Pelatih Juventus Marcello Lippi sepanjang hidupnya pasti tak akan pernah lupa pada sosok penyerang muda bernama Raul Gonzales. Bagaimana mungkin bisa lupa? Di depan sekitar 80 ribu penonton yang menyaksikan langsung pertempuran akbar Juventus versus Real Madrid dan jutaan pasang mata lainnya melalui siaran televisi di seluruh dunia, dirinya dipermalukan. Ketika itu di leg pertama babak perempatfinal Liga Champions 1996, armada Juventus di bawah admiral utama Marcello Lippi menyatroni markas Real Madrid di Santiago Bernabeu. Sang komandan kapal membawa para personel utamanya. Sejumlah bintang seperti Didier Deschamps, Paolo Sousa, dan tombak kembar Fabrizio Ravanelli serta Gianluca Vialli dijamin membuat setiap lawannya bergetar sebelum bertanding. Nama-nama besar itu pun rasanya masih belum lengkap. Masih ada lagi striker muda Juve yang namanya sedang melambung, Alessandro Del Piero dibawanya serta. Tapi kenyataan berbicara lain. Pertempuran seru sepanjang 90 menit itu akhirnya berujung pada gol tunggal 'bocah ingusan' Raul Gonzalez yang ketika itu masih berusia 18 tahun. Juventus pun takluk oleh seorang Raul. Dunia pun heboh. Media massa di Italia menyindir habis-habisan keperkasaan Juve yang ternyata takluk oleh seorang 'bocah ingusan' striker muda Real Madrid Raul Gonzalez. Nama pemuda bernama lengkap Raul Gonzalez Blanco itu langsung melambung. Striker kelahiran Madrid, Spanyol 27 Juni 1977 itu pun jadi pembicaraan hangat di kalangan publik sepakbola Eropa dan dunia. Hingga kini, gol spektakuler yang diciptakan oleh seorang pemain muda berusia 18 tahun itu masih menjadi catatan sejarah Liga Champions, rekor yang belum terpecahkan. Balas Dendam Berbuah JuaraMarcello Lippi tak mau dipermalukan lagi. Di laga leg kedua yang digelar di Stadion Delli Alpi Torino, skuat Juventus membalas tuntas kekalahannya di Bernabeu. Melalui gol striker andalannya Alessandro Del Piero dan Padovano, Si Nyonya Tua unggul 2-0. Juve pun menyisihkan Real Madrid dan berhak maju ke babak selanjutnya dengan keunggulan agregat gol 2-1. Pada musim 1995-1996 ini akhirnya Juventus keluar sebagai jawara Piala Champions. Di final Juventus menaklukkan raksasa Belanda Ajax Amsterdam dalam drama adu penalti yang sangat menegangkan. Real Madrid ternyata menyimpan dendam kesumat pada Juventus atas kekalahannya di Delle Alpi itu. Rasa dendam itu baru bisa terlampiaskan ketika tak dinyana mereka bertemu di partai puncak Liga Champions 1998. Juventus yang masih dikomandani Marcello Lippi (1994-1999) ketika itu membawa serta pemain top asal Prancis Zinedine Zidane. Namun Madrid yang saat itu ditangani pelatih bertangan dingin asal Jerman Jupp Heynckes tak gentar dengan banyaknya bintang Juve. Alhasil, gol tunggal Pedrag Mijatovic mampu menaklukkan impian Juve. Real Madrid telah menorehkan sejarah dengan menjuarai Liga Champions setelah 32 tahun menunggu. Pertarungan Hingga Era MileniumTakdir mempertemukan kembali Real Madrid dan Juventus di era 2003 silam. Pada babak semifinal leg pertama, Madrid menjamu Si Nyonya Besar. Duel striker top jaman itu, Ronaldo vs David Trazeguet benar-benar mampu membawa decak kagum sekitar 75 ribu penonton yang menjejali Santiago Bernabeu. Gol Ronaldo ke gawang Juve langsung dibalas Trazeguet. Namun laga akhirnya berkesudahan 2-1 setelah winger asal Brasil Roberto Carlos yang didukung Zenedine Zidane dan Luis Figo menceploskan bola ke gawang Juve. Pada pertemuan leg kedua, armada Juventus benar-benar puas membalaskan kekalahannya di Bernabeu. Bermain di kandang sendiri, trio Juve Pavel Nedved, David Trazeguet, dan Alessandro Del Piero menjungkalkan perjuangan Real Madrid. Tiga bintang Juve itu masing-masing mengemas gol yang membawa Si Nyonya Besar unggul 3-1. Gol penghiburan Madrid dipersembahkan Zidane yang waktu itu telah hengkang ke Santiago Bernabeu. Pasukan Baru Dendam LamaLiga Champions musim 2013-2014 lagi-lagi mempertemukan dua raksasa, Real Madrid dan Juventus. Pertemuan kedua di Juventus Stadium, Torino, Rabu (6/11/2013) dinihari WIB itu belum mampu membalaskan dendam Nyonya Besar atas kekalahannya di Santiago Bernabeu 24 Oktober lalu. Ketika itu, Juve takluk 1-2. Hasil akhir dengan skor imbang 2-2 pada pertemuan di kandang Juve itu terpaksa harus ditelan sang pelatih Antonio Conte. Sementara pelatih Real Madrid Carlo Ancelotti boleh tersenyum lepas dengan hasil itu karena langkahnya sedikit agak ringan. Dalam pertempuran Rabu (6/11/2013) itu, pasukan yang dibawa Conte dengan barisan penyerang seperti Llorente, Tevez dan Pogba yang kadang disokong Pirlo terus membombardir pertahanan Madrid yang digalang Pepe, Sergio Ramos, dan Varane. Tapi gol dari titik penalti menjelang akhir babak pertama di menit ke-41 yang dieksekusi Vidal sempat membuyarkan konsentrasi Madrid. Akhir babak pertama ada di tangan tuan rumah Juventus. Di laga babak kedua, sang tamu Real Madrid yang sempat kaget dengan gol penalti di babak pertama mampu mengembalikan rasa kepercayaan diri. Itu karena gol Cristiano Ronaldo di menit ke-52 dari hasil umpan Benzema yang jadi obat penyemangat tim. Hanya sekitar 7 menitan setelah gol CR7, pasukan asuhan Ancelotti sudah membalikkan keadaan. Ronaldo memberikan assist pada Bale yang berakhir dengan gol cantik. Untunglah ada Llorente yang berhasil menyamakan kedudukan hingga Juventus tak malu di depan publik pendukungnya sendiri. Skor akhir 2-2 akhirnya menyudahi pertempuran Juventus versus Madrid. Laga ini akan menjadi catatan sejarah tersendiri tentang pertemuan dua raksasa asal Spanyol dan Italia. Catatan histori yang menorehkan sportivitas, ambisi, kekuasaan, strategi, dan gengsi. (*Dari berbagai sumber)
Advertisement