Hoaks Jadi Tantangan Besar Perluas Cakupan Imunisasi Anak

Hoaks menjadi salah satu tantangan dalam memperluas cakupan imunisasi anak. Simak selengkapnya!

oleh Adyaksa VidiDiterbitkan 10 Juni 2026, 19:00 WIB
Hoaks menjadi salah satu tantangan dalam memperluas cakupan imunisasi anak. (Liputan6.com/Fery Pradolo)

Liputan6.com, Jakarta - Hoaks menjadi satu tantangan besar dalam memperluas cakupan imunisasi anak di Indonesia. Itu sebabnya informasi keliru terkait vaksin harus diklarifikasi untuk mencegah masalah kesehatan yang lebih parah.

Hal ini disampaikan Dosen Kedokteran Anak Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Bambang Edi Susyanto, Sp.A., M.Kes. Ia menyebut masih terdapat kelompok yang aktif menyebarkan narasi anti-vaksin sehingga memengaruhi keputusan sebagian orang tua dalam memberikan imunisasi kepada anak.

"Masih banyak masyarakat yang terpengaruh oleh isu-isu yang mereka sebarkan, misalnya vaksin menyebabkan kecacatan, autisme, atau berbagai klaim lain yang tidak benar. Ada pula yang menggunakan pendekatan agama dengan menyebut vaksin haram dan sebagainya. Hal-hal seperti itu akhirnya memengaruhi keputusan orang tua untuk memberikan imunisasi kepada anak," ujarnya dilansir laman Kemdiktisaintek.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, dr. Bambang menekankan pentingnya penguatan edukasi kepada masyarakat. Menurutnya, peningkatan kesadaran orang tua merupakan langkah utama untuk mendorong cakupan imunisasi yang lebih baik sekaligus mencegah munculnya keraguan akibat informasi yang tidak tepat.

"Yang paling penting adalah edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat. Orang tua perlu memahami bahwa risiko penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi jauh lebih besar dibandingkan efek samping ringan yang mungkin muncul setelah vaksinasi. Ketika masyarakat memperoleh informasi yang benar, mereka akan lebih yakin untuk memberikan perlindungan terbaik bagi anak-anaknya melalui imunisasi," katanya menambahkan.

Selain hoaks, tantangan lain rendahnya cakupan imunisasi anak karena berbagai kondisi yang terjadi sejak masa pandemi.

"Dulu banyak orang tua yang takut keluar rumah ketika masa pandemi. Takut ke rumah sakit, takut ke puskesmas, termasuk takut membawa anak untuk imunisasi. Angka anak yang belum mendapatkan imunisasi juga merupakan angka kumulatif, sehingga kondisi pada masa pandemi ikut memengaruhi capaian imunisasi yang kita lihat saat ini," ujarnya.

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Melawan hoaks sama saja melawan pembodohan. Itu yang mendasari kami membuat Kanal Cek Fakta Liputan6.com pada 2018 dan hingga kini aktif memberikan literasi media pada masyarakat luas.

Sejak 2 Juli 2018, Cek Fakta Liputan6.com bergabung dalam International Fact Checking Network (IFCN) dan menjadi partner Facebook. Kami juga bagian dari inisiatif cekfakta.com. Kerja sama dengan pihak manapun, tak akan mempengaruhi independensi kami.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Ingin lebih cepat mendapat jawaban? Hubungi Chatbot WhatsApp Liputan6 Cek Fakta di 0811-9787-670.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya