Bayang-Bayang First Travel di Balik Nestapa Jemaah Hanania

Nestapa Jemaah Gagal Umrah, Rp 95 Juta Melayang Kena Modus Gali Lubang Tutup Lubang

oleh Ady AnugrahadiDiterbitkan 28 Mei 2026, 20:37 WIB
Monica, salah seorang calon jemaah Hanania Travel yang gagal berangkat umrah karena diduga pemilik travel bawa kabur uang jemaah. (Liputan6.com/Ady Anugrahadi)

Liputan6.com, Jakarta - Langkah kaki Monica terasa berat saat berjalan keluar dari gedung Polda Metro Jaya, Kamis (28/5/2026). Datang jauh-jauh dari Serang, Banten, perempuan ini membawa secercah harapan yang sayangnya harus berujung sia-sia.

Hari itu, Monica bersama puluhan calon jemaah umrah lainnya berkumpul untuk menunggu hasil mediasi antara pimpinan Hanania Travel dan perwakilan jemaah. Namun, begitu pintu ruang mediasi terbuka, kabar buruk yang kembali mereka terima.

Tak ada titik terang. Janji-janji yang selama ini diembuskan pihak travel tampaknya mulai menemui jalan buntu.

“Sudah enggak bisa dimediasiin lagi kayaknya. Karena memang dia (pemilik travel) enggak bisa bayar,” tutur Monica dengan nada kecewa saat ditemui di lokasi.

Terpikat Paket Premium di Media Sosial

Monica kemudian mengenang kembali awal mula dirinya bisa terjebak dalam pusaran masalah ini. Semua bermula dari layar ponsel. Lewat media sosial, ia melihat promosi Hanania Travel yang tampak begitu meyakinkan.

Pelayanannya terlihat profesional, pilihan paketnya pun beragam dan menggiurkan—mulai dari ibadah umrah reguler hingga paket plus jalan-jalan ke Dubai dan Turki. Terpikat dengan penawaran tersebut, Monica dan suaminya memantapkan niat untuk mendaftar paket bertajuk “Premium Pelataran”.

Biaya awal untuk satu paket dibanderol Rp38,9 juta. Demi kenyamanan beribadah, Monica rela merogoh kocek lebih dalam untuk melakukan upgrade kamar dengan menambah Rp14 juta untuk dua orang. Tak tanggung-tanggung, ia juga mengambil layanan dokumentasi fotografer pribadi senilai hampir Rp5 juta.

Secara keseluruhan, Monica sudah menyetor uang hingga Rp95,5 juta. Proses pendaftaran dilakukan pada Desember 2025, dan seluruh biaya tersebut telah dilunasinya pada Januari 2026.

Saat itu, semuanya tampak berjalan lancar. Bahkan, mendekati hari keberangkatan yang dijadwalkan pada 29 Maret 2026, dokumen penting yang ditunggu-tunggu sudah rampung.

“Visa tuh sebenarnya sudah keluar,” ucap Monica.

 

Syok Mengetahui Gagal Berangkat dari Media Sosial

Suasana ibadah tawaf jemaah haji dan umrah dari berbagai negara, termasuk Indonesia di Masjidil Haram, Makkah. (FOTO: MCH PPIH ARAB SAUDI)

 

Namun, petaka justru datang tepat tiga hari sebelum jadwal keberangkatan (H-3). Anehnya, kabar buruk itu tidak datang dari pihak Hanania Travel, melainkan dari hasil penelusuran Monica sendiri di dunia maya.

Melalui media sosial, Monica mendapati kabar mengejutkan bahwa jemaah yang dijadwalkan berangkat pada 25 dan 26 Maret ternyata gagal terbang. Kekacauan sempat pecah di bandara karena sebagian jemaah sudah telanjur tiba di sana, hanya beberapa jam sebelum jadwal pesawat lepas landas.

Beruntung, Monica belum sempat bertolak ke bandara. Namun, kenyataan bahwa impiannya ke Tanah Suci batal seketika membuatnya syok.

“Kalau enggak cari tahu sendiri, aku enggak akan tahu kalau umrah aku gagal," ungkapnya.

Bayang-Bayang Kasus First Travel

Meski merasa dibohongi, Monica dan jemaah lainnya tidak langsung gegabah melaporkan kasus ini ke polisi. Ada satu kekhawatiran besar yang membuat mereka menahan diri, nasib uang yang sudah disetorkan (refund).

Tragedi kasus First Travel beberapa tahun silam membayangi pikiran mereka. Para jemaah khawatir jika langsung menempuh jalur pidana dan memenjarakan pemilik travel, peluang untuk mendapatkan uang mereka kembali justru akan semakin menipis.

Jalur damai lewat mediasi akhirnya dipilih sebagai jalan tengah. Salah satu pertemuan besar sempat digelar di Ballroom Ciputra pada April lalu, yang mempertemukan pihak travel, perwakilan jemaah, dan Kementerian Agama.

Dalam mediasi tersebut, pihak Hanania Travel berjanji akan mengembalikan dana jemaah secara bertahap. Opsi yang ditawarkan beragam; ada jemaah yang memilih pengembalian uang total (refund), jadwal ulang keberangkatan (re-schedule), hingga tetap meminta diberangkatkan.

Sebuah skema pembayaran pun disusun. Jemaah Syawal yang mencakup jemaah gagal berangkat pada bulan Maret dijanjikan akan menerima pengembalian dana sebesar 30 persen paling lambat tanggal 29 Mei.

Nilai yang harus dibayarkan tentu fantastis. Menurut Monica, untuk kelompok terbang bulan Maret saja jumlahnya mencapai sekitar 1.500 orang. Angka ini belum ditambah dengan jemaah yang dijadwalkan berangkat pada bulan Juni, Juli, dan Agustus.

 

Diduga Pakai Modus Gali Lubang Tutup Lubang

Sayangnya, mendekati tenggat waktu yang dijanjikan, komitmen pihak travel kembali goyah. Janji manis itu perlahan menguap.

“Belum, belum semua,” kata Monica getir saat ditanya soal realisasi pengembalian uang tersebut.

Ia tidak menampik bahwa ada beberapa jemaah yang sudah menerima transferan uang, bahkan ada yang langsung lunas sejak awal dinyatakan gagal berangkat. Namun, jumlahnya sangat sedikit dan pembayarannya dilakukan secara acak alias tidak merata.

Melihat proses mediasi yang terus berjalan di tempat dan janji yang kerap meleset, Monica mulai menyadari ada yang tidak beres dengan manajemen keuangan Hanania Travel. Ia menduga uang jemaah telah disalahgunakan.

“Dia itu ternyata gali lubang tutup lubang," cetus Monica.

Dugaan kuat Monica mengarah pada skema di mana biaya keberangkatan satu kelompok jemaah sebenarnya ditopang oleh uang pendaftaran dari kelompok jemaah berikutnya. Ketika perputaran uang itu macet, maka runtuhlah seluruh sistem keberangkatan.

Kini, setelah mediasi tak lagi menemui titik temu, Monica dan ratusan jemaah lainnya hanya bisa bersandar pada proses hukum di Polda Metro Jaya. Ia berharap keadilan bisa ditegakkan dan hak-hak mereka dikembalikan.

"Berharap pelakunya diproses hukum, dan uang kita bisa balik," pungkasnya.

Infografis Skema Murur dan Tanazul Jemaah Saat Puncak Haji 2026. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya