Olivia Rodrigo Tanggapi Kontroversi Gaun Babydoll, Merasa Diseksualisasi

Olivia Rodrigo tidak merasa seksi saat mengenakan gaun babydoll yang menyeretnya ke dalam kontroversi.

oleh Dinny MutiahDiterbitkan 29 Mei 2026, 11:00 WIB
Olivia Rodrigo. (dok. Jean Baptiste Lacroix / AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Olivia Rodrigo akhirnya angkat suara usai gaun babydoll yang dikenakannya saat manggung baru-baru ini menuai kritik. Pelantun lagu The Cure tersebut mengenakan gaun babydoll bermotif bunga merah muda dan putih beberapa waktu lalu.

Rodrigo membahasnya saat muncul sebagai bintang tamu di Podcast The New York Times yang cuplikannya dipublikasikan pada Rabu, 27 Mei 2026, sehari sebelum episode lengkapnya dirilis.

"Itu membuatku sangat kesal," kata penyanyi berusia 23 tahun itu ketika topik tersebut diangkat, dikutip dari People, Kamis (28/5/2026). "Bahkan bukan untukku. Orang-orang bisa mengatakan apa pun yang mereka inginkan."

"Yang benar-benar mengganggu adalah aku pernah mengenakan pakaian yang mungkin agak terbuka di atas panggung," lanjut Rodrigo, menggambarkan salah satu pakaian tur yang terdiri dari "bra berkilauan dan celana pendek," menambahkan bahwa itu adalah "haknya" untuk berpakaian sesuai keinginannya.

"Itu menyenangkan, aku merasa keren dan nyaman mengenakannya," lanjut bintang pop itu. "Dan itu tidak tidak pantas, tetapi aku yang sepenuhnya tertutup dalam gaun yang dianggap orang sebagai kekanak-kanakan itu tidak pantas."

Ia menganggap bahwa kritik tersebut 'menunjukkan bagaimana kita benar-benar menormalisasi pedofilia dalam budaya kita'.

"Selain itu, ini hanyalah retorika yang dijejalkan kepada kita sebagai perempuan sejak kita masih kecil, yaitu, jangan memakai itu karena kemudian seorang pria akan menseksualisasi tubuhmu dan itu adalah kesalahanmu," Rodrigo menjelaskan. "Itu sangat aneh."

 

Tak Merasa Seksi Bergaun Babydoll

Babydoll dress memiliki sejarah panjang di dunia fashion,mulai dari era Perang Dunia II hingga menjadi simbol gaya feminin sepert yang digunakan oleh Olivia Rodrigo dan budaya pop modern. (dok. tangkapan layar Instagram @xavitorrentphoto/https://www.instagram.com/p/DYGVHSRCtxQ/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==/Dea Sifa)

Rodrigo menyatakan bahwa ia sama sekali tidak berpikir terlihat seksi dengan gaun babydoll itu. "Saya malah berpikir, ini sangat keren."

Ia merujuk pada vokalis Bikini Kill, Kathleen Hanna, dan Courtney Love, yang mengenakan gaun serupa pada 1990-an. "Semua orang ini adalah pahlawan saya, dan saya merasa keren dan nyaman mengenakannya," kata Rodrigo.

"Saya hanya berpikir jika kita mulai berpakaian dengan cara seperti, 'Saya tidak ingin ada orang aneh yang berpikir bahwa saya seksi seperti bayi' atau hal gila semacam itu, saya pikir itu sedikit melenceng dari jalur yang benar. Saya sangat melindungi perempuan muda, gadis-gadis, dan saya tidak pernah ingin mereka diberi retorika seperti itu," sambungnya.

Bahasan itu muncul jelang perilisan album ketiganya, You Seem Pretty Sad for a Girl So in Love, yang akan dirilis pada 12 Juni 2026. Album tersebut akan menceritakan naik turunnya hubungan romantis, dan hubungan penyanyi-penulis lagu dengan dirinya sendiri dalam proses tersebut.

Sejarah Gaun Babydoll

Babydoll dress kembali viral lewat gaya Olivia Rodrigo. Simak sejarah gaun feminim ikonis ini dari era Perang Dunia II hingga budaya pop modern. (dok. tangkapan layar Instagram @oliviarodrigo/https://www.instagram.com/p/DXQe8b3lGnt/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==/Dea Sifa)

Gaun babydoll pertama kali populer pada 1942 berkat karya desainer pakaian dalam Sylvia Pedlar. Sosok yang karyanya kini menjadi bagian dari koleksi kostum The Metropolitan Museum of Art atau The Met tersebut dianggap sebagai pencipta sekaligus tokoh yang mempopulerkan siluet babydoll modern.

Kemunculan gaun babydoll tidak lepas dari situasi Perang Dunia II, ketika penjatahan kain membuat banyak desainer harus mencari cara baru untuk menciptakan pakaian yang lebih hemat bahan. Pedlar kemudian memotong panjang gaun tidur tradisional hingga sebatas lutut, menghasilkan desain yang lebih ringan, praktis, dan terasa modern pada masanya.

Gaya tersebut perlahan berkembang menjadi tren fesyen perempuan yang identik dengan siluet longgar, nyaman, dan feminin. Meski desain itu kemudian dikenal luas dengan istilah 'babydoll', Pedlar kabarnya tidak menyukai sebutan tersebut. Namun, nama babydoll terus melekat dan menjadi salah satu gaya fashion paling ikonis yang bertahan lintas generasi.

Simbol Gerakan Perempuan

Olivia Rodrigo. (Jean Baptiste Lacroix / AFP)

Seiring perkembangan mode, gaun babydoll kemudian menjadi simbol gaya feminin yang santai dan playful. Ciri khasnya berupa siluet longgar, potongan pendek, dan detail pinggang empire yang memberi kesan ringan dan nyaman dikenakan. Pada era 1960-an, gaya ini semakin populer lewat pengaruh budaya Swinging London dan karya desainer Mary Quant, sebelum kembali dihidupkan oleh kultur grunge pada era 1990-an.

Tak hanya itu, bloomers atau celana pendek longgar yang kerap dipadukan dengan gaun babydoll juga memiliki akar sejarah penting dalam gerakan perempuan. Item tersebut pernah menjadi simbol kebebasan berpakaian bagi perempuan pada masa gerakan suffragette karena dianggap lebih praktis dibanding pakaian ketat di era tersebut.

Popularitas gaun babydoll semakin meningkat pada tahun 1956 setelah film Baby Doll karya Tennessee Williams tayang di bioskop. Dalam film tersebut, aktris Carroll Baker memerankan karakter Baby Doll Meighan dengan penampilan khas mengenakan gaun tidur pendek bergaya feminin ala pertengahan abad ke-20.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya