paling banyak digunakan di sepeda motor adalah CBS (Combi Brake System) dan ABS (Anti-lock Braking System). Meski sama-sama dirancang untuk meningkatkan keselamatan, keduanya memiliki cara kerja yang berbeda.
Advertisement
Secara umum, CBS berfokus di pembagian tenaga pengereman yang lebih merata, antara roda depan dan belakang.
Sementara ABS hadir dengan teknologi yang mampu mencegah roda terkunci, ketika pengendara melakukan pengereman mendadak.
Dengan begitu, masing-masing sistem memiliki karakteristik, keunggulan, dan keterbatasan tersendiri.
Disitat dari laman resmi Suzuki Indonesia, dari sisi cara kerja, CBS menghubungkan sistem pengereman depan dan belakang. Saat tuas rem belakang ditarik, sebagian gaya pengereman akan otomatis dialirkan ke roda depan sehingga distribusi pengereman menjadi lebih seimbang.
Sistem ini sangat membantu pengendara yang belum terbiasa melakukan pengereman rem depan dan belakang secara optimal.
Berbeda dengan CBS, ABS menggunakan sensor elektronik yang terus memantau putaran roda. Ketika sistem mendeteksi roda berpotensi terkunci akibat pengereman keras, ABS akan mengatur tekanan rem secara otomatis dalam hitungan milidetik.
Hasilnya, roda tetap berputar dan pengendara masih dapat mengendalikan arah motor untuk menghindari rintangan di depan.
Dalam penggunaan sehari-hari, CBS dinilai cukup efektif untuk kondisi lalu lintas perkotaan dengan kecepatan menengah, sekitar 40 hingga 60 km/jam.
Sistem ini membuat pengereman terasa lebih mudah dan stabil tanpa memerlukan teknik khusus.
Namun, ketika motor melaju dalam kecepatan tinggi atau melintasi jalan licin, CBS tidak memiliki kemampuan untuk mencegah roda terkunci jika rem ditekan terlalu keras.
Performa Pengereman ABS
Sedangkan ABS justru menunjukkan performa terbaik di situasi darurat dan kondisi jalan yang kurang ideal, seperti permukaan basah, berpasir, atau licin.
Teknologi ini membantu menjaga traksi ban sehingga risiko tergelincir dapat diminimalkan. Karena alasan tersebut, ABS banyak digunakan untuk motor sport, touring, hingga adventure yang membutuhkan tingkat keselamatan lebih tinggi.
Dari sisi biaya, motor yang menggunakan CBS umumnya dibanderol lebih terjangkau karena konstruksinya lebih sederhana dan biaya perawatannya tidak jauh berbeda dengan sistem rem konvensional.
Sebaliknya, motor berfitur ABS biasanya dijual sekitar Rp 3 juta hingga Rp 5 juta lebih mahal dibandingkan varian non-ABS atau CBS.
Meski demikian, banyak pengendara menganggap tambahan biaya tersebut sepadan dengan peningkatan keamanan yang ditawarkan.
Pada akhirnya, pilihan antara CBS dan ABS bergantung kepada kebutuhan, gaya berkendara, serta anggaran yang dimiliki.