Niat Puasa Tasua dan Asyura di Bulan Muharram Lengkap Tata Caranya, Simak Keutamaannya

Umat Islam perlu memahami niat puasa Tasua dan Asyura di bulan Muharram, lengkap dengan tata cara dan keutamaannya, agar meraih fadhilah dan faidahnya

oleh Nanik RatnawatiDiterbitkan 13 Juni 2026, 08:00 WIB
Ilustrasi Perempuan Berbuka Puasa Credit: Pexels.com

Liputan6.com, Jakarta - Mengetahui panduan serta niat puasa Tasua dan Asyura di bulan Muharram menjadi hal penting bagi setiap umat Islam yang ingin meraih keutamaannya. Dengan keutamaan yang besar, umat Islam akan memperoleh faidah berlipatganda.

Rasulullah SAW bersabda: “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulannya Allah, Muharam” (HR Muslim). Dalam riwayat llain Rasulullah bersabda, 'Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa tahun sebelumnya' (HR. Tirmidzi).

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid  dalam buku Keutamaan Asyura dan Bulan Muharram menjelaskan, puasa Tasu'a disyariatkan khusus bagi menyelisihi ibadah kaum Yahudi. Para ulama menetapkan pelaksanaan keduanya secara berturut-turut sebagai darjat puasa yang terbaik.

Kemantapan niat di dalam hati sebelum fajar menyingsing menjadi kunci utama kesempurnaan dan diterimanya puasa mulia ini di sisi Allah. Merujuk berbagai sumber kredibel, berikut ini adalah bacaan niat puasa Tasua dan Asyura, lengkap tata cara dan keutamaannya.

Bacaan Niat Puasa Tasu’a (9 Muharram)

Niat merupakan rukun yang membedakan ibadah puasa dari sekadar menahan lapar dan dahaga. Berikut lafal niat puasa Tasu’a yang dianjurkan:

Bacaan lengkap puasa Tasua teks Arab, Latin dan artinya:

Arab: نَوَيْتُ صَوْمَ تَاسُوعَاءَ لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma Tâsû’â-a lilâhi ta’âlâ.

Artinya: “Saya niat puasa Tasu’a karena Allah ta’âlâ.”

Bacaan Niat untuk “Esok Hari”

Jika niat diucapkan pada malam hari untuk puasa esok, lafal yang lebih lengkap adalah:

Arab: نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ التَّاسُوعَاءِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatit Tasû‘â lillâhi ta‘âlâ.

Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Tasu‘a esok hari karena Allah SWT.”

Niat Puasa Asyura (10 Muharram)

Bacaan lengkap puasa Asyura teks Arab, Latin dan artinya:

Arab: نَوَيْتُ صَوْمَ عَاشُورَاءَ لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma Âsyûrâ-a lilâhi ta’âlâ.

Artinya: “Saya niat puasa Asyura karena Allah ta’âlâ.”

Bacaan Niat untuk “Esok Hari”

Arab: نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ عَاشُورَاءَ لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatil âsyûrâ lillâhi ta‘âlâ.

Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Asyura esok hari karena Allah SWT.”

Waktu Niat Puasa Tasua dan Asyura

Niat puasa sunnah, termasuk Tasu’a dan Asyura, dapat dilafalkan mulai dari terbenamnya matahari hingga terbit fajar (yakni sepanjang malam sebelum hari puasa).

Namun, para ulama mazhab Syafi‘i juga membolehkan niat di siang hari sebelum matahari tergelincir ke barat (zawâl), dengan syarat belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar.

Jika niat dilakukan di siang hari, lafalnya disesuaikan menjadi:

Arab: نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ (التَّاسُوعَاءِ أَوْ عَاشُورَاءَ) لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnatit (Tasû‘âi auw âsyûrâ) lillâhi ta‘âlâ

Artinya: “Aku berniat puasa sunnah (Tasu’a atau Asyura) hari ini karena Allah SWT.” 

Tata Cara Puasa Tasu’a dan Asyura

Tidak ada perbedaan tata cara antara puasa Tasu’a dan Asyura dengan puasa sunnah lainnya, selain pada waktu pelaksanaannya. Tasu’a pada 9 Muharram, Asyura pada 10 Muharram.

Anjuran terbaik adalah melaksanakan keduanya secara berurutan. Sebagaimana disebutkan dalam Bimbingan Islam Seputar Bulan Muharram (Tim Bimbingan Islam, Yayasan Bimbingan Islam), dianjurkan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram sekaligus, tujuannya untuk menyelisihi kebiasaan orang Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 saja.(Lihat Bimbingan Islam Seputar Bulan Muharram, hlm. 9–10

Berikut ini adalah tata caranya:

  • Membaca niat pada malam hari (atau siang sebelum zawâl jika lupa).
  • Makan sahur sebelum imsak (sunnah, meskipun bukan syarat sah).
  • Menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari.
  • Menjaga lisan dan anggota tubuh dari perkataan dan perbuatan dosa, serta memperbanyak amalan saleh (dzikir, sedekah, dan membaca Al-Qur’an).
  • Berbuka tepat waktu dengan doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ. 

Keutamaan Puasa Tasu’a

Puasa Tasu’a (9 Muharram) secara khusus dianjurkan dengan beberapa hikmah yang sangat mendasar:

1. Menyelisihi Orang Yahudi

Ini adalah alasan paling kuat. Yahudi hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram (Asyura). Rasulullah ﷺ bersabda: “Puasalah kalian pada hari Asyura dan selisihilah orang-orang Yahudi, berpuasalah kalian sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.” (HR. Ahmad)

Dalam naskah Bimbingan Islam Seputar Bulan Muharram dijelaskan bahwa para ulama—termasuk Imam Syafi‘i, Imam Ahmad, dan Ishak bin Rahuyah—berpendapat dianjurkan puasa hari kesembilan dan kesepuluh secara bersamaan karena Nabi ﷺ sendiri telah berniat untuk melaksanakan puasa pada tanggal 9, meskipun beliau wafat sebelum sempat mewujudkannya.

2. Sebagai Bentuk Kehati-hatian (Ihtiyath)

Penentuan awal bulan Muharram terkadang tidak tepat. Dengan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 sekaligus, seseorang lebih yakin bahwa ia benar-benar mendapatkan keutamaan puasa Asyura, karena bisa jadi tanggal 9 yang dihitung sebenarnya adalah tanggal 10.

3. Menyambung Puasa dengan Hari Lain

Sama seperti larangan mengkhususkan puasa pada hari Jumat saja tanpa menyambungnya, puasa Tasu’a membuat puasa Asyura “tersambung” dengan hari sebelumnya, sehingga lebih utama dan sempurna.

Imam an-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab (juz VI, hlm. 383) menjelaskan tiga hikmah tersebut secara rinci, sebagaimana dikutip dalam Bimbingan Islam Seputar Bulan Muharram.(Lihat Bimbingan Islam Seputar Bulan Muharram, hlm. 18–19.

Keutamaan Puasa Asyura

Puasa Asyura (10 Muharram) memiliki keutamaan yang sangat besar, menjadikannya salah satu puasa sunnah yang paling istimewa setelah Ramadhan.

1. Menghapus Dosa Setahun yang Lalu

Inilah keutamaan paling masyhur dari puasa Asyura. Rasulullah ﷺ bersabda: “Puasa pada hari Asyura, aku memohon kepada Allah agar puasa tersebut bisa menghapus dosa setahun sebelumnya.” (HR. Muslim no. 1162)

Imam an-Nawawi  dalam kitab al-Minhaj Syarh Shahih Muslim (juz 8, hlm. 51) menjelaskan cakupan keutamaan ini secara rinci:

  • Dosa yang digugurkan adalah semua dosa kecil
  • Apabila tidak ditemukan dosa kecil maupun dosa besar, maka dituliskan baginya kebaikan serta diangkat derajatnya.
  • Apabila yang didapati adalah dosa besar, maka semoga diringankan dari dosa besar tersebut.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam al-Fatawa al-Kubra (4/428) juga menegaskan bahwa pengguguran dosa melalui puasa Asyura hanya berlaku untuk dosa-dosa kecil, sebagaimana dikutip dalam Bimbingan Islam Seputar Bulan Muharram(hlm. 16).

2. Puasa Paling Utama Setelah Ramadhan

Rasulullah SAW bersabda: “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram.” (HR. Muslim no. 1982)

Dalam buku Bulan Muharram dan Keutamaan Berpuasa di Dalamnya, Said Yai menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan disunnahkannya berpuasa pada bulan Muharram secara umum—termasuk di dalamnya puasa Asyura—bahkan menjadi puasa sunnah yang paling afdal setelah Ramadhan.

3. Peristiwa Bersejarah: Keselamatan Nabi Musa AS

Hari Asyura adalah hari ketika Allah ﷻ menyelamatkan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Fir‘aun. Sebagai rasa syukur, Nabi Musa berpuasa pada hari tersebut. Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari itu, lalu bersabda: “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” Maka beliau pun berpuasa dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa. (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Sangat Diperhatikan (Ditekankan) oleh Rasulullah ﷺ

Ibnu ‘Abbas RA berkata: “Tidak pernah aku melihat Nabi ﷺ bersungguh-sungguh (menyengaja) untuk berpuasa pada suatu hari yang beliau istimewakan dibanding hari-hari lainnya kecuali hari ini—hari Asyura—dan bulan ini—yaitu bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 1867).

Pertanyaan Seputar Niat Puasa Tasua dan Asyura di Bulan Muharram

Apakah puasa Tasua dan Asyura boleh digabung?

Menggabungkan puasa sunah dan wajib secara sekaligus tidaklah diperbolehkan, seperti niat puasa Asyura dan qada Ramadan.

13 14 15 Muharram puasa apa?

Puasa pada tanggal 13, 14, dan 15 Muharram adalah Puasa Ayyamul Bidh

Bagaimana niat puasa 9 dan 10 Muharram?

Niat puasa 9 Muharram (Puasa Tasu'a) dan 10 Muharram (Puasa Asyura) dilafalkan pada malam hari hingga sebelum waktu imsak. Untuk puasa sunah, niat boleh diucapkan dalam hati, namun dianjurkan untuk melafalkannya

Doa 10 Asyura dibaca kapan?

Dalam pelaksanaannya, doa puasa Asyura dapat dibaca sejak niat di malam hari hingga saat berpuasa dan menjelang berbuka.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya