Kiai Langitan Tetap Mencalonkan Gus Dur

Abdurrahman Wahid ditetapkan sebagai calon presiden dari Partai Kebangkitan Bangsa. Ketua PBNU Solahuddin Wahid mengaku bingung dengan keputusan PKB tersebut. Golkar akan mengambil opsi lain.

oleh Liputan6Diterbitkan 09 Mei 2004, 20:37 WIB
Liputan6.com, Tuban: Kiai Langitan tetap memutuskan Abdurrahman Wahid sebagai calon presiden dari Partai Kebangkitan Bangsa. Sedangkan untuk calon wakil presiden, PKB masih mempertimbangkan Sophan Sophian dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Marwah Daud Ibrahim dari Partai Golongan Karya, dan Ryas Rasyid dari Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan. Demikian dijelaskan Wakil Ketua Dewan Pimpinan Pusat PKB Mahfud Md., seusai mengikuti pertemuan di Pondok Pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur, Ahad (9/5).

Pertemuan juga merekomendasikan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Solahuddin Wahid untuk menjadi cawapres Golkar atau capres dari aliansi parpol. PKB juga mengizinkan Alwi Shihab, A.S. Hikam, Khofifah Indar Parawansa menjadi cawapres dari Partai Beringin. "Dengan catatan, bilamana Abdurrahman Wahid telah resmi menjadi calon presiden, maka PKB akan tetap memperjuangkan kemenangan Abdurrahman Wahid," kata Mahfud.

Pertemuan di Ponpes Langitan dihadiri beberapa pengurus PKB dan sejumlah kiai seperti Kiai Haji Khotib Umar dari Jember, Jatim, KH Muhaiminan dari Parakan, Jawa Tengah, dan KH Abdullah Faqih dari Langitan. Kiai Ahmad Sofyan dari Situbondo dan Kiai Abdullah Abbas dari Buntet, Cirebon, Jawa Barat, berhalangan hadir. Keduanya memberikan persetujuan lewat telepon.

Gus Dur--panggilan akrab Abdurrahman--mengaku yakin mampu memenangkan persaingan dalam Pemilu Eksekutif 5 Juli mendatang. "Pokoknya kalau saya jadi calon [presiden], menang," kata Gus Dur. Ketua Dewan Syuro PKB itu juga optimistis menembus persyaratan kesehatan capres yang ditetapkan KPU. Jika gagal, Gus Dur berjanji akan menempuh upaya hukum lain. "Kalau nanti ternyata tidak berhasil, ya tentu ada tindakan-tindakan lain," ucap Gus Dur.

Peluang Gus Dur menjadi capres sebenarnya sudah sangat kecil setelah Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan menolak judicial review terhadap keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) tentang persyaratan capres-cawapres [baca: Gus Dur Sudah Mentok]. Kini, Gus Dur tinggal menunggu keputusan KPU setelah catatan kesehatan capres-cawapres dilaporkan.

Di Ponpes Lirboyo, Kediri, Jatim, sejumlah kiai berpengaruh bertemu untuk membahas capres dan cawapres. Di antara yang hadir adalah Kiai Idris Marzuki dari Lirboyo, Jatim, KH Masubadar dari Pasuruan, Jatim, dan Kiai Nur Iskandar dari Jakarta.

Keputusan Langitan praktis membingungkan Solahudin untuk menentukan langkah politik selanjutnya. Adik kandung Gus Dur ini mengaku tak menyangka akhirnya keputusan harus diambil dirinya. Pertanyaan dari berbagai pihak, termasuk Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar Fahmi Idris, tak dapat dijawab Gus Solah--sapaan Solahuddin. "Buat saya surprise. Tadinya saya pikir "bolanya" di tangan Gus Dur, sekarang bolanya dioper ke saya," kata Gus Solah yang baru saja dipijat refleksi di Jakarta. Selanjutnya, Gus Solah menyatakan akan menunggu pertemuan dengan capres Golkar Wiranto dan jajaran DPP Golkar, serta DPP PKB, malam ini. Gus Solah juga meminta waktu sejenak untuk salat agar lebih tenang.

Keputusan Langitan juga berpengaruh pada langkah Golkar yang berniat menjadikan Gus Solah sebagai cawapres mendampingi capres Wiranto [baca: Cawapres Golkar Tergantung Gus Dur]. Hampir dipastikan, Golkar akan mengambil opsi lain karena PKB tidak mendukung penuh pencalonan Gus Solah sebagai wapres. Alternatif terbesar, menurut Ketua Umum Golkar Akbar Tandjung, adalah berkoalisi dengan Partai Persatuan Pembangunan. "Kalau [koalisi dengan PPP] itu juga tidak bisa dilaksakanan atau tak ada persetujuan, maka kami akan mengajukan tokoh yang berasal dari lingkungan partai [Golkar]," tegas Akbar. Rencananya, capres dan cawapres dari Golkar diumumkan, Senin besok.(ZAQ/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya