Liputan6.com, Tepi Barat: Tentara Israel membongkar sebuah sinagoge di kawasan Tapuah, Tepi Barat, Selasa (20/1). Pembongkaran tempat ibadah kaum Yahudi itu diprotes warga setempat. Sedikitnya 150 orang Yahudi yang bermukim di kawasan sinagoge menyerbu prajurit Israel. Bentrokan akhirnya tak terhindarkan. Israel membongkar sinagoge tersebut karena para pemimpin kaum Yahudi di sana dianggap menyebarkan ajaran Kahane, yang menganut paham anti-Arab Israel atau kelompok orang-orang non-Yahudi yang juga dikenal dengan sebutan goyyim.
Ajaran Kahane disebarluaskan Rabbi Meir Kahane, pemimpin Jewish Defense League (JDL) atau Liga Pembelaan Orang Yahudi. Sepak terjang JDL dikenal keras dan belakangan berkembang menjadi organisasi teroris. Dalam ajarannya selalu diterapkan bahwa kaum Arab dan muslim adalah musuh yang harus diperangi. Karena itulah, pemerintah Israel dan Amerika Serikat memasukkan JDL dalam kelompok organisasi terlarang.
Dari informasi yang dihimpun Liputan6.com, Rabbi Meir Kahane yang lahir di New York, AS, pada 1932. Dia membangun JDL sejak 1968. Setahun kemudian, Meir Kahane pindah ke Israel. Dia sempat mendekam di penjara selama delapan bulan karena terlibat penyerangan terhadap kaum muslim di Kuil Mount. Bebas dari bui, Meir Kahane membuat Partai Kach yang juga mendorong pengusiran masyarakat Arab dari Israel dan Tepi Barat.
Rabbi Meir Kahane terbunuh setelah berpidato di Hotel New York City pada 1990. Pembunuh Meir bernama El Sayyid Nosair, seorang anggota organisasi Al-Qaidah keturunan Mesir yang dituduh AS mendalangi pengeboman Gedung World Trade Center [baca: Warga AS Memperingati Tragedi 9/11]. Putra dan putri Meir Kahane juga tewas saat pecah perang antara Palestina dan Israel di Tepi Barat, setahun setelah kematian ayah mereka.
Meski Rabbi Meir sudah tiada, ajarannya ternyata masih disebarluaskan oleh pengikutnya. Sebuah kasus heboh terjadi di Purim, pada 25 Februari 1994. Ketika itu, seorang perwira Angkatan Darat Israel bernama Baruch Goldstein membantai 40 orang muslim. Para korban termasuk sebagian anak-anak, dihabisi saat tengah menunaikan salat di sebuah masjid.(KEN/Idr)
Ajaran Kahane disebarluaskan Rabbi Meir Kahane, pemimpin Jewish Defense League (JDL) atau Liga Pembelaan Orang Yahudi. Sepak terjang JDL dikenal keras dan belakangan berkembang menjadi organisasi teroris. Dalam ajarannya selalu diterapkan bahwa kaum Arab dan muslim adalah musuh yang harus diperangi. Karena itulah, pemerintah Israel dan Amerika Serikat memasukkan JDL dalam kelompok organisasi terlarang.
Dari informasi yang dihimpun Liputan6.com, Rabbi Meir Kahane yang lahir di New York, AS, pada 1932. Dia membangun JDL sejak 1968. Setahun kemudian, Meir Kahane pindah ke Israel. Dia sempat mendekam di penjara selama delapan bulan karena terlibat penyerangan terhadap kaum muslim di Kuil Mount. Bebas dari bui, Meir Kahane membuat Partai Kach yang juga mendorong pengusiran masyarakat Arab dari Israel dan Tepi Barat.
Rabbi Meir Kahane terbunuh setelah berpidato di Hotel New York City pada 1990. Pembunuh Meir bernama El Sayyid Nosair, seorang anggota organisasi Al-Qaidah keturunan Mesir yang dituduh AS mendalangi pengeboman Gedung World Trade Center [baca: Warga AS Memperingati Tragedi 9/11]. Putra dan putri Meir Kahane juga tewas saat pecah perang antara Palestina dan Israel di Tepi Barat, setahun setelah kematian ayah mereka.
Meski Rabbi Meir sudah tiada, ajarannya ternyata masih disebarluaskan oleh pengikutnya. Sebuah kasus heboh terjadi di Purim, pada 25 Februari 1994. Ketika itu, seorang perwira Angkatan Darat Israel bernama Baruch Goldstein membantai 40 orang muslim. Para korban termasuk sebagian anak-anak, dihabisi saat tengah menunaikan salat di sebuah masjid.(KEN/Idr)