Meneropong Prospek IHSG hingga Akhir Semester I 2026

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih loyo. Berikut prediksi dan strategi investasi saham hingga akhir semester I 2026.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 25 Mei 2026, 18:30 WIB
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 28,74% year to date (ytd) hingga 22 Mei 2026.(Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lesu sepanjang semester I 2026. IHSG pun diperkirakan masih bergejolak hingga perdagangan saham akhir semester I 2026 yang didorong sejumlah faktor terutama dari sentimen internal.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (24/5/2026), IHSG turun 28,74% year to date (ytd) menjadi 6.162,04 hingga penutupan perdagangan Jumat, 22 Mei 2026.

Sepanjang 2026, seluruh sektor saham tertekan dan sektor saham energi memimpin koreksi. Sektor saham energi turun 33,84 persen, sektor saham infrastruktur turun 31,16 persen dan sektor saham properti dan real estate tergelincir 30,09 persen. Di sisi lain, sektor saham bacis materials terpangkas 20,09 persen, sektor saham  industri tergelincir 21,47 persen dan sektor saham consumer nonsiklikal melemah 14,03 persen.

Selanjutnya sektor saham consumer siklikal terpangkas 24,11 persen, sektor saham perawatan kesehatan merosot 24,23 persen, sektor saham keuangan terperosok 16,04 persen. Sektor saham teknologi turun 26,32 persen, dan sektor saham transportasi serta logistik susut 11,94 persen.

Di sisi lain, investor asing telah melepas saham Rp 41,63 triliun sepanjang 2026.

Lalu bagaimana prospek IHSG hingga akhir semester pertama?

Fund Manager Syailendra Capital, Rendy Wijaya menuturkan, IHSG akan masih bergerak volatile hingga akhir semester I 2026. Hal ini karena tekanan jangka pendek dari faktor internal dan eksternal yakni rebalancing MSCI, rupiah melemah, aliran dana investor asing yang keluar.

"Selama faktor-faktor tersebut masih dominan, investor cenderung lebih berhati-hati terhadap aset berisiko,” kata dia kepada Liputan6.com.

Akan tetapi, setelah rebalancing MSCI efektif pada akhir Mei, tekanan teknikal berpotensi mereda. Pasar berpeluang membentuk stabilisasi. Namun, hal itu juga bergantung pada keputusan MSCI pada Juni 2026 yang tidak membawa kejutan negatif.

 

Sentimen IHSG

Seorang pria memantau layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang anjlok signifikan selama pembukaan pasar, di gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta pada Rabu 13 Mei 2026. (BAY ISMOYO/AFP)

Rendy menuturkan, setelah pengumuman MSCI, hal utama yang pertama dicermati yakni tanggal efektif rebalancing pada 29 Mei 2026 karena transaksi pasif biasanya meningkat mendekati penutupan perdagangan. Kemudian, keputusan MSCI pada Juni 2026 terkait aksesibilitas dan klasifikasi pasar Indonesia.

“Ke depan, pasar perlu mencermati keputusan MSCI terkait Market Accessibility Review dan Market Classification Review pada Juni 2026. Jika perbaikan disclosure dari regulator dinilai cukup, hal tersebut dapat membantu meredakan kekhawatiran investor,” ujar dia.

Sedangkan dari sentimen eksternal yang perlu dicermati yakni inflasi Amerika Serikat (AS), arah kebijakan bank sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed), perkembangan imbal hasil global, harga minyak, penguatan dolar AS dan ketidakpastian global.

“Inflasi AS yang lebih tinggi dari harapan dapat membuat ekspektasi suku bunga tetap tinggi lebih lama, yang biasanya kurang positif untuk emerging market,” tutur dia.

Ia mengatakan, harga minyak juga perlu dicermati terutama jika dipicu oleh eskalasi geopolitik. “Untuk Indonesia, harga minyak tinggi dapat menekan neraca eksternal, inflasi, subsidi energi, dan rupiah. Di sisi lain, beberapa emiten energi bisa mendapat sentimen positif dari harga komoditas yang lebih tinggi,” kata dia.

Reydi menuturkan, kombinasi dolar AS yang menguat, yield tinggi dan harga minyak tinggi biasanya menjadi lingkungan menantang bagi pasar emerging markets. “Karena itu, stabilitas rupiah dan respons kebijakan domestik akan menjadi faktor penting,” tutur dia.

Investasi Saham Masih Menarik?

Karyawan melintasi layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat acara Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2022 di Jakarta, Jumat (30/12/2022). PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada 59 perusahaan yang melakukan Initial Public Offering (IPO) atau pencatatan saham sepanjang 2022. Pada penutupan perdagangan akhir tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup lesu 0,14% atau 9,46 poin menjadi 6.850,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Pengamat pasar modal Reydi Octa melihat, pasar saham Indonesia masih menarik karena valuasi IHSG sudah lebih murah setelah alami koreksi tajam dan didukung basis investor lokal yang semakin besar.  Ia menilai, investor tidak perlu panik meski IHSG melemah dan harga saham turun, tetapi secara secara laba kuartalan, investor dapat menilai valuasi saham saat ini belum tentu sesuai dengan penurunan harga sahamnya.

“Jadi lebih selektif dalam memilih saham yang blue chip, dengan sektor dan industri yang defensive, investor akan lebih yakin untuk mengakumulasi saham di tengah penurunan IHSG,” tutur dia.

Demikian juga disampaikan Analis PT MNC Sekuritas Herditya Wicaksana. Ia menuturkan, investasi saham masih menarik dan pergerakan IHSG yang cenderung atraktif. Namun, investor dapat lebih selektif saat memilih saham. “Sektor saham bisa cek di consumer dan retail,” kata Herditya saat dihubungi Liputan6.com.

Akan tetapi, pasar saham Indonesia juga menghadapi tantangan. Reydi Octa melihat tantangan itu bagaimana regulator dan pemerintah mampu mengembalikan kepercayaan investor asing melalui kebijakan da regulasi yang konsisten. Selain itu, peningkatan kualitas free float dan lainnya. “Jika itu berhasil dilakukan, IHSG akan punya momentum recovery dan tetap kompetitif di regional dalam jangka menengah panjang,” kata dia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya