Liputan6.com, Bandung: Tak ada ambisi lain, kecuali niat untuk mempertahankan produk daerah, maka Dadan memulai usaha yang telah dirintis sang kakek sejak 1960-an: menganyam bambu menjadi bilik. Sejak puluhan tahun silam, Kampung Pasir Jambbu, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, memang terkenal sebagai penghasil kerajinan bilik bambu atau dinding yang terbuat dari anyaman bambu, selain sebagai sentra penghasil sayuran dan buah stroberi.
Bagi Dadan, usaha bilik bambu memang menggoda. Banyak orang suka. Apalagi, sejak lama bilik sudah digunakan warga untuk dinding rumah. Usaha bilik bambu juga berprospek cerah, meski Dadan mengeluhkan kondisi dirinya yang kekurangan modal. Dia mengaku cuma memperoleh keuntungan sekitar Rp 750 ribu dari modal sebesar Rp 2 juta.
Dadan menuturkan, bilik bambu yang ditawarkan para perajin saat ini sangat beragam. Ini disebabkan setiap perajin berupaya mengemas bilik bambu menjadi produk kerajinan bernilai seni. Kalau sudah begini, banyak pelancong maupun pengusaha rumah makan dan hotel yang memesan bilik bambu yang menonjolkan kesan artistik kedaerahan. Umumnya, pemesan datang dari Bandung, Cianjur, Sukabumi, Indramayu, bahkan Kalimantan hingga Dubai di Uni Emirat Arab sana.
Bilik yang dibuat Dadan ada tiga jenis. Pertama bilik corak yang dibuat dari bambu hijau dan bambu hitam yang dijual Rp 8.000 per meter. Ada juga bilik kulit bambu hijau seharga Rp 6.000 per meter, dan terakhir, bilik daging bambu Rp 1.500 per meter. Dadan mengakui semua jenis laku dijual. Namun, yang paling diminati adalah bilik corak. Biasanya pembeli bilik corak adalah pengusaha rumah makan, vila, dan kafe. Mereka menggunakan bilik bambu sebagai pelengkap interior tempat usahanya agar terkesan lebih artistik.
Dadan berharap, usaha berprospek cerah ini dilirik pemerintah dan orang berduit agar mereka mau mengucurkan bantuan sehingga mayoritas pengusaha bilik bambu yang saat ini kembang kempis atau kesulitan dana bisa melanjutkan usaha dan memperbanyak kreasinya.(SID/Patria dan Taufik Hidayat)
Bagi Dadan, usaha bilik bambu memang menggoda. Banyak orang suka. Apalagi, sejak lama bilik sudah digunakan warga untuk dinding rumah. Usaha bilik bambu juga berprospek cerah, meski Dadan mengeluhkan kondisi dirinya yang kekurangan modal. Dia mengaku cuma memperoleh keuntungan sekitar Rp 750 ribu dari modal sebesar Rp 2 juta.
Dadan menuturkan, bilik bambu yang ditawarkan para perajin saat ini sangat beragam. Ini disebabkan setiap perajin berupaya mengemas bilik bambu menjadi produk kerajinan bernilai seni. Kalau sudah begini, banyak pelancong maupun pengusaha rumah makan dan hotel yang memesan bilik bambu yang menonjolkan kesan artistik kedaerahan. Umumnya, pemesan datang dari Bandung, Cianjur, Sukabumi, Indramayu, bahkan Kalimantan hingga Dubai di Uni Emirat Arab sana.
Bilik yang dibuat Dadan ada tiga jenis. Pertama bilik corak yang dibuat dari bambu hijau dan bambu hitam yang dijual Rp 8.000 per meter. Ada juga bilik kulit bambu hijau seharga Rp 6.000 per meter, dan terakhir, bilik daging bambu Rp 1.500 per meter. Dadan mengakui semua jenis laku dijual. Namun, yang paling diminati adalah bilik corak. Biasanya pembeli bilik corak adalah pengusaha rumah makan, vila, dan kafe. Mereka menggunakan bilik bambu sebagai pelengkap interior tempat usahanya agar terkesan lebih artistik.
Dadan berharap, usaha berprospek cerah ini dilirik pemerintah dan orang berduit agar mereka mau mengucurkan bantuan sehingga mayoritas pengusaha bilik bambu yang saat ini kembang kempis atau kesulitan dana bisa melanjutkan usaha dan memperbanyak kreasinya.(SID/Patria dan Taufik Hidayat)