Liputan6.com, Jakarta - Pendiri sekaligus mantan CEO bursa kripto BitMEX, Arthur Hayes, mengungkapkan pandangannya mengenai alasan harga Bitcoin belum mampu melesat lebih tinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut Hayes, salah satu faktor utama yang menahan laju kenaikan Bitcoin adalah derasnya aliran modal ke sektor kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Akibatnya, likuiditas baru yang tercipta dari ekspansi pasokan dolar AS tidak sepenuhnya mengalir ke pasar aset kripto.
Advertisement
Dalam tulisan terbarunya, dikutip dari cryptopotato, Kamis (11/6/2026), Hayes mengaku selama ini meyakini bahwa pergerakan pasar kripto sangat dipengaruhi oleh likuiditas fiat atau uang konvensional. Namun, ia menyadari ada satu faktor penting yang sebelumnya kurang diperhitungkan, yakni ke mana likuiditas tersebut sebenarnya mengalir.
Menurut dia, secara teori Bitcoin seharusnya mencatat kinerja yang lebih kuat seiring meningkatnya jumlah uang beredar dalam beberapa tahun terakhir. Namun, sebagian besar modal justru mengalir ke sektor AI yang tengah berkembang pesat.
Hayes menyebut peluncuran publik chatbot AI ChatGPT pada November 2022 sebagai awal dari apa yang ia sebut sebagai "gelembung besar AI" atau great AI bubble.
Dalam periode yang sama, Bitcoin memang berhasil bangkit dari tekanan pasca-runtuhnya bursa kripto FTX. Harga aset digital terbesar di dunia itu naik dari sekitar US$ 15.000 menjadi sekitar US$ 125.000 pada Oktober 2025.
Saham AI Ungguli Bitcoin
Meski Bitcoin mencatat kenaikan signifikan, Hayes menilai performanya masih kalah dibandingkan aset-aset yang terkait dengan perkembangan AI.
Ia mencontohkan saham NVIDIA yang melonjak sekitar 11 kali lipat dalam periode yang hampir sama. Sementara itu, Bitcoin hanya naik sekitar tujuh kali lipat.
Menurut Hayes, keunggulan sektor AI semakin terlihat sejak akhir 2024. Pada saat yang sama, Bitcoin justru mulai kehilangan momentum dan kemudian mengalami koreksi tajam dari level tertingginya.
Hayes mengakui model analisis yang selama ini digunakannya terlalu berfokus pada jumlah likuiditas yang tercipta di sistem keuangan global. Ia berasumsi sebagian besar dana tersebut pada akhirnya akan masuk ke Bitcoin.
Namun, kenyataannya sektor AI membutuhkan modal yang sangat besar sehingga menyerap sebagian besar dana yang tersedia.
Ia menjelaskan bahwa industri AI membutuhkan investasi besar untuk pembangunan pusat data (data center), pembangkit listrik, chip khusus, serta berbagai infrastruktur pendukung lainnya.
Lonjakan belanja infrastruktur AI yang mulai terlihat pada 2024 dan meningkat pesat sepanjang 2025 menciptakan kebutuhan pendanaan dalam jumlah sangat besar.
AI Menyerap Hampir Seluruh Likuiditas Baru
Mengacu pada berbagai data yang dipublikasikan perusahaan-perusahaan terkait AI, Hayes memperkirakan sektor tersebut telah menerbitkan utang sekitar US$ 1,5 triliun sejak November 2022 hingga saat ini. Dari jumlah tersebut, sekitar US$ 1,3 triliun dihimpun sejak 2025 ketika pembangunan infrastruktur AI semakin agresif.
Menariknya, angka tersebut hampir sama dengan pertumbuhan pasokan uang beredar M2 di Amerika Serikat dalam periode yang sama, yang menurut Hayes juga bertambah sekitar US$ 1,5 triliun.
Berdasarkan perhitungan tersebut, ia menyimpulkan bahwa hampir seluruh likuiditas dolar AS yang baru tercipta terserap oleh sektor AI.
“AI sucked up all created dollars,” tulis Hayes.
Sementara itu, prospek jangka pendek Bitcoin masih menjadi perdebatan di kalangan analis. Analis pasar yang dikenal dengan nama Doctor Profit menilai Bitcoin saat ini telah memasuki tahap kelima dari enam fase siklus pasar bearish.
Menurut dia, fase tersebut biasanya ditandai dengan volatilitas tinggi dan tekanan psikologis yang besar bagi investor.