Bambang Sutrisno: Keputusan Kapolri Adalah yang Terbaik

Dia mengaku telah mengetahui posisinya kini digantikan Brigjen Pol. Adityawarman. "Apa yang saya dan kesatuan saya perbuat dan yang tidak diperbuat, itu semua adalah tanggung jawab saya," ujar Bambang.

oleh Liputan6Diterbitkan 04 Mei 2004, 20:22 WIB
Liputan6.com, Ambon: Kepala Kepolisian Daerah Maluku Brigadir Jenderal Polisi Bambang Sutrisno menyatakan telah ditelepon langsung oleh Kepala Kepolisian RI Jenderal Polisi Da`i Bachtiar ihwal pencopotan jabatannya. Saat ditemui SCTV ketika menyambut kedatangan Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah di Kota Ambon, Selasa (4/5) siang, Bambang mengaku telah mengetahui jika posisinya kini digantikan oleh Brigjen Pol. Adityawarman. "Keputusan Kapolri adalah yang terbaik, demi bangsa dan negara," tegas Bambang. Ia juga membantah jika pencopotan dirinya sarat muatan politis [baca: Kapolda Maluku Dicopot].

Bambang menyatakan telah berbuat maksimal dan sesuai prosedur dalam menghadapi kerusuhan di Maluku. Ia mengaku sebagai laki-laki, dan pimpinan yang bertanggung jawab, mau menanggung kesalahan bawahannya. "Apa yang saya dan kesatuan saya perbuat dan yang tidak diperbuat, itu semua adalah tanggung jawab saya," ujar Bambang, jantan. Dia juga mengingatkan warga Maluku agar tidak terprovokasi dengan berbagai isu yang justru dapat membawa penderitaan bagi warga setempat.

Sementara itu dalam kunjungannya ke Ambon, Bachtiar Chamsyah memberikan bantuan sebesar Rp 1 miliar untuk penanganan pengungsi. Dana tersebut akan digunakan untuk pembuatan barak pengungsi dan penyediaan bahan kebutuhan pokok. Sedangkan untuk korban tewas, akan diberikan santunan Rp 2 juta per orang. Bantuan itu diterima secara simbolis oleh Musyawarah Pimpinan Daerah Maluku di Kantor Gubernur Maluku Jalan Pattimura, Ambon. Dalam pertemuan ini hadir pula Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Soenarno serta Gubernur Maluku Karel Ralahalu, Kapolda Maluku Bambang Sutrisno--yang baru dicopot Kapolri, dan Pangdam XVI Pattimura Mayor Jenderal TNI Agustadi Sasongko Purnomo.

Kondisi sebagian warga yang mengungsi memang sangat memprihatinkan. Hingga kini, belum ada bantuan yang mereka terima, termasuk sarana dapur umum. Akibatnya, para pengungsi harus membeli sendiri makanan, padahal uang sudah kian menipis. Masalah lainnya adalah tidak adanya fasilitas mandi cuci kakus yang memadai.

Masjid Al Fattah dan Keuskupan Kota Ambon adalah tempat yang dijadikan lokasi pengungsian. Belum ada jumlah pasti warga yang mengungsi. Namun sebanyak 296 pengungsi tercatat berada di Masjid Al Fattah dan 334 lainnya di Keuskupan Kota Ambon [baca: Panglima TNI: Konflik Ambon Murni Soal RMS]. Ratusan kepala keluarga lainnya diperkirakan mengungsi di sejumlah lokasi. Sejak kerusuhan kembali pecah, ratusan warga kembali menjadi pengungsi setelah sebelumnya sempat tinggal di rumah masing-masing.(YAN/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya