Liputan6.com, Jakarta: Selain Museum Fatahillah, museum yang juga dikelola oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta adalah Museum Bahari. Museum ini terletak di Jalan Pasar Ikan, Jakarta Utara, tidak jauh dari Pelabuhan Sunda Kelapa. Di zaman kolonial, Museum Bahari awalnya hanya berupa dua buah gedung bekas kantor perdagangan dan gudang rempah-rempah. Gedung itu dibangun Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) pada 1652 untuk melancarkan distribusi rempah-rempah ke Belanda. Kawasan tersebut sudah tiga kali direhabilitasi, yaitu pada 1718, 1719, dan 1771. Kini, sisa-sisa kejayaan VOC masih bisa disaksikan. Namun, isi bangunan tentu saja sudah berganti dengan replika beragam perahu tradisional dari seluruh Indonesia.
Meski berusia renta, bangunan Museum Bahari masih terlihat kokoh. Pemda DKI Jakarta cukup bagus memelihara tempat wisata itu. Koleksi perahu yang dipamerkan juga lumayan banyak. Ada Nipasa, perahu khas Suku Dayak di Kalimantan untuk menyambut tamu atau perahu Karere sumbangan dari Pemerintah Provinsi Papua. Perahu Karere terbilang unik. Selain ukurannya lumayan besar, pada badan kapal dipenuhi ornamen berbentuk satwa laut dan orang-orang dari berbagai suku di Papua. Di buritan terpasang patung burung cendrawasih, binatang khas setempat.
Para pengunjung bisa leluasa melihat perahu-perahu tersebut hanya dengan membayar Rp 2.000 per orang. Pada hari-hari tertentu, Museum Bahari banyak didatangi murid sekolah yang mempelajari seluk-beluk kekayaan bahari Tanah Air. Selain perahu juga banyak foto-foto dan gambar pelabuhan pada masa silam. Di depan museum, pengunjung juga bisa menengok Menara Syahbandar yang dibangun pada 1839. Menara ini dipakai untuk mengawasi kapal yang keluar masuk Pelabuhan Sunda Kelapa.
Untuk mengunjungi Museum Bahari tidaklah sulit, karena letaknya cukup mudah dijangkau. Setiap turis bisa berangkat dari Stasiun Jakarta Kota, kemudian menggunakan kendaraan umum mikrolet 015 jurusan Kota-Tanjung Priok, dan turun di Pelabuhan Sunda Kelapa. Dari Pelabuhan Sunda Kelapa, lokasi museum bisa dicapai cukup dengan berjalan kaki karena jaraknya hanya beberapa puluh meter.
Satu museum lain yang juga layak dikunjungi adalah Museum Layang-Layang Indonesia di Jalan Haji Kamang Nomor 38, Pondok Labu, Jakarta Selatan. Museum yang baru dibangun satu tahun silam, memamerkan ratusan layang-layang berbagai bentuk dan warna. Di sana, juga terdapat layang-layang jaring yang dibawa dari Jepang. Koleksi terunik adalah layangan berbentuk dokar, kendaraan tradisional yang ditarik menggunakan kuda. Dokar "terbang" itu pernah diikutsertakan dalam festival nasional di Palembang, Sumatra Selatan. Satu lagi yang unik adalah layangan dandang asal Kalimantan Selatan yang dapat mengeluarkan bunyi berdengung saat diterbangkan.
Layang-layang sebenarnya sudah lama hadir dalam kehidupan manusia. Bangsa Cina-lah yang pertama kali mulai membuat layangan sejak 196 sebelum Masehi. Dahulu kala, layangan dipakai militer Cina untuk menakuti musuh. Seiring perkembangan zaman dan teknologi fungsi layang-layang pun berubah. Kini, layangan hanya dikenal sebagai sebuah permainan yang mendunia.
Karena alasan itulah, pengelola museum bersedia membuka kursus membuat layangan. Bagi yang hanya ingin berkunjung, cukup membayar Rp 5.000 per orang. Jika ingin mencoba memainkan berbagai layangan, pengelola museum siap menyediakan lapangan khusus. Layang-layang ukuran besar atau kecil bisa menjadi pilihan.
Cara mengendalikan layangan ukuran besar ternyata cukup unik. Si pengendali cukup duduk di atas bugie atau sejenis kendaraan beroda tiga. Jadi, dia bisa mengikuti ke mana pun angin menerbangkan "burung kertas".(KEN/Inka Prawirasasra dan Effendi Kasah)
Meski berusia renta, bangunan Museum Bahari masih terlihat kokoh. Pemda DKI Jakarta cukup bagus memelihara tempat wisata itu. Koleksi perahu yang dipamerkan juga lumayan banyak. Ada Nipasa, perahu khas Suku Dayak di Kalimantan untuk menyambut tamu atau perahu Karere sumbangan dari Pemerintah Provinsi Papua. Perahu Karere terbilang unik. Selain ukurannya lumayan besar, pada badan kapal dipenuhi ornamen berbentuk satwa laut dan orang-orang dari berbagai suku di Papua. Di buritan terpasang patung burung cendrawasih, binatang khas setempat.
Para pengunjung bisa leluasa melihat perahu-perahu tersebut hanya dengan membayar Rp 2.000 per orang. Pada hari-hari tertentu, Museum Bahari banyak didatangi murid sekolah yang mempelajari seluk-beluk kekayaan bahari Tanah Air. Selain perahu juga banyak foto-foto dan gambar pelabuhan pada masa silam. Di depan museum, pengunjung juga bisa menengok Menara Syahbandar yang dibangun pada 1839. Menara ini dipakai untuk mengawasi kapal yang keluar masuk Pelabuhan Sunda Kelapa.
Untuk mengunjungi Museum Bahari tidaklah sulit, karena letaknya cukup mudah dijangkau. Setiap turis bisa berangkat dari Stasiun Jakarta Kota, kemudian menggunakan kendaraan umum mikrolet 015 jurusan Kota-Tanjung Priok, dan turun di Pelabuhan Sunda Kelapa. Dari Pelabuhan Sunda Kelapa, lokasi museum bisa dicapai cukup dengan berjalan kaki karena jaraknya hanya beberapa puluh meter.
Satu museum lain yang juga layak dikunjungi adalah Museum Layang-Layang Indonesia di Jalan Haji Kamang Nomor 38, Pondok Labu, Jakarta Selatan. Museum yang baru dibangun satu tahun silam, memamerkan ratusan layang-layang berbagai bentuk dan warna. Di sana, juga terdapat layang-layang jaring yang dibawa dari Jepang. Koleksi terunik adalah layangan berbentuk dokar, kendaraan tradisional yang ditarik menggunakan kuda. Dokar "terbang" itu pernah diikutsertakan dalam festival nasional di Palembang, Sumatra Selatan. Satu lagi yang unik adalah layangan dandang asal Kalimantan Selatan yang dapat mengeluarkan bunyi berdengung saat diterbangkan.
Layang-layang sebenarnya sudah lama hadir dalam kehidupan manusia. Bangsa Cina-lah yang pertama kali mulai membuat layangan sejak 196 sebelum Masehi. Dahulu kala, layangan dipakai militer Cina untuk menakuti musuh. Seiring perkembangan zaman dan teknologi fungsi layang-layang pun berubah. Kini, layangan hanya dikenal sebagai sebuah permainan yang mendunia.
Karena alasan itulah, pengelola museum bersedia membuka kursus membuat layangan. Bagi yang hanya ingin berkunjung, cukup membayar Rp 5.000 per orang. Jika ingin mencoba memainkan berbagai layangan, pengelola museum siap menyediakan lapangan khusus. Layang-layang ukuran besar atau kecil bisa menjadi pilihan.
Cara mengendalikan layangan ukuran besar ternyata cukup unik. Si pengendali cukup duduk di atas bugie atau sejenis kendaraan beroda tiga. Jadi, dia bisa mengikuti ke mana pun angin menerbangkan "burung kertas".(KEN/Inka Prawirasasra dan Effendi Kasah)