Liputan6.com, Jakarta: Usaha Komisi Pemilihan Umum DKI Jakarta mensosialisasikan pesta demokrasi di Plaza Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (20/2), sia-sia. Padahal, petugas sudah berjaga sejak pagi hari. Bilik suara pun diatur mirip tempat pemungutan suara. Tapi, hingga menjelang siang, hanya sedikit pengunjung yang ikut simulasi. Upaya jemput bola pun dianggap gagal.
Ketua KPU DKI Jakarta M. Taufik menyayangkan kurangnya minat masyarakat untuk mengikuti pelatihan pemilu. Padahal, warga DKI diyakini belum banyak yang memahami tata cara pencoblosan suara. Kendati kurang mendapat perhatian, KPU DKI Jakarta akan terus mensosialisasikan pemilu. Taufik menyebutkan, selain di Plaza Senayan, sosialisasi juga dilakukan serentak di 267 kelurahan se-Jakarta.
Pada hari bersamaan, KPU Daerah Palangkaraya juga menggelar simulasi. Pesertanya adalah wanita tuna susila yang bermukim di Kompleks Lokalisasi Bukit Sungkai, Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Animo para pelacur cukup tinggi. Mereka tampak antusias mengikuti petunjuk untuk mencoblos. Para PSK juga mendapat ceramah dari Ketua KPU Palangkaraya Margo. Sebagian pekerja seks komersial (PSK) itu terlihat malu-malu saat kamera SCTV menyorot mereka.
Margo menilai simulasi pemilu berjalan mulus. Dari 40 peserta hanya tiga yang dinyatakan gagal. Margo berharap para PSK tidak lupa saat pemilihan umum sesungguhnya digelar, April mendatang. Dia juga meminta mereka menyebarluaskan informasi tentang pemilu kepada sesama WTS yang tidak bisa hadir dalam acara simulasi.
Di Jambi, para pelajar juga ikut simulasi. Mereka tampak serius mengikuti petunjuk mencoblos suara yang diberikan petugas dari KPUD Jambi. Sayangnya, para pelajar tampak kesulitan saat menusuk kertas suara di bilik yang disediakan. Bilik suara dinilai terlalu kecil dan tingginya kurang memadai sehingga ketidaknyamanan saat memilih sangat terasa [baca: Bilik Suara Dikeluhkan Pemilih di Jambi].
KPUD Jambi mengakui bahwa bilik suara kurang nyaman dipakai para pemilih. Tapi, mereka mengaku tak bisa berbuat banyak, karena bilik tersebut dikirim langsung dari KPU Pusat.(KEN/Tim Liputan 6 SCTV)
Ketua KPU DKI Jakarta M. Taufik menyayangkan kurangnya minat masyarakat untuk mengikuti pelatihan pemilu. Padahal, warga DKI diyakini belum banyak yang memahami tata cara pencoblosan suara. Kendati kurang mendapat perhatian, KPU DKI Jakarta akan terus mensosialisasikan pemilu. Taufik menyebutkan, selain di Plaza Senayan, sosialisasi juga dilakukan serentak di 267 kelurahan se-Jakarta.
Pada hari bersamaan, KPU Daerah Palangkaraya juga menggelar simulasi. Pesertanya adalah wanita tuna susila yang bermukim di Kompleks Lokalisasi Bukit Sungkai, Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Animo para pelacur cukup tinggi. Mereka tampak antusias mengikuti petunjuk untuk mencoblos. Para PSK juga mendapat ceramah dari Ketua KPU Palangkaraya Margo. Sebagian pekerja seks komersial (PSK) itu terlihat malu-malu saat kamera SCTV menyorot mereka.
Margo menilai simulasi pemilu berjalan mulus. Dari 40 peserta hanya tiga yang dinyatakan gagal. Margo berharap para PSK tidak lupa saat pemilihan umum sesungguhnya digelar, April mendatang. Dia juga meminta mereka menyebarluaskan informasi tentang pemilu kepada sesama WTS yang tidak bisa hadir dalam acara simulasi.
Di Jambi, para pelajar juga ikut simulasi. Mereka tampak serius mengikuti petunjuk mencoblos suara yang diberikan petugas dari KPUD Jambi. Sayangnya, para pelajar tampak kesulitan saat menusuk kertas suara di bilik yang disediakan. Bilik suara dinilai terlalu kecil dan tingginya kurang memadai sehingga ketidaknyamanan saat memilih sangat terasa [baca: Bilik Suara Dikeluhkan Pemilih di Jambi].
KPUD Jambi mengakui bahwa bilik suara kurang nyaman dipakai para pemilih. Tapi, mereka mengaku tak bisa berbuat banyak, karena bilik tersebut dikirim langsung dari KPU Pusat.(KEN/Tim Liputan 6 SCTV)