Liputan6.com, Meksiko: Populasi kupu-kupu Monarch meningkat, meski sebelumnya sempat merosot drastis akibat perubahan ekologi. Kendati begitu, para pakar biologi mengkhawatirkan penebangan liar yang kemungkinan terus terjadi di kawasan cagar alam khusus kupu-kupu Monarch, El Rosario, yang terdapat di Meksiko.
Migrasi tahunan kupu-kupu Monarch adalah peristiwa alam yang luar biasa. Setiap musim dingin tiba di belahan bumi utara, serangga ini pindah dari hutan-hutan di Amerika Utara dan Kanada menuju Meksiko yang berjarak lebih dari 2.000 mil. Migrasi massal 300 juta kupu-kupu Monarch pertama kali diketahui para ilmuwan pada 1975. Menariknya, hingga kini fenomena alam itu masih berlangsung dan senantiasa menarik para pencinta dunia satwa [baca: Puluhan Juta Kupu-Kupu Monarch Berimigrasi ke Meksiko].
Sayangnya, migrasi ratusan juta kupu-kupu yang pernah menjejali langit jumlahnya terus merosot. Hujan badai yang diikuti dengan turunnya temperatur udara pada Januari 2002 menyebabkan 80 persen atau sekitar 250 juta kupu-kupu Monarch mati. Tragisnya, serangga ini justru mati di tempat migrasi sekaligus tempat perlindungan mereka, yaitu kawasan cagar alam di El Rosario, Meksiko.
Menurut seorang pakar biologi yang tergabung dalam jaringan pemantau kupu-kupu Monarch, penyebab kematian serangga ini adalah penebangan liar yang mulai merambah El Rosario. Penebangan liar itu diduga telah membuka kawasan hutan cagar alam sehingga hawa dingin mencapai kawasan tempat kupu-kupu berlindung. Padahal, mulanya hutan ini cukup lebat dan berfungsi layaknya payung serta selimut bagi kupu-kupu yang memang bermigrasi untuk menghindari cuaca dingin di Amerika Utara.
Dalam beberapa dasa warsa terakhir, hampir setengah dari kawasan hutan El Rosario rusak akibat penebangan liar. Untuk mencegah kerusakan lebih lanjut dan mencegah Monarch punah, pemerintah Meksiko dan World Wide Fund for Nature (WWF) berupaya melindungi kupu-kupu yang ada dengan menawarkan sejumlah uang agar para pemilik tanah tak menebang pohon di El Rosario.
Meski begitu, para pakar perlindungan alam tetap khawatir karena jumlah dana yang tersedia sangat terbatas. Para pemilik tanah hanya menerima santunan senilai US$ 18 atau sekitar Rp 145 ribu untuk setiap akre tanah mereka. Jumlah ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan yang akan diterima dari hasil penebangan hutan.
Sejauh ini belum diketahui seberapa besar dampak hawa dingin terhadap populasi kupu-kupu Monarch. Namun, para ilmuwan memperoleh kabar baik karena pada musim semi 2003 terjadi peningkatan jumlah serangga yang kembali terbang ke utara.(ULF/Rka)
Migrasi tahunan kupu-kupu Monarch adalah peristiwa alam yang luar biasa. Setiap musim dingin tiba di belahan bumi utara, serangga ini pindah dari hutan-hutan di Amerika Utara dan Kanada menuju Meksiko yang berjarak lebih dari 2.000 mil. Migrasi massal 300 juta kupu-kupu Monarch pertama kali diketahui para ilmuwan pada 1975. Menariknya, hingga kini fenomena alam itu masih berlangsung dan senantiasa menarik para pencinta dunia satwa [baca: Puluhan Juta Kupu-Kupu Monarch Berimigrasi ke Meksiko].
Sayangnya, migrasi ratusan juta kupu-kupu yang pernah menjejali langit jumlahnya terus merosot. Hujan badai yang diikuti dengan turunnya temperatur udara pada Januari 2002 menyebabkan 80 persen atau sekitar 250 juta kupu-kupu Monarch mati. Tragisnya, serangga ini justru mati di tempat migrasi sekaligus tempat perlindungan mereka, yaitu kawasan cagar alam di El Rosario, Meksiko.
Menurut seorang pakar biologi yang tergabung dalam jaringan pemantau kupu-kupu Monarch, penyebab kematian serangga ini adalah penebangan liar yang mulai merambah El Rosario. Penebangan liar itu diduga telah membuka kawasan hutan cagar alam sehingga hawa dingin mencapai kawasan tempat kupu-kupu berlindung. Padahal, mulanya hutan ini cukup lebat dan berfungsi layaknya payung serta selimut bagi kupu-kupu yang memang bermigrasi untuk menghindari cuaca dingin di Amerika Utara.
Dalam beberapa dasa warsa terakhir, hampir setengah dari kawasan hutan El Rosario rusak akibat penebangan liar. Untuk mencegah kerusakan lebih lanjut dan mencegah Monarch punah, pemerintah Meksiko dan World Wide Fund for Nature (WWF) berupaya melindungi kupu-kupu yang ada dengan menawarkan sejumlah uang agar para pemilik tanah tak menebang pohon di El Rosario.
Meski begitu, para pakar perlindungan alam tetap khawatir karena jumlah dana yang tersedia sangat terbatas. Para pemilik tanah hanya menerima santunan senilai US$ 18 atau sekitar Rp 145 ribu untuk setiap akre tanah mereka. Jumlah ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan yang akan diterima dari hasil penebangan hutan.
Sejauh ini belum diketahui seberapa besar dampak hawa dingin terhadap populasi kupu-kupu Monarch. Namun, para ilmuwan memperoleh kabar baik karena pada musim semi 2003 terjadi peningkatan jumlah serangga yang kembali terbang ke utara.(ULF/Rka)