Merawat Eksistensi Tradisi Sakral Mekare-kare

oleh Helmi FithriansyahDiterbitkan 12 Juni 2026, 15:25 WIB
Merawat Eksistensi Tradisi Sakral Mekare-kare
Dikenal dengan istilah Mekare-kare atau Mageret Pandan, Perang Pandan merupakan tradisi sakral suku Bali Aga di Desa Tenganan Pegringsingan, Kabupaten Karangasem, Bali. Acara yang digelar setiap tahun ini merupakan penghormatan kepada Dewa Indra (Dewa Perang). Peserta akan saling serang menggunakan ikat daun pandan berduri dan perisai rotan. Tradisi tahunan ini menjadi ajang melatih mental serta menguji ketangkasan para pemuda desa. Biasanya diselenggarakan pada bulan kalender lokal (sering jatuh pada kisaran bulan Juni) sebagai rangkaian dari festival keagamaan terbesar atau Usaba Sambah atau Sasih Sembah. Tradisi ini juga menjadi salah satu daya tarik budaya bagi wisatawan domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke Bali.
Anak laki-laki mengambil bagian dalam ritual tahunan "Perang Pandan" (pertarungan daun Pandan), yang secara lokal dikenal sebagai "Mekare-kare," untuk menghormati Indra, dewa perang Hindu, di Tenganan Pegringsingan, Bali pada Kamis 11 Juni 2026. (LANA PRIATNA/AFP)
Anak laki-laki mengambil bagian dalam ritual tahunan "Perang Pandan" (pertarungan daun Pandan), yang secara lokal dikenal sebagai "Mekare-kare," untuk menghormati Indra, dewa perang Hindu, di Tenganan Pegringsingan, Bali pada Kamis 11 Juni 2026. (LANA PRIATNA/AFP)
Penduduk desa mengambil bagian dalam ritual tahunan "Perang Pandan" " (pertarungan daun Pandan), yang secara lokal dikenal sebagai "Mekare-kare," untuk menghormati Indra, dewa perang Hindu, di Tenganan Pegringsingan, Bali pada Kamis 11 Juni 2026. (LANA PRIATNA/AFP)
Anak laki-laki mengambil bagian dalam ritual tahunan "Perang Pandan" (pertarungan daun Pandan), yang secara lokal dikenal sebagai "Mekare-kare," untuk menghormati Indra, dewa perang Hindu, di Tenganan Pegringsingan, Bali pada Kamis 11 Juni 2026. (LANA PRIATNA/AFP)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya