Liputan6.com, Baghdad: Kisah kekejaman pasukan Amerika Serikat terhadap para tahanan Irak kembali menjadi pembicaraan. Adalah Hashem Muhsen, bekas tahanan tentara AS di Penjara Abu Ghraib yang mengungkapkan semua itu, baru-baru ini. Ia menyatakan perlakuan tentara AS sama buruknya dengan kekejaman rezim Presiden Saddam Hussein.
Muhsen ditangkap Agustus 2003 karena kedapatan membawa senjata. Ia kemudian dimasukkan ke Penjara Abu Ghraib. Di sana, Muhsen mengaku, ia dan para tahanan diperlakukan tak manusiawi, termasuk mngalami pelecehan. Mereka disuruh membuka pakaian hingga telanjang, lalu dinaiki layaknya seekor keledai. Mushen juga merasa dipermalukan karena ada tentara wanita AS yang mengambil gambar mereka saat telanjang.
Perlakuan yang tak wajar itu jelas membuat Muhsen dan para tahanan Irak muak terhadap tentara AS. Padahal, menurut dia, mereka telah menyambut gembira kedatangan pasukan AS saat akan membebaskan rakyat Irak dari cengkeraman Saddam Hussein.
Pemerintah AS tak mendiamkan perlakuan buruk terhadap tahanan Irak terjadi. Apalagi foto-foto kekejaman tentara mereka telah menyebar luas. Pimpinan tentara AS dilaporkan telah menindak tujuh orang tentaranya yang terlibat dalam kasus tersebut [baca: Karpinski Tidak Mengetahui Penyiksaan Tentara AS]. Badan Intelijen AS (CIA) yang juga terlibat menginterogasi para tahanan pula tengah menyelidiki skandal yang menghebohkan itu.
Penjara Abu Ghraib terletak sekitar 20 mil sebelah barat Baghdad. Semasa Saddam berkuasa, sebanyak 4.000 orang tawanan dihukum mati di sana pada 1984. Hukuman mati kembali dilakukan di Penjara Abu Ghraib, pada Februari-Maret 2000. Sedikitnya, 122 orang tawanan pria dihukum mati, saat itu. Setahun kemudian, 23 tawanan politik menyusul. Sejak AS menduduki Irak, mereka menggunakan penjara itu untuk menahan tawanan perang.(AWD/Uri)
Muhsen ditangkap Agustus 2003 karena kedapatan membawa senjata. Ia kemudian dimasukkan ke Penjara Abu Ghraib. Di sana, Muhsen mengaku, ia dan para tahanan diperlakukan tak manusiawi, termasuk mngalami pelecehan. Mereka disuruh membuka pakaian hingga telanjang, lalu dinaiki layaknya seekor keledai. Mushen juga merasa dipermalukan karena ada tentara wanita AS yang mengambil gambar mereka saat telanjang.
Perlakuan yang tak wajar itu jelas membuat Muhsen dan para tahanan Irak muak terhadap tentara AS. Padahal, menurut dia, mereka telah menyambut gembira kedatangan pasukan AS saat akan membebaskan rakyat Irak dari cengkeraman Saddam Hussein.
Pemerintah AS tak mendiamkan perlakuan buruk terhadap tahanan Irak terjadi. Apalagi foto-foto kekejaman tentara mereka telah menyebar luas. Pimpinan tentara AS dilaporkan telah menindak tujuh orang tentaranya yang terlibat dalam kasus tersebut [baca: Karpinski Tidak Mengetahui Penyiksaan Tentara AS]. Badan Intelijen AS (CIA) yang juga terlibat menginterogasi para tahanan pula tengah menyelidiki skandal yang menghebohkan itu.
Penjara Abu Ghraib terletak sekitar 20 mil sebelah barat Baghdad. Semasa Saddam berkuasa, sebanyak 4.000 orang tawanan dihukum mati di sana pada 1984. Hukuman mati kembali dilakukan di Penjara Abu Ghraib, pada Februari-Maret 2000. Sedikitnya, 122 orang tawanan pria dihukum mati, saat itu. Setahun kemudian, 23 tawanan politik menyusul. Sejak AS menduduki Irak, mereka menggunakan penjara itu untuk menahan tawanan perang.(AWD/Uri)