Volume Perdagangan Kripto Anjlok ke Titik Terendah 2 Tahun

Aktivitas trading kripto terus melemah di tengah ketidakpastian global. Namun, sebagian analis menilai kondisi ini bisa memicu reli jangka pendek.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 12 Juni 2026, 14:00 WIB
Ilustrasi kripto (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta - Aktivitas perdagangan aset kripto mengalami perlambatan signifikan. Firma analitik on-chain Santiment melaporkan volume perdagangan berbagai aset kripto utama, di luar stablecoin, telah turun ke level terendah dalam dua tahun terakhir.

Dikutip dari CoinMarketCap, Jumat (12/6/2026), laporan yang dirilis pada 11 Juni itu menunjukkan banyak investor memilih menahan diri untuk tidak melakukan transaksi secara agresif. Ketidakpastian ekonomi global, ketegangan geopolitik, serta gelombang likuidasi yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir disebut menjadi faktor utama yang menekan minat perdagangan.

Menurut Santiment, kondisi tersebut mencerminkan fase kapitulasi atau kelelahan pasar (market exhaustion), yakni situasi ketika pelaku pasar kehilangan keyakinan untuk membuka posisi baru.

Meski terdengar negatif, Santiment menilai kondisi seperti ini tidak selalu menjadi pertanda harga akan terus turun. Dalam beberapa siklus sebelumnya, periode kelelahan pasar justru sering menjadi awal munculnya reli pemulihan (relief rally).

Sementara itu, Bitcoin masih menunjukkan penguatan terbatas. Pada saat laporan diterbitkan, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$ 63.334 atau naik sekitar 3,05 persen dalam 24 jam terakhir.

Volume transaksi Bitcoin dalam sehari tercatat sekitar US$ 29,9 miliar. Adapun kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan berada di level US$ 2,26 triliun dengan total volume perdagangan harian sekitar US$ 79,3 miliar.

Di sisi lain, indeks Fear and Greed berada di angka 12 atau masuk kategori "Extreme Fear" (ketakutan ekstrem), menunjukkan sentimen investor masih sangat berhati-hati.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Ketidakpastian Global Bikin Investor Menepi

Ilustrasi kripto. (Foto by AI)

Santiment menilai kelelahan pasar terjadi ketika investor tidak lagi memiliki keyakinan kuat untuk mengambil posisi baru, baik membeli maupun menjual aset kripto.

Setelah berbulan-bulan menghadapi pergerakan harga yang fluktuatif, tekanan ekonomi global, serta berbagai ketegangan geopolitik, banyak investor ritel maupun institusi memilih menunggu kepastian sebelum kembali aktif bertransaksi.

Kondisi tersebut menciptakan efek berantai. Semakin rendah volume perdagangan, semakin sedikit pula minat investor baru untuk masuk ke pasar. Akibatnya, volume transaksi terus menyusut.

Data CoinGecko menunjukkan rata-rata volume perdagangan harian kripto sepanjang kuartal II 2025 turun 26,2 persen dibandingkan kuartal sebelumnya menjadi sekitar US$ 107,8 miliar.

Penurunan ini menjadi kuartal kedua berturut-turut yang mencatat pelemahan aktivitas perdagangan di pasar spot.

 

Apakah Penurunan Volume Jadi Sinyal Pemulihan?

Ilustrasi Kripto. (Foto By AI)

Merosotnya volume perdagangan memiliki dampak langsung terhadap likuiditas pasar.

Ketika jumlah pelaku pasar berkurang, selisih antara harga beli dan harga jual (spread) cenderung melebar. Selain itu, transaksi dalam jumlah besar dapat memengaruhi harga secara lebih signifikan dibandingkan saat likuiditas tinggi.

Akibatnya, berbagai sinyal teknikal yang biasanya digunakan trader menjadi kurang dapat diandalkan karena pergerakan harga terjadi dengan dukungan volume yang lebih kecil.

Saat ini dominasi Bitcoin berada di kisaran 56,3 persen. Angka tersebut menunjukkan aliran dana belum berpindah secara besar-besaran ke aset kripto alternatif atau altcoin.

Meski demikian, Santiment melihat sisi positif dari kondisi pasar saat ini. Menurut firma tersebut, periode volume perdagangan yang sangat rendah sering kali menjadi tanda bahwa tekanan jual mulai mereda karena sebagian besar investor yang ingin menjual sudah keluar dari pasar.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya