Liputan6.com, Tiblisi: Presiden Georgia Mikhail Saakashvili mengambil alih pemerintahan di Propinsi Adzharia. Hal itu disampaikan presiden di Tiblisi, Georgia, Rabu. Saakashvili siap memberikan kekebalan hukum pada pemimpin pemberontak Aslan Abashidze dan keluarganya. Dia berjanji untuk menyatukan kembali Georgia yang terpecah saat perang saudara antara Abkhazia dan Ossetia selatan di awal 1990.
Sementara itu, ribuan orang berunjuk rasa memenuhi lapangan sebuah universitas di Kota Batumi, Adzharia. Mereka mengelu-elukan nama Presiden Saakashvili dan melambai-lambaikan bendera Georgia. Mereka menuntut pengunduran diri Aslan Abashidze. Aksi unjuk rasa ini juga merupakan tanda awal hilangnya dukungan terhadap pemberontak yang ingin memisahkan diri dari pemerintah pusat. Aksi ini muncul setelah Saakashvili mengultimatum Abashidze untuk membubarkan kelompok paramiliternya dalam 10 hari serta menghentikan aksi represif atas organisasi politik oposisi. Sementara itu, massa pendukung Abashidze juga berunjuk rasa. Namun jumlah mereka hanya sekitar 200 orang.
Seperti diketahui, Aslan Abashidze, Kepala Daerah Adzharia, Georgia, yang memimpin pemberontakan tak mempedulikan ancaman pemerintah pusat yang akan merontokkan kekuatannya. Abashidze malah bertekad terus memperketat keamanan wilayahnya menyusul bentrokan antara para pendukung dan penentangnya [baca: Aslan Abashidze Menantang Pemerintahan Georgia].(TOZ/Ijx)
Sementara itu, ribuan orang berunjuk rasa memenuhi lapangan sebuah universitas di Kota Batumi, Adzharia. Mereka mengelu-elukan nama Presiden Saakashvili dan melambai-lambaikan bendera Georgia. Mereka menuntut pengunduran diri Aslan Abashidze. Aksi unjuk rasa ini juga merupakan tanda awal hilangnya dukungan terhadap pemberontak yang ingin memisahkan diri dari pemerintah pusat. Aksi ini muncul setelah Saakashvili mengultimatum Abashidze untuk membubarkan kelompok paramiliternya dalam 10 hari serta menghentikan aksi represif atas organisasi politik oposisi. Sementara itu, massa pendukung Abashidze juga berunjuk rasa. Namun jumlah mereka hanya sekitar 200 orang.
Seperti diketahui, Aslan Abashidze, Kepala Daerah Adzharia, Georgia, yang memimpin pemberontakan tak mempedulikan ancaman pemerintah pusat yang akan merontokkan kekuatannya. Abashidze malah bertekad terus memperketat keamanan wilayahnya menyusul bentrokan antara para pendukung dan penentangnya [baca: Aslan Abashidze Menantang Pemerintahan Georgia].(TOZ/Ijx)