Liputan6.com, Jakarta: Pencemaran di Teluk Jakarta berdampak buruk bagi nelayan dan pedagang ikan di Tempat Pelelangan Ikan Muara Angke, Jakarta Utara. Jumlah pembeli ikan menjadi melorot drastis. Terlebih setelah Gubernur Jakarta Sutiyoso mengimbau warga tidak mengkonsumsi ikan dari perairan Jakarta untuk sementara. Buntutnya, menurut koordinator pengecer ikan di Muara Angke Daeng Rais, keuntungan pedagang merosot. Kini, dia hanya mampu mengantungi Rp 500 ribu dari pendapatan normal Rp 3 juta per hari. Demikian pantauan SCTV dari Muara Angke, Jakarta Utara, Jumat (14/5).
Khawatir ikan membusuk, akhirnya Rais menjual ikan ke bagian pengasinan dengan harga sangat murah. Sebagai perbandingan, ikan tenggiri yang dijual dalam keadaan segar berharga Rp 18 ribu per kilogram. Sedangkan jika dijual ke pengasinan, ikan tersebut hanya dihargai Rp 2.000 per kg.
Keluhan serupa tak hanya dirasakan oleh pedagang besar sekelas Rais. Idun, yang sudah tujuh tahun berdagang ikan pun mengeluhkan sepinya pembeli. Padahal Idun menjamin ikan dagangannya selalu dalam kondisi segar. Menurut Idun, ada tiga ciri yang menandakan ikan masih segar. Pertama, mata ikan bening dan terlihat segar. Kedua, insang masih keras dan tidak bau. Terakhir, perut ikan masih kencang.
Kondisi perairan Jakarta memang memburuk, belakangan ini. Beberapa hari silam, ratusan satwa laut mati di Teluk Jakarta [baca: Ratusan Ikan di Perairan Jakarta Mati Tercemar]. Di sana banyak ditemukan bangkai ikan yang terdampar di Pantai Ancol dan tulang-tulang ikan yang hancur. Diperkirakan, hewan laut tersebut mati akibat pencemaran limbah industri.
Mengatasi kondisi tersebut, pemerintah sejauh ini baru berencana menerapkan aturan pengolahan limbah bagi industri [baca: Pemerintah Akan Menerapkan Aturan Pengolahan Limbah]. Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri menjelaskan, penerapan aturan itu penting untuk mencari solusi terhadap kerusakan dan kehancuran keanekaragaman dan kekayaan hayati di laut.(ZAQ/Vivi Waluyo dan Agung Nugroho)
Khawatir ikan membusuk, akhirnya Rais menjual ikan ke bagian pengasinan dengan harga sangat murah. Sebagai perbandingan, ikan tenggiri yang dijual dalam keadaan segar berharga Rp 18 ribu per kilogram. Sedangkan jika dijual ke pengasinan, ikan tersebut hanya dihargai Rp 2.000 per kg.
Keluhan serupa tak hanya dirasakan oleh pedagang besar sekelas Rais. Idun, yang sudah tujuh tahun berdagang ikan pun mengeluhkan sepinya pembeli. Padahal Idun menjamin ikan dagangannya selalu dalam kondisi segar. Menurut Idun, ada tiga ciri yang menandakan ikan masih segar. Pertama, mata ikan bening dan terlihat segar. Kedua, insang masih keras dan tidak bau. Terakhir, perut ikan masih kencang.
Kondisi perairan Jakarta memang memburuk, belakangan ini. Beberapa hari silam, ratusan satwa laut mati di Teluk Jakarta [baca: Ratusan Ikan di Perairan Jakarta Mati Tercemar]. Di sana banyak ditemukan bangkai ikan yang terdampar di Pantai Ancol dan tulang-tulang ikan yang hancur. Diperkirakan, hewan laut tersebut mati akibat pencemaran limbah industri.
Mengatasi kondisi tersebut, pemerintah sejauh ini baru berencana menerapkan aturan pengolahan limbah bagi industri [baca: Pemerintah Akan Menerapkan Aturan Pengolahan Limbah]. Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri menjelaskan, penerapan aturan itu penting untuk mencari solusi terhadap kerusakan dan kehancuran keanekaragaman dan kekayaan hayati di laut.(ZAQ/Vivi Waluyo dan Agung Nugroho)