George Saa, Bintang Fisika dari Papua

Septinus George Saa, siswa Kelas 3 SMUN III Bumi Perkemahan Waena, Jayapura, Papua, akan mewakili Indonesia dalam Olimpiade Fisika di Warsawa, Polandia. Oge adalah sosok putra daerah yang mampu berprestasi internasional.

oleh Liputan6Diterbitkan 16 Mei 2004, 14:35 WIB
Liputan6.com, Jayapura: Tak selamanya putra daerah dengan segala keterbatasannya tak mampu berprestasi. Septinus George Saa, siswa kelas tiga jurusan Ilmu Pengetahuan Alam Sekolah Menengah Umum Negeri III Bumi Perkemahan (Buper) Waena, Jayapura, Papua, misalnya. Putra daerah Papua ini meraih medali emas dalam lomba riset fisika tingkat dunia atau The First Step to Nobel Prize in Physics 2004 di Inggris, April silam. Dengan prestasi tersebut, Septinus akan mewakili Indonesia dalam olimpiade fisika, November mendatang di Warsawa, Polandia.

Pria yang akrab disapa dengan sebutan Oge ini bukanlah anak yang berkecukupan. Oge terlahir dari keluarga pegawai negeri sipil kehutanan. Kendati begitu, sejak kecil Oge sudah dididik kedua orang tuanya yang lebih mengedepankan pendidikan. Oge sendiri mengaku mensyukuri karunia Tuhan karena dilahirkan di lingkungan keluarga sederhana. Pasalnya, kondisi ini yang memacu semangatnya untuk memanfaatkan waktu dengan banyak belajar. Itulah sebabnya, pria berusia 18 tahun ini juga tak lupa berterima kasih pada guru dan kedua orang tuanya.

Kecerdasaan anak bungsu dari lima bersaudara pasangan Silas Saa dan Nelly Wafom ini tampak sejak duduk di bangku sekolah dasar. Selain selalu peringkat pertama, Oge juga pernah meraih juara Olimpiade Kimia 2001 tingkat daerah. Tak hanya itu, Oge juga pernah tercatat dalam peringkat delapan dalam lomba matematika kuantum di India, November 2003. Terakhir, Oge meraih medali emas lomba riset fisika di Inggris.

Sementara makalah yang membuat Oge meraih medali emas berjudul "Infinite Triangle and Hexagonal Lattice Networks of Identical Resistor". Dalam makalah tersebut, Oge mencoba menghitung hambatan dari dua titik dari suatu rangkaian resistor yang membentuk segitiga dan heksagon. Makalah hasil riset selama setahun itu juga menyisihkan ratusan peserta dari 73 negara setelah melalui penjurian yang ketat.

Pada Oktober mendatang, Oge harus mempresentasikan makalahnya di hadapan ilmuwan fisika di Polandia. Presentasi ini salah satunya untuk membuktikan bila riset tersebut memang hasil karyanya sendiri. Setelah itu, Oge akan mendapat kesempatan belajar riset di Polish Academy of Science di Polandia, selama sebulan penuh.

Terlepas dari itu, Oge adalah sosok pelajar seperti teman lainnya. Bersama 50 rekannya, Oge tinggal di Asrama Buper Waena. Tapi, saat libur akhir pekan, Oge pulang ke rumah orang tuanya di kawasan Jalan Pemerintah Daerah II, Kotaraja, Jayapura. Sehari-hari, Oge menghabiskan waktu hanya untuk belajar, seperti membaca buku buku pelajaran dan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan fisika. Sementara untuk mengusir kejenuhan, biasanya Oge bermain bola basket bersama teman-teman sepermainannya.

Dan kini, pemuda yang sempat bercita-cita menjadi pilot pesawat ini akhirnya terpaksa menggantungkan cita-citanya karena ketertarikannya kepada pelajaran fisika jauh lebih kuat. Kendati begitu, perjuangan Oge masih panjang. Dengan semangat tinggi, Oge tetap belajar keras mengukir prestasi di tingkat internasional, khusus di bidang favoritnya yakni fisika.(ORS/Ruba`i Kadir)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya