Liputan6.com, Jakarta - Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama dua hari berturut-turut yang membawa indeks kembali mendekati level psikologis 6.000 dinilai sebagai respons positif pasar terhadap berbagai langkah stabilisasi yang dilakukan otoritas. Salah satunya langkah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate.
Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana mengatakan, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% berhasil memberikan sentimen positif terhadap pasar keuangan domestik. Kebijakan tersebut turut mendorong penguatan rupiah yang sempat bergerak di bawah level 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Advertisement
"Kenaikan suku bunga acuan BI memberikan sinyal kuat kepada pasar bahwa otoritas serius menjaga stabilitas nilai tukar dan arus modal. Dampaknya terlihat dari penguatan rupiah yang kembali meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik di tengah ketidakpastian global," ujar Hendra, Kamis (11/6/2026).
Dia menuturkan, penguatan rupiah menjadi indikasi kebijakan moneter yang lebih ketat mampu meredam tekanan jangka pendek terhadap pasar keuangan Indonesia yang sebelumnya tertekan akibat keluarnya dana asing dan meningkatnya ketidakpastian global.
Meski demikian, Hendra mengingatkan, reli IHSG yang mencapai lebih dari 10% hanya dalam dua hari terakhir perlu disikapi secara hati-hati. Secara teknikal, kenaikan yang terlalu cepat umumnya diikuti aksi ambil untung oleh investor jangka pendek.
Hal itu tercermin dari masih terjadinya aksi jual bersih (net sell) investor asing sebesar Rp 2,9 triliun pada perdagangan terbaru. Kondisi tersebut menunjukkan investor global belum sepenuhnya kembali percaya terhadap prospek pasar Indonesia dalam jangka pendek.
"Penguatan yang terjadi saat ini masih lebih banyak ditopang oleh investor domestik. Selama arus dana asing belum kembali masuk secara konsisten, peluang terjadinya konsolidasi atau koreksi sehat setelah reli yang sangat cepat tetap perlu diwaspadai," kata dia.
Sentimen Eksternal
Selain faktor teknikal, sentimen eksternal juga masih menjadi sumber risiko utama bagi pergerakan pasar. Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi menjaga volatilitas harga energi dunia tetap tinggi, terutama jika terjadi gangguan distribusi melalui Selat Hormuz.
Di sisi lain, pelaku pasar juga masih menantikan arah kebijakan bank sentral utama dunia serta data inflasi AS yang akan menjadi petunjuk bagi langkah suku bunga The Federal Reserve (The Fed) ke depan. Kombinasi faktor-faktor tersebut dinilai dapat membuat investor cenderung mengambil posisi lebih defensif dalam beberapa hari mendatang.
Dari dalam negeri, kenaikan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax sempat memunculkan kekhawatiran terhadap daya beli masyarakat dan inflasi. Namun keputusan pemerintah mempertahankan harga BBM subsidi dan LPG bersubsidi dinilai berhasil meredakan kekhawatiran tersebut sehingga sentimen pasar kembali membaik.
Meski begitu, Hendra menilai dampak lanjutan dari suku bunga yang lebih tinggi tetap perlu diperhatikan. Biaya dana yang meningkat berpotensi memperlambat pertumbuhan kredit, meningkatkan risiko kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) pada sejumlah sektor, serta menekan konsumsi masyarakat apabila berlangsung dalam jangka waktu yang panjang.
Untuk perdagangan selanjutnya, Hendra memperkirakan peluang konsolidasi atau koreksi wajar lebih besar dibandingkan kelanjutan kenaikan tajam seperti yang terjadi dalam dua hari terakhir.
Penutupan IHSG 10 Juni 2026
Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tembus 5.900 pada perdagangan saham Rabu, (10/6/2026). Kenaikan IHSG hari ini di tengah seluruh sektor saham menghijau dan nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data RTI, IHSG hari ini ditutup melonjak 2,71% menjadi 5.902,37. Indeks saham LQ45 melambung 3,54% menjadi 589,47.
Sebagian besar indeks saham acuan kompak menghijau. Pada Rabu pekan ini, IHSG sempat menembus level tertinggi 5.942,94. Hal itu didukung 571 saham menguat sehingga topang IHSG. Pada awal sesi perdagangan, IHSG sempat melemah sehingga sentuh level terendah 5.677,96.
Di sisi lain, 148 saham melemah dan 96 saham diam di tempat.
Transaksi perdagangan saham cukup ramai. Tercatat total frekuensi perdagangan saham mencapai 3.097.682 kali dengan volume perdagangan saham 46,3 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 31,4 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah di kisaran 17.929.
11 sektor saham kompak menguat sehingga topang IHSG. Sektor saham transportasi naik 4,51%, dan catat kenaikan terbesar. Sektor saham teknologi menanjak 4,37% dan sektor saham properti mendaki 3,39%.
Selain itu, sektor saham energi menguat 1,73%, sektor saham basic naik 0,42%, sektor saham industri melompat 2,78%, sektor saham consumer nonsiklikal melejit 0,64%, sektor saham consumer siklikal bertambah 0,81%. Kemudian sektor saham kesehatan melambung 1,05%, sektor saham keuangan naik 2,42% dan sektor saham infrastruktur menguat 2,27%.