Zelenskyy Kirim Surat ke Trump, Minta Amunisi Canggih

Amunisi canggih seperti apa yang diminta oleh Zelenskyy ke Trump?

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 28 Mei 2026, 10:07 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dalam pertemuan di Gedung Putih, Senin (18/8/2025). (Dok. AP Photo/Julia Demaree Nikhinson)

Liputan6.com, Kyiv - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy meminta Amerika Serikat menyediakan tambahan amunisi sistem pertahanan udara Patriot untuk menghadapi serangan rudal balistik Rusia yang terus meningkat.

Permintaan itu disampaikan Zelenskyy melalui surat tertanggal 26 Mei kepada Presiden AS Donald Trump, sebagaimana ditinjau kantor berita AFP pada Rabu (28/5/2026).

Dalam surat tersebut, Zelenskyy meminta Washington membantu Ukraina memperoleh rudal Patriot PAC-3 dan sistem tambahan guna melindungi wilayahnya dari serangan Rusia.

“Bantu kami mengamankan alat perlindungan vital ini terhadap teror Rusia -- rudal Patriot PAC-3 dan sistem tambahan -- untuk menghentikan rudal balistik Rusia dan serangan rudal Rusia lainnya,” tulis Zelenskyy dalam surat itu, dikutip dari Euro News, Kamis (28/5/2026).

Penasihat Zelenskyy, Dmytro Lytvyn, mengonfirmasi surat tersebut telah dikirim kepada Trump dan Kongres AS.

Permintaan Kyiv muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran atas menipisnya stok amunisi pertahanan udara Barat. Seorang pejabat senior kepresidenan Ukraina mengatakan pasokan rudal kini semakin sulit diperoleh karena tingginya permintaan global, terutama setelah perang Iran memicu penggunaan besar-besaran amunisi pertahanan udara di kawasan Teluk.

“Sangat sulit menemukan rudal saat ini ketika ada begitu banyak pesanan lain di Teluk dan wilayah lain,” kata pejabat tersebut kepada AFP.

Ia menambahkan mekanisme pengadaan senjata melalui skema PURL — di mana negara-negara Eropa membeli persenjataan AS untuk Ukraina — juga mengalami perlambatan.

 

Sejumlah Serangan Rusia ke Ukraina

Asap mengepul saat serangan Rusia di ibu kota Ukraina, Kyiv, pada Minggu 24 Mei 2026, di tengah invasi Rusia di Ukraina. (Evgen KOTENKO/AFP)

Kekurangan amunisi pertahanan udara terjadi ketika Rusia meningkatkan intensitas serangan ke Kyiv. Dalam salah satu serangan terbesar akhir pekan lalu, Rusia meluncurkan puluhan drone dan rudal yang menewaskan sedikitnya empat orang serta menyebabkan kerusakan luas di ibu kota Ukraina.

Menurut laporan, Rusia turut menggunakan rudal hipersonik Oreshnik dalam serangan tersebut. Moskow mengklaim rudal itu mampu melaju hingga 10 kali kecepatan suara dan dapat membawa hulu ledak nuklir.

Di tengah eskalasi perang, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Washington masih siap menjadi mediator antara Rusia dan Ukraina.

“Setiap kali Anda melihat serangan besar-besaran dari satu pihak atau pihak lain, itu menjadi pengingat mengapa ini adalah perang mengerikan yang perlu diakhiri,” kata Rubio saat kunjungan resmi ke India.

Pernyataan Rubio disampaikan setelah Rusia memperingatkan akan melakukan serangan “sistematis” terhadap Kyiv, termasuk terhadap pusat-pusat pengambilan keputusan Ukraina.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya