Pelabuhan Gresik di Jawa Timur mendapatkan tambahan fasilitas baru berupa dermaga curah cair sepanjang 210 meter dan fasilitas pendukung curah cair lainnya.
General Manager PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) Cabang Gresik, Mahmud Syamsudin mengatakan dengan tambahan tersebut, kapasitas Pelabuhan Gresik yang menjadi penyangga Pelabuhan Tanjung Perak tersebut mencapai 500 ribu ton curah cair selama satu tahun.
"Fasilitas curah cair dibangun untuk memenuhi kebutuhan industri di Gresik yang terus meningkat," kata Mahmud, dalam laporan tertulisnya, di Jakarta, Selasa (29/10/2013).
Pelindo III juga memiliki kesepakatan kerja dengan PT Petro Oxo Nusantara (PON). Mahmud mengatakan potensi yang didapat dari kesepakatan dengan PT PON ini mencapai 120 ribu ton per tahun.
“Selain dengan PT PON, kami juga sedang melakukan negosiasi dengan PT Karya Indah Alam Sejahtera (KIAS). Potensi dari PT KIAS ini kurang lebih 300 ribu ton per tahun,” ungkap Mahmud.
Mahmud menambahkan, tahun 2010 lalu arus curah cair yang melalui Pelabuhan Gresik hanya tercatat sebanyak 103.031 ton. Jumlah tersebut terus meningkat, pada 2011 tercatat sebanyak 309.492 ton, naik di 2012 sebanyak 647.604 ton, dan hingga September 2013 mencapai 534.498 ton.
“Arus yang cukup besar ini kebanyakan masuk melalui pelabuhan khusus yang ada di sekitar Pelabuhan Gresik. Yang masuk ke tempat kami hanya sekitar 1.500-4.000 ton, dengan fasilitas baru ini diharapkan semuanya bisa masuk melalui Pelabuhan Gresik,” jelas Mahmud.
Menurutnya, dermaga curah cair di Pelabuhan Gresik ini didukung dengan instalasi curah cair yang mewadahi. Sistem itu memungkinkan untuk menyalurkan produk curah cair dari kapal langsung menuju industri dengan menggunakan pipa.
Namun meski demikian, masih dimungkinkan juga untuk menyalurkan produk curah cair dengan menggunakan angkutan truk tangki yang terlebih dulu disimpan di dalam tangki penimbunan.
Selain itu, dengan fasilitas tersebut aktivitas bongkar muat curah cair akan menjadi lebih cepat hingga mencapai 100 ton per jam. Selama ini, produktivitas bongkar muat curah cair dengan sistem konvensional hanya 70 ton per jam.
“Yang tidak kalah penting adalah fasilitas dermaga kita ini di kedua sisinya dapat digunakan untuk bersandar kapal. Satu sisi memiliki kedalaman -12 meter LWS, sisi lainnya memiliki kedalaman -9 meter LWS. Jadi bisa digunakan untuk bersandar kapal-kapal dengan ukuran dan muatan yang cukup besar,” tutup Mahmud. (Pew/Nur)
General Manager PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) Cabang Gresik, Mahmud Syamsudin mengatakan dengan tambahan tersebut, kapasitas Pelabuhan Gresik yang menjadi penyangga Pelabuhan Tanjung Perak tersebut mencapai 500 ribu ton curah cair selama satu tahun.
"Fasilitas curah cair dibangun untuk memenuhi kebutuhan industri di Gresik yang terus meningkat," kata Mahmud, dalam laporan tertulisnya, di Jakarta, Selasa (29/10/2013).
Pelindo III juga memiliki kesepakatan kerja dengan PT Petro Oxo Nusantara (PON). Mahmud mengatakan potensi yang didapat dari kesepakatan dengan PT PON ini mencapai 120 ribu ton per tahun.
“Selain dengan PT PON, kami juga sedang melakukan negosiasi dengan PT Karya Indah Alam Sejahtera (KIAS). Potensi dari PT KIAS ini kurang lebih 300 ribu ton per tahun,” ungkap Mahmud.
Mahmud menambahkan, tahun 2010 lalu arus curah cair yang melalui Pelabuhan Gresik hanya tercatat sebanyak 103.031 ton. Jumlah tersebut terus meningkat, pada 2011 tercatat sebanyak 309.492 ton, naik di 2012 sebanyak 647.604 ton, dan hingga September 2013 mencapai 534.498 ton.
“Arus yang cukup besar ini kebanyakan masuk melalui pelabuhan khusus yang ada di sekitar Pelabuhan Gresik. Yang masuk ke tempat kami hanya sekitar 1.500-4.000 ton, dengan fasilitas baru ini diharapkan semuanya bisa masuk melalui Pelabuhan Gresik,” jelas Mahmud.
Menurutnya, dermaga curah cair di Pelabuhan Gresik ini didukung dengan instalasi curah cair yang mewadahi. Sistem itu memungkinkan untuk menyalurkan produk curah cair dari kapal langsung menuju industri dengan menggunakan pipa.
Namun meski demikian, masih dimungkinkan juga untuk menyalurkan produk curah cair dengan menggunakan angkutan truk tangki yang terlebih dulu disimpan di dalam tangki penimbunan.
Selain itu, dengan fasilitas tersebut aktivitas bongkar muat curah cair akan menjadi lebih cepat hingga mencapai 100 ton per jam. Selama ini, produktivitas bongkar muat curah cair dengan sistem konvensional hanya 70 ton per jam.
“Yang tidak kalah penting adalah fasilitas dermaga kita ini di kedua sisinya dapat digunakan untuk bersandar kapal. Satu sisi memiliki kedalaman -12 meter LWS, sisi lainnya memiliki kedalaman -9 meter LWS. Jadi bisa digunakan untuk bersandar kapal-kapal dengan ukuran dan muatan yang cukup besar,” tutup Mahmud. (Pew/Nur)