Draf Kesepakatan AS-Iran Bocor, Selat Hormuz Akan Dikelola Bersama Oman

Media pemerintah Iran menyebut draf kesepakatan dengan AS mencakup pengelolaan Selat Hormuz bersama Oman.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 27 Mei 2026, 21:40 WIB
Matahari terbit di balik kapal tanker yang berlabuh di Selat Hormuz di lepas pantai Pulau Qeshm, Iran, Sabtu, 18 April 2026. (AP Photo/Asghar Besharati)

Liputan6.com, Jakarta - Media pemerintah Iran mengklaim memperoleh salinan draf kesepakatan potensial antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang memuat sejumlah poin penting, termasuk kerja sama antara Tehran dan Oman untuk mengelola lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.

Menurut laporan penyiar pemerintah Iran, IRIB, yang dikutip Anadolu, Rabu (27/5/2026), Iran akan berkomitmen mengembalikan jumlah kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz ke tingkat sebelum meningkatnya ketegangan dalam waktu satu bulan setelah kesepakatan tercapai.

Namun, ketentuan tersebut disebut hanya berlaku bagi kapal komersial dan tidak mencakup kapal militer.

Laporan itu juga menyebut Amerika Serikat akan mencabut blokade laut terhadap pelabuhan Iran sebagai bagian dari kesepakatan.

Selain itu, Washington diklaim telah memberikan komitmen untuk menarik pasukan militernya dari wilayah sekitar Iran.

Meski demikian, laporan tersebut menyebut masih terdapat pembahasan lanjutan terkait ruang lingkup penarikan pasukan.

"Apakah klausul ini mencakup pasukan yang ditempatkan di kawasan atau pasukan yang berada di pangkalan militer masih memerlukan negosiasi," demikian isi laporan tersebut.

 

Belum Difinalisasi

Dua perahu tradisional berlayar melewati sebuah kapal kontainer besar di Selat Hormuz, Jumat, 19 Mei 2023. (AP/Jon Gambrell)

Draf itu juga menyebut jika kesepakatan akhir dapat dicapai dalam periode 60 hari, hasilnya akan diajukan menjadi resolusi mengikat di United Nations Security Council.

Namun media pemerintah Iran menegaskan hingga saat ini kesepakatan tersebut belum difinalisasi.

"Tidak ada langkah yang akan diambil Iran tanpa verifikasi nyata," demikian isi laporan itu.

Ketegangan di kawasan meningkat sejak 28 Februari setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan mendadak ke Iran. Tehran kemudian merespons melalui serangan drone dan rudal yang menargetkan sejumlah wilayah di kawasan, sekaligus menutup Selat Hormuz.

Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan. Namun, pembicaraan lanjutan di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan permanen.

Presiden AS Donald Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu, meski blokade terhadap kapal yang menuju atau berangkat dari pelabuhan Iran masih tetap berlangsung.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya