OJK Paparkan Penyebab IHSG Melonjak 7,5%

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai investor merespons dari upaya-upaya yang akan dilakukan untuk menopang pasar modal.

oleh Maulandy Rizky Bayu KencanaDiterbitkan 09 Juni 2026, 18:10 WIB
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi(Liputan6.com/Arief)

Liputan6.com, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis pasar saham di Indonesia bakal kembali menguat (rebound). Setelah Bank Indonesia (BI) menaikan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 bps, dari 5,25 persen menjadi 5,50 persen. 

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan, pihaknya bersama Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang tergabung dalam Komite Stabilisasi Sistem Keuangan (KSSK) terus mencermati situasi saat ini. 

"Namun kalau kita lihat, teman-teman juga lihat ya hari ini market sudah rebound ya," ujar wanita yang akrab disapa Kiki tersebut di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Di sisi lain, ia turut memantau pergerakan pasar saham negara lain yang banyak mengalami penurunan. Semisal Bursa Saham Korea Selatan (KOSPI), yang sempat menghentikan seluruh perdagangan (trading halt) pada 8 Juni 2026 setelah indeks anjlok lebih dari 8,5 persen. 

"Di kita kemarin juga cukup dalam turunnya. Tapi hari ini alhamdulillah rebound. Dan kita lihat juga beberapa hal yang kemudian menjadi pertanyaan dari investor sudah disampaikan," imbuh dia. 

Kiki pun menyoroti upaya pembelian kembali atau buyback saham BUMN. "Kita melihat juga upaya untuk buyback saham ya, tanpa RUPS juga sudah mulai ada wacana untuk dilakukan. Jadi kita melihat ini sama-sama, yuk supaya market kita bisa kembali rebound," pintanya.

Berdasarkan data RTI, IHSG pada 9 Juni 2026 ditutup melonjak 7,57% menjadi 5.746,64. Indeks saham LQ45 melonjak 8,01% menjadi 569,32. Seluruh indeks saham acuan kompak menghijau

OJK Cermati Perbankan

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi saat ditemui di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (9/6/2026). (Foto: Liputan6.com/Maulandy R)

Selain itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bakal terus mencermati perbankan, usai adanya keputusan dari Bank Indonesia (BI) yang menaikan suku bunga acuan (BI Rate). 

"Kita mencermati hal itu. Kita melakukan assessment terus ya," ujar Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi pada kesempatan sama. 

Terkait kenaikan BI Rate untuk menjaga pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS, pihak otoritas juga bakal memantau ketahanan sektor jasa keuangan nasional. Terutama untuk bank yang punya exposure terhadap nilai tukar cukup banyak. 

Pantau Lintas Sektor 

"Misalnya kita lakukan assessment secara sektor maupun secara lintas sektor. Artinya keterhubungan antar sektor misalnya perbankan dengan pasar modal dan sebagainya, kita lihat secara cermat," ungkap wanita yang akrab disapa Kiki tersebut. 

Menurut dia, kondisi sektor jasa keuangan nasional sejauh ini masih cukup terjaga. Hanya saja, OJK tak ingin lengah dengan situasi yang ada, seraya terus mencermati berbagai perkembangan terkini. Termasuk dampak gejolak geopolitik dari luar negeri. 

"Moga-moganya sih semua membaik. Tapi kan ini juga kalau kita lihat kan memang Timur Tengah dan lain-lain. Ini banyak hal yang harus kita perhatikan. Semoga semuanya terkendali," kata Kiki.

 

 

Perdagangan Saham

Pengunjung tengah melintasi layar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (13/2). Pembukaan perdagangan bursa hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 0,57% atau 30,45 poin ke level 5.402,44. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Pada perdagangan saham Selasa pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 5.746,64 dan level terendah 5.318,14. Sebanyak 678 saham menguat sehingga angkat IHSG. 89 saham melemah dan 48 saham diam di tempat.

Mengutip data RTI, total frekuensi perdagangan saham 2.707.858 kali dengan volume perdagangan saham 44,8 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 27,8 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah di kisaran 18.000.

Seluruh sektor saham kompak menghijau. Sektor saham energi naik 9,2%, sektor saham basic menanjak 9,97%, sektor saham industri bertambah 8,55%. Selain itu, sektor saham consumer nonsiklikal mendaki 5,6%, sektor saham siklikal bertambah 5,74%. Lalu sektor saham kesehatan naik 4,88%, sektor saham keuangan melompat 7,14%.

Selanjutnya sektor saham properti mendaki 2,36%, sektor saham teknologi melambung 3,15%, sektor saham infrastruktur menanjak 7,37% dan sektor saham transportasi melambung 7,38%.

 

 

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya