Liputan6.com, Jakarta: Keberadaan Partai Bulan Bintang sebagai kekuatan politik nasional tak bisa diragukan. Berbekal lebih dari dua persen suara dalam Pemilihan Umum 1999, Partai Bulan Bintang (PBB) melenggang mulus sebagai salah satu peserta Pemilu 2004. Adalah Yusril Ihza Mahendra yang kini menjabat Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia yang menjadi tokoh sentral partai ini. Diakui atau tidak, Yusril menjadi daya tarik utama partai ini. Tak heran jika ia dijadikan calon presiden yang diusung PBB.
Kini, berbagai strategi menghadapi pemilu telah disiapkan partai bernomor urut tiga ini. Sebuah badan pemenangan pemilu bernama Komite Aksi Pemenangan Pemilu (Kappu) dibentuk untuk memastikan amanah muktamar pada 2000, yakni merebut posisi tiga besar dalam perolehan suara Pemilu 2004. Bagi Ketua Kappu Sahar L. Hasan, target tersebut bukan retorika belaka. Dengan parameter kartu tanda anggota (KTA), PBB mengklaim memiliki lebih dari empat juta konstituen di seluruh Tanah Air. Buat PBB, angka itu adalah modal utama.
Di samping itu, hanya PBB yang tercatat sebagai satu-satunya kontestan pemilu yang mengadopsi falsafah dan perjuangan Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi). Kondisi ini, kata Sahar, memungkinkan PBB untuk merebut hati massa partai dengan platform sama yang gagal menjadi peserta pemilu mendatang. Begitu pula pemilih lepas yang berideologi Islam modernis yang nasionalis.
PBB juga tercatat sebagai salah satu partai di MPR yang berjuang dalam sidang amendemen keempat Undang-Undang Dasar 1945 untuk mengembalikan tegaknya syariat Islam. Karena itu, tak sedikit suara miring yang kemudian menghubungkan upaya tadi dengan tak tercapainya pemenuhan kuota 30 persen caleg perempuan PBB. Bahkan, seorang caleg perempuan PBB dari daerah pemilihan Padang Pariaman sempat mengamuk di depan Kantor Dewan Pimpinan Cabang setempat [baca: Caleg PBB Pariaman Dipecat]. Pasalnya, ia gagal menjadi caleg di nomor urut satu.
Namun, suara-suara miring itu ditepis Ketua Dewan Pimpinan Pusat PBB Ahmad Sumargono. Memang, ia tidak menyangkal bahwa porsi caleg perempuan PBB hanya sekitar 26 persen. Tapi, menurut dia, semua itu karena PBB mencoba untuk realistis tidak memaksakan diri seperti partai lain. Ahmad Sumargono mengaku sulit sekali mencari caleg perempuan yang berkualitas dengan waktu yang sangat terbatas. "Hanya beberapa bulan setelah undang-undang pemilu keluar," kata Gogon--begitu Sumargono disapa.
Memang, konsistensi PBB memperjuangkan penegakan syariat Islam, klaim penerus Masyumi, dan kuatnya sosok Yusril sebagai tokoh muda yang kharismatik menjadi kekuatan utama PBB dalam pesta demokrasi 5 April 2004. Akankah target PBB meraih 10 persen suara atau duduk di tiga besar dapat terpenuhi? Lihat saja nanti.(AWD/Alfito Deannova dan Joseph Herhudi Lestari)
Kini, berbagai strategi menghadapi pemilu telah disiapkan partai bernomor urut tiga ini. Sebuah badan pemenangan pemilu bernama Komite Aksi Pemenangan Pemilu (Kappu) dibentuk untuk memastikan amanah muktamar pada 2000, yakni merebut posisi tiga besar dalam perolehan suara Pemilu 2004. Bagi Ketua Kappu Sahar L. Hasan, target tersebut bukan retorika belaka. Dengan parameter kartu tanda anggota (KTA), PBB mengklaim memiliki lebih dari empat juta konstituen di seluruh Tanah Air. Buat PBB, angka itu adalah modal utama.
Di samping itu, hanya PBB yang tercatat sebagai satu-satunya kontestan pemilu yang mengadopsi falsafah dan perjuangan Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi). Kondisi ini, kata Sahar, memungkinkan PBB untuk merebut hati massa partai dengan platform sama yang gagal menjadi peserta pemilu mendatang. Begitu pula pemilih lepas yang berideologi Islam modernis yang nasionalis.
PBB juga tercatat sebagai salah satu partai di MPR yang berjuang dalam sidang amendemen keempat Undang-Undang Dasar 1945 untuk mengembalikan tegaknya syariat Islam. Karena itu, tak sedikit suara miring yang kemudian menghubungkan upaya tadi dengan tak tercapainya pemenuhan kuota 30 persen caleg perempuan PBB. Bahkan, seorang caleg perempuan PBB dari daerah pemilihan Padang Pariaman sempat mengamuk di depan Kantor Dewan Pimpinan Cabang setempat [baca: Caleg PBB Pariaman Dipecat]. Pasalnya, ia gagal menjadi caleg di nomor urut satu.
Namun, suara-suara miring itu ditepis Ketua Dewan Pimpinan Pusat PBB Ahmad Sumargono. Memang, ia tidak menyangkal bahwa porsi caleg perempuan PBB hanya sekitar 26 persen. Tapi, menurut dia, semua itu karena PBB mencoba untuk realistis tidak memaksakan diri seperti partai lain. Ahmad Sumargono mengaku sulit sekali mencari caleg perempuan yang berkualitas dengan waktu yang sangat terbatas. "Hanya beberapa bulan setelah undang-undang pemilu keluar," kata Gogon--begitu Sumargono disapa.
Memang, konsistensi PBB memperjuangkan penegakan syariat Islam, klaim penerus Masyumi, dan kuatnya sosok Yusril sebagai tokoh muda yang kharismatik menjadi kekuatan utama PBB dalam pesta demokrasi 5 April 2004. Akankah target PBB meraih 10 persen suara atau duduk di tiga besar dapat terpenuhi? Lihat saja nanti.(AWD/Alfito Deannova dan Joseph Herhudi Lestari)