Persadaan Ginting, Wadah Belajar Adat Karo bagi Perantau

Karo adalah suku bangsa yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Sumatera Utara, dan merupakan salah satu suku terbesar di Provinsi Sumatera Utara

oleh Liputan6Diterbitkan 07 Oktober 2013, 15:30 WIB
Citizen6, Sumatera Utara: Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 13.487 pulau besar dan kecil. Sekitar 6.000 di antaranya tidak berpenghuni. Wilayah Indonesia terbentang sepanjang 3.977 mil di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Luas daratan Indonesia adalah 1.922.570 kilmeter persegi dan luas perairannya 3.257.483 kilometer persegi. Indonesia memiliki lebih dari 721 bahasa daerah. Karo, merupakan satu di antara bahasa daerah tersebut.

Karo, versi kamus online Wikipedia, adalah suku bangsa yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Sumatera Utara. Suku ini merupakan salah satu suku terbesar di Provinsi Sumatera Utara. Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami, yakni dataran tinggi Karo.

Brahma Putra, dalam bukunya "Karo dari Zaman ke Zaman" mengatakan, pada abad 1 Masehi sudah ada kerajaan di Sumatera Utara yang rajanya bernama "La Pagan". Kerajaan Karo tumbuh dan berkembang bersamaan waktunya dengan kerajaan Majapahit, Sriwijaya, Johor, Malaka, dan Aceh. Kerajaan Karo pada masa keemasannya, pengaruhnya tersebar mulai dari Aceh Besar hingga ke Sungai Siak di Riau.

Di Aceh, menurut H M Zainuddin dalam bukunya "Tarich Atjeh dan Nusantara" (1961), di lembah Aceh Besar, di samping terdapat kerajaan Islam terdapat pula kerajaan Karo. Selanjutnya, H Muhammad Saida dalam bukunya "Aceh Sepanjang Abad" (1981) mengungkapkan, terdapat suku Karo di Aceh Besar yang dalam bahasa Aceh disebut Karee. Sedangkan dalam bukunya "Karo Sepanjang Zaman" mengatakan, raja terakhir suku Karo di Aceh Besar adalah Manang Ginting Suka.

Kelompok Karo di Aceh kemudian berubah nama menjadi "Kaum Lhee Reutoih" atau Kaum Tiga Ratus. Penamaan itu terkait dengan peristiwa perselisihan antara suku Karo dengan suku Hindu di sana yang disepakati diselesaikan dengan perang. Sebanyak 300 orang suku Karo akan berkelahi dengan 400 orang suku Hindu di suatu lapangan terbuka. Syukurnya, perang tersebut dapat didamaikan, dan sejak saat itu suku Karo disebut sebagai kaum tiga ratus, sedangkan kaum Hindu disebut kaum empat ratus.

Nah, melihat eratnya hubungan kesejarahan antara Karo dan Aceh di satu sisi, di sisi lain, tidak sedikit keturunan Karo dan para perantau Karo di Banda Aceh dan Aceh Besar yang kurang memahami adat istiadat asal mereka. Maka, pada 17 Agustus 2013 malam, dibentuklah Persadaan Ginting Mergana Ras Anak Beruna Rikutken Teman Sendalinan (Persatuan Ginting dan Teman Seperantauan) di kedua wilayah tersebut.

Minggu 6 Oktober 2013 kemarin, Persadaan Ginting kembali melakukan pertemuan bulanannya. Pertemuan ketiga tersebut bertempat di rumah Sekretarisnya, Guntur Meliala, di Perumnas Guru Ujung Bate, Kecamatan Masjid raya, Aceh Besar yang dihadiri 30 orang, terdiri dari 13 Kepala Keluarga.

Ibrahim Ginting, selaku Ketua Persadaan Ginting mengungkapkan, tujuan komunitas ini adalah menghimpun masyarakat suku Karo, khususnya marga Ginting yang berdomisili di Kota Banda Aceh dan Aceh Besar.

"Komunitas ini dibentuk sebagai wadah belajar adat istiadat suku Karo bagi keturunannya, khususnya merga Ginting, yang merantau ke Banda Aceh dan Aceh Besar. Komunitas ini merangkul semua golongan dengan tidak menyinggung masalah agama," ujar Ibrahim Ginting.

Selain wadah belajar adat istiadat, komunitas ini juga untuk memperkuat silaturrahmi antar masyarakat suku karo di dua wilayah tersebut. Dengan silaturrahmi itu diharapkan semangat bekerja sama atau gotong royong menjadi lebih baik.

"Masyarakat Karo terdiri dari 5 merga induk dengan total 84 merga cabang. Ini merupakan bagian dari kekayaan warisan kebudayaan kita yang akan konstruktif bagi kehidupan bila bisa dihimpun dengan baik," imbuh Ibrahim Ginting yang juga Kepala Bidang Teknik Telkom Banda Aceh, Aceh Besar, dan Pidie.

Nah, bagi masyarakat Karo, khsususya merga Ginting ras anak beruna yang berdomisili di Banda Aceh dan Aceh Besar, bisa menghubungi Ilham Ginting, Ketua Divisi Humas Persadaan Ginting Banda Aceh dan Aceh Besar di nomor 085207210009.

Ahmad Arif Ginting adalah Sekretaris II Persadaan Ginting Mergana Ras Anak Beruna Rikutken Teman Sendalinan Banda Aceh dan
Aceh Besar, yang juga pewarta warga. (Ahmad Arif Ginting/Mar)

Mulai 30 September-11 Oktober ini, Citizen6 mengadakan program menulis bertopik "Oleh-oleh Khas Kotaku". Ada merchandise eksklusif bagi 6 artikel terpilih. Syarat dan ketentuan bisa disimak di sini.

Anda juga bisa mengirimkan artikel disertai foto seputar kegiatan komunitas atau opini Anda tentang politik, kesehatan, keuangan, wisata, social media dan lainnya ke Citizen6@liputan6.com.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya