Liputan6.com, Bireun: Panglima Muda Gerakan Aceh Merdeka (GAM) II Wilayah Bate Ilik bernama Adi tewas dalam kontak senjata dengan TNI di kawasan Hutan Desa Paya Rhu, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireun, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, baru-baru ini. Kematian Adi ini sempat menarik perhatian warga sekitar. Warga bahkan melihat mayat pentolan GAM yang paling ditakuti di wilayah Bireun itu di rumah sakit.
Kontak senjata berawal dari informasi masyarakat di sekitar Desa Paya Rhu, Kecamatan Juli, tentang keberadaan sejumlah anggota GAM di desa tersebut. Informasi itu ditindaklanjuti pasukan Batalyon Infanteri 301 Komando Daerah Militer II Siliwangi dengan mengirimkan 54 personel. Pengintaian dan penyergapan itu berakhir dengan kontak senjata selama sekitar 45 menit.
Usai baku tembak, tentara menyisir lokasi. Saat itulah, mayat Adi yang dikenal sebagai panglima muda GAM II Wilayah Bate Ilik ditemukan. Sedangkan sekitar 30 anggota GAM lainnya berhasil meloloskan diri. Di sana, tentara hanya menemukan barang bukti berupa obat-obatan dan sisa makanan.
Masih di Aceh, 201 anggota GAM yang menyerahkan diri dibina di Lembaga Pengendalian Mutu Guru (LPMG), Ujung Batee, Aceh Besar. Sepuluh orang di antaranya adalah bekas Inong Balee atau prajurit wanita GAM. Sebelumnya, bekas anggota gerakan separatis itu dibina di Markas Polisi Militer Daerah Militer Iskandar Muda, Banda Aceh. Mereka adalah sebagian dari 600 anggota GAM yang menyerahkan diri saat status Darurat Militer diterapkan di Tanah Rencong.
Para peserta dari Aceh Besar, Pidie, Aceh Barat, Aceh Utara, Sabang, dan Aceh Timur. Selama lima bulan, mereka akan diajarkan pengetahuan bela negara dan berbagai keterampilan untuk bekal kembali ke masyarakat. Selain mereka, Penguasa Darurat Militer Daerah NAD sebelumnya juga telah membina 1.286 anggota GAM yang menyerahkan diri di Aceh Utara, Aceh Barat, dan Aceh Besar. Kini sebagian besar mereka telah kembali ke masyarakat.
Darurat Militer hampir setahun diberlakukan di NAD. Setelah selama itu, pemerintah akan mempertimbangkan untuk menurunkan status itu menjadi Darurat Sipil. Namun rencana itu mendapat reaksi dari warga Kampung Blang Sapie dalam percakapan dengan Batalyon 744 yang bertugas di Kabupaten Nagan Raya, NAD, sejak September 2003. Seorang Kecik atau Kepala Desa di sana mengaku khawatir dengan ancaman penculikan jika militer ditarik dari wilayahnya. Namun, ia berjanji akan memberikan tanahnya untuk tentara yang kembali dan membawa keluarganya ke Aceh.
Wajar jika warga Blang Sapie enggan tentara ditarik dari wilayahnya. Sebelum tentara diturunkan ke sana, lahan perkebunan dan persawahan warga sempat terbengkalai akibat gangguan dari GAM. Asal tahu saja, pasukan yang bertugas di sini berasal dari Batalyon 744. Pasukan ini adalah batalyon organik eks Timor Timur. Bahkan, hingga kini, 50 tentara asli Timtim masih bergabung dalam pasukan tersebut. Meski berbeda agama, bahasa, dan geografis, Sersan Dua TNI Julius Ximenes, seorang di antara tentara asal Timtim mengaku senang bertugas di Kabupaten Nagan Raya.(AWD/Tim Liputan 6 SCTV)
Kontak senjata berawal dari informasi masyarakat di sekitar Desa Paya Rhu, Kecamatan Juli, tentang keberadaan sejumlah anggota GAM di desa tersebut. Informasi itu ditindaklanjuti pasukan Batalyon Infanteri 301 Komando Daerah Militer II Siliwangi dengan mengirimkan 54 personel. Pengintaian dan penyergapan itu berakhir dengan kontak senjata selama sekitar 45 menit.
Usai baku tembak, tentara menyisir lokasi. Saat itulah, mayat Adi yang dikenal sebagai panglima muda GAM II Wilayah Bate Ilik ditemukan. Sedangkan sekitar 30 anggota GAM lainnya berhasil meloloskan diri. Di sana, tentara hanya menemukan barang bukti berupa obat-obatan dan sisa makanan.
Masih di Aceh, 201 anggota GAM yang menyerahkan diri dibina di Lembaga Pengendalian Mutu Guru (LPMG), Ujung Batee, Aceh Besar. Sepuluh orang di antaranya adalah bekas Inong Balee atau prajurit wanita GAM. Sebelumnya, bekas anggota gerakan separatis itu dibina di Markas Polisi Militer Daerah Militer Iskandar Muda, Banda Aceh. Mereka adalah sebagian dari 600 anggota GAM yang menyerahkan diri saat status Darurat Militer diterapkan di Tanah Rencong.
Para peserta dari Aceh Besar, Pidie, Aceh Barat, Aceh Utara, Sabang, dan Aceh Timur. Selama lima bulan, mereka akan diajarkan pengetahuan bela negara dan berbagai keterampilan untuk bekal kembali ke masyarakat. Selain mereka, Penguasa Darurat Militer Daerah NAD sebelumnya juga telah membina 1.286 anggota GAM yang menyerahkan diri di Aceh Utara, Aceh Barat, dan Aceh Besar. Kini sebagian besar mereka telah kembali ke masyarakat.
Darurat Militer hampir setahun diberlakukan di NAD. Setelah selama itu, pemerintah akan mempertimbangkan untuk menurunkan status itu menjadi Darurat Sipil. Namun rencana itu mendapat reaksi dari warga Kampung Blang Sapie dalam percakapan dengan Batalyon 744 yang bertugas di Kabupaten Nagan Raya, NAD, sejak September 2003. Seorang Kecik atau Kepala Desa di sana mengaku khawatir dengan ancaman penculikan jika militer ditarik dari wilayahnya. Namun, ia berjanji akan memberikan tanahnya untuk tentara yang kembali dan membawa keluarganya ke Aceh.
Wajar jika warga Blang Sapie enggan tentara ditarik dari wilayahnya. Sebelum tentara diturunkan ke sana, lahan perkebunan dan persawahan warga sempat terbengkalai akibat gangguan dari GAM. Asal tahu saja, pasukan yang bertugas di sini berasal dari Batalyon 744. Pasukan ini adalah batalyon organik eks Timor Timur. Bahkan, hingga kini, 50 tentara asli Timtim masih bergabung dalam pasukan tersebut. Meski berbeda agama, bahasa, dan geografis, Sersan Dua TNI Julius Ximenes, seorang di antara tentara asal Timtim mengaku senang bertugas di Kabupaten Nagan Raya.(AWD/Tim Liputan 6 SCTV)