Liputan6.com, Jakarta - Bursa Asia bergerak menguat pada perdagangan Selasa (10/6/2026) setelah investor kembali memburu saham-saham teknologi dan semikonduktor. Sentimen positif datang dari Wall Street yang berhasil ditopang reli saham chip setelah mengalami tekanan cukup dalam pada pekan lalu.
Dikutip dari CNBC, Selasa (9/6/2026), indeks Nikkei 225 Jepang dibuka melonjak lebih dari 1%, sementara indeks Kospi Korea Selatan melesat sekitar 4% setelah sempat terpuruk pada sesi perdagangan sebelumnya.
Advertisement
Kebangkitan sektor teknologi terjadi seiring pulihnya saham-saham chip di Amerika Serikat yang mendorong penguatan indeks Nasdaq Composite dan S&P 500. Kondisi tersebut memicu optimisme investor terhadap prospek industri kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang masih menjadi tema utama pasar global.
Meski mayoritas bursa utama Asia bergerak di zona hijau, tidak semua pasar mencatat kinerja serupa. Bursa Australia justru masih melemah, sedangkan kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong menunjukkan pembukaan yang lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pelaku pasar saat ini memanfaatkan momentum rebound sektor teknologi setelah aksi jual besar-besaran yang melanda saham AI dan semikonduktor dalam beberapa waktu terakhir.
Reli ini sekaligus menunjukkan bahwa minat investor terhadap sektor teknologi masih kuat, meskipun sejumlah analis mulai mempertanyakan keberlanjutan kenaikan harga saham yang telah berlangsung dalam dua tahun terakhir.
Saham Semikonduktor Jepang dan Korea Selatan Jadi Sorotan
Penguatan Bursa Asia kali ini terutama ditopang oleh lonjakan saham-saham semikonduktor yang memiliki keterkaitan erat dengan perkembangan teknologi AI.
Di Korea Selatan, saham produsen chip memori SK Hynix melonjak 6,44%, sedangkan Samsung Electronics menguat 3,38%. Adapun saham Seoul Semiconductor mencatat kenaikan lebih dari 12%.
Kinerja positif juga terlihat di Jepang. Saham Tokyo Electron, salah satu produsen peralatan semikonduktor terbesar dunia, naik 5,65%. Sementara itu, Advantest menguat 1,51% dan Renesas Electronics bertambah 2,54%.
Kenaikan tersebut mengikuti tren penguatan saham chip di Wall Street yang kembali menjadi penggerak utama pasar setelah sebelumnya mengalami koreksi tajam.
Namun tidak semua saham teknologi menikmati reli. Saham SoftBank Group justru melanjutkan pelemahannya dengan turun sekitar 2%.
Analis ORTUS Advisors, Andrew Jackson, menilai rotasi investor ke saham-saham defensif yang sempat terjadi sebelumnya kemungkinan hanya berlangsung sementara.
"Perpindahan kembali ke saham-saham defensif domestik yang kita lihat kemarin kemungkinan hanya berlangsung singkat untuk saat ini," ujarnya.
Menurut dia, investor masih melihat sektor teknologi sebagai salah satu sumber pertumbuhan utama di pasar saham global.
Investor Pantau IPO OpenAI dan SpaceX
Di tengah penguatan Bursa Asia, investor global juga mulai mengalihkan perhatian ke potensi gelombang penawaran saham perdana (IPO) dari perusahaan teknologi berbasis AI.
Pasar saat ini menantikan IPO SpaceX yang dijadwalkan mulai diperdagangkan dalam waktu dekat. Selain itu, OpenAI dilaporkan telah mengajukan dokumen IPO secara rahasia kepada regulator Amerika Serikat.
Langkah tersebut menyusul perusahaan AI lain seperti Anthropic yang lebih dulu mengambil langkah serupa.
Menurut Andrew Jackson, rencana IPO perusahaan-perusahaan teknologi bernilai jumbo tersebut berpotensi menjadi katalis baru bagi sektor AI dan teknologi global, termasuk perusahaan-perusahaan semikonduktor di Asia yang menjadi bagian penting dari rantai pasok industri tersebut.
Meski demikian, sejumlah analis tetap mengingatkan investor untuk mewaspadai tingginya valuasi saham teknologi.
Manajer Portofolio GQG Partners, Brian Kersmanc, menilai tantangan terbesar sektor chip saat ini adalah menjaga keberlanjutan pertumbuhan bisnis di tengah lonjakan harga yang sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir.