Apakah Boleh Makan sebelum Shalat Idul Adha? Simak Hukum, Dalil dan Penjelasannya

Apakah boleh makan sebelum shalat Idul Adha menjadi pertanyaan klasik yang berulang karena sama-sama hari raya umat Islam, layaknya Idul Fitri

oleh Nanik RatnawatiDiterbitkan 25 Mei 2026, 17:30 WIB
Suasana Idul Adha (cretaed by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Hari Raya Idul Adha memiliki serangkaian adab dan tata cara yang secara spesifik membedakannya dari perayaan Idul Fitri. Salah satu persoalan fikih yang kerap muncul dan dipertanyakan oleh umat Islam setiap menjelang pagi tanggal 10 Dzulhijjah adalah, apakah boleh makan sebelum shalat Idul Adha?

Pertanyaan ini wajar mengingat masih banyak orang awam yang belum bisa membedakan sunnah sebelum Idul Fitri dan Idul Adha. padahal, terdapat perbedaan yang mendasar terkait status hukum makan sebelum sholat ied-nya.

Islam telah memberikan panduan mengenai adab menyambut hari raya ini. Terdapat banyak amalan sebelum sholat Idul Adha yang dicontohkan Nabi SAW, termasuk di antaranya, boleh dan tidaknya makan sebelum sholat Idul Adha.

Merujuk buku Saku Fikih Qurban (2022) terbitan Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) dan Risalah Bekal-Bekal Idul Adha karya Abu Salma al-Atsari, berikut adalah pandangan fikih perihal makan sebelum shalat Idul Adha.

Bolehkah Makan sebelum Sholat Idul Adha, Apa Hukumnya?

Menjawab inti pertanyaan "apakah boleh makan?", para ulama bersepakat bahwa larangan makan sebelum shalat Idul Adha tidak bersifat haram. Hukum menunda makan di pagi hari raya tersebut adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan), bukan wajib.

Oleh karena itu, jika seseorang terpaksa makan atau minum sebelum shalat; baik karena lapar, haus yang menyengat, harus meminum obat, atau kondisi fisik yang lemah, maka perbuatannya tersebut diperbolehkan, shalatnya tetap sah, dan ia sama sekali tidak berdosa.

Namun secara fikih, ia telah meninggalkan keutamaan (fadhilah) sunnah dan melakukan tindakan yang khilaful aula (menyalahi sesuatu yang lebih utama).

Makan sebelum pelaksanaan shalat Idul Adha pada dasarnya diperbolehkan jika terdapat hajat dan tidak membatalkan nilai ibadah seseorang. Akan tetapi, sebagai wujud ketundukan pada ajaran Rasulullah SAW, umat Islam sangat dianjurkan untuk menahan diri dari makan dan minum hingga rangkaian shalat Id selesai.

Melalui sunnah sederhana ini, umat Islam diajarkan untuk merawat keikhlasan serta memuliakan rezeki daging kurban sebagai hidangan istimewa dari Allah SWT pada Hari Nahr.

Sunnah Menahan Diri dari Makan (Menunda Sarapan)

Terdapat perbedaan kebiasaan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW antara dua hari raya. Pada Idul Fitri, umat Islam disunnahkan untuk makan (biasanya mengonsumsi beberapa butir kurma) sebelum berangkat ke tempat shalat sebagai tanda berakhirnya bulan Ramadhan.

Sebaliknya, pada Idul Adha, umat Islam disunnahkan untuk menahan diri dari makan dan minum sejak fajar menyingsing hingga shalat Id selesai ditunaikan.

Anjuran ini bersandar pada praktik langsung dari Nabi Muhammad SAW. Dalam Bekal-Bekal Idul Adha, dicantumkan hadis sahih riwayat Buraidah radhiyallahu 'anhu yang berbunyi:

"Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak keluar pada hari Idul Fitri sampai beliau makan, dan beliau tidak makan pada hari Idul Adha sampai beliau kembali (dari shalat), lalu makan dari sembelihannya." (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Ketentuan Makan bagi yang Berkurban dan Tidak Berkurban

Terkait siapa saja yang dianjurkan melaksanakan sunnah ini, terdapat rincian dari para ulama menekankan perbedaan, antara yang hendak berkurban (mudhohi) dan yang tidak beribadah kurban.

Bagi Shohibul Qurban (Pekurban)

Sunnah menunda makan ini sangat ditekankan bagi mereka yang hendak menyembelih hewan kurban

Tujuannya adalah agar makanan pertama yang membatalkan "puasa" sejenaknya di pagi itu berasal dari hidangan daging sembelihannya sendiri (biasanya bagian hati hewan kurban).

Bagi yang Tidak Berkurban

Mayoritas ulama (Jumhur) berpandangan bahwa anjuran menahan diri dari makan ini tetap disunnahkan bagi seluruh umat Islam, terlepas dari apakah ia sedang berkurban atau tidak

Hal ini ditujukan sebagai bentuk penyeragaman syiar di pagi hari raya dan penghormatan terhadap waktu pelaksaan shalat.

Hikmah di Balik Anjuran Tidak Makan sebelum Shalat Idul Adha

1. Meneladani Rasulullah SAW

Mengikuti sunnah secara harfiah adalah bentuk kecintaan kepada Nabi dan wujud nyata dari firman Allah: “Katakanlah, jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku.”

2. Menyegerakan Pelaksanaan Kurban

Seseorang yang belum makan akan lebih bersemangat dan bersegera dalam menyembelih hewan kurban setelah shalat, sehingga daging kurban dapat segera dinikmati bersama-sama

3. Makna Simbolis Pengorbanan

Menahan lapar untuk sementara waktu mengingatkan umat Islam pada esensi Idul Adha, yaitu ketaatan dan kesiapan berkorban sebagaimana yang dicontohkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail AS

4. Membedakan dengan Hari Puasa

Di bulan Dzulhijjah, umat Islam terbiasa berpuasa sunnah. Dengan tidak makan sebelum shalat pada Idul Adha, justru menegaskan bahwa hari itu adalah hari raya yang diharamkan untuk berpuasa, sehingga menjadi pembeda yang jelas dengan kebiasaan sebelumnya

5. Bentuk Syukur kepada Allah

Menjadikan daging kurban sebagai makanan pertama di hari raya adalah bentuk syukur atas nikmat yang Allah berikan melalui ibadah kurban.

Amalan sebelum Sholat Idul Adha

Selain anjuran tidak makan, terdapat beberapa amalan sunnah lain yang sangat dianjurkan untuk dilakukan sebelum berangkat shalat Idul Adha. Melengkapi ibadah dengan sunnah-sunnah ini akan menyempurnakan pelaksanaan hari raya sesuai tuntunan Rasulullah SAW.

Berikut adalah amalan-amalan utama sebelum shalat Idul Adha:

1. Memperbanyak Takbir

Takbir Idul Adha dilantunkan mulai dari terbit fajar (Subuh) hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga akhir hari Tasyrik (13 Dzulhijjah). Ini adalah syiar agung yang membedakan hari raya dengan hari-hari biasa.

2. Mandi (Mandi Sunnah Idul Adha)

Mandi sebelum berangkat shalat Id adalah sunnah yang disepakati para ulama. Anjuran ini didasarkan pada praktik Rasulullah SAW dan para sahabat, sebagaimana riwayat dari Ibnu Abbas: “Rasulullah SAW mandi pada hari Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR. Ibnu Majah)

3. Memakai Pakaian Terbaik dan Wewangian

Para ulama menganjurkan untuk memakai pakaian terbaik, bersih, dan putih jika memungkinkan, serta menggunakan wewangian sebagai bentuk penghormatan kepada hari raya. Hal ini merupakan sunnah yang diamalkan oleh para sahabat.

4. Berangkat dengan Jalan Kaki dan Melewati Rute Berbeda

Rasulullah SAW biasa berjalan kaki ke tempat shalat Id (musalla) dan melewati jalan yang berbeda antara berangkat dan pulang. Hal ini mengandung hikmah untuk memperbanyak pertemuan dengan sesama muslim, menyapa, dan menebarkan salam.

5. Mengakhirkan Makan hingga setelah Shalat

Ini adalah pembahasan inti kita: berbeda dengan Idul Fitri, sunnah pada Idul Adha adalah mengakhirkan makan hingga setelah shalat dan lebih utama jika makanan pertama adalah dari daging kurban itu sendiri.

6. Tidak Berpuasa pada Hari Raya

Hari Raya Idul Adha adalah hari yang diharamkan untuk berpuasa. Tidak makan sebelum shalat adalah bentuk penegasan bahwa hari itu bukanlah hari untuk berpuasa, melainkan hari untuk berbuka dan merayakan.

7. Menghidupkan Malam Hari Raya dengan Ibadah

Meskipun sanad hadis tentang keutamaan menghidupkan malam Id diperdebatkan oleh sebagian ulama (ada yang menyebut dha’if), Imam Syafi’i tetap menganjurkan untuk mengisi malam Idul Adha dengan ibadah seperti membaca Al-Qur’an, berzikir, beristigfar, dan berdoa. Anjuran ini didasarkan pada kemuliaan waktu dan semangat beribadah di malam-malam istimewa.

Pertanyaan Seputar Topik

Apakah sebelum shalat Idul Adha boleh makan dan minum?

Tidak makan dan minum sebelum shalat Idul Adha adalah sunnah (dianjurkan). Umat Islam disunnahkan menahan diri untuk tidak mengonsumsi apa pun sejak pagi hari hingga selesai menunaikan shalat Id, dan baru makan dari daging hewan kurban setelahnya.

Apa yang tidak boleh dilakukan saat hari raya Idul Adha?

Hal-hal yang Tidak Boleh Dilakukan Saat Idul Adha, Apa Saja?Berpuasa di Hari Tasyrik.Memotong Rambut dan Kuku.Makan Sebelum Salat Idul Adha.Menyembelih Hewan Kurban Sebelum Salat Idul Adha.

Apakah kita boleh minum teh sebelum salat Idul Adha?

Pertanyaan: Apa hukum makan sesuatu sebelum shalat Idul Adha? Jawaban: Rasulullah ﷺ tidak makan apa pun sebelum shalat Idul Adha, tetapi makan setelahnya , sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Tirmidhi dan Ibnu Majah dari Hadhrat Buraydah.

Bolehkah tidak puasa sebelum sholat Idul Adha?

Salah satu sunnah yang dianjurkan saat Idul Adha adalah menahan diri untuk tidak makan sebelum shalat Id. Nabi Muhammad ﷺ disebutkan tidak makan apa pun sebelum menunaikan shalat Idul Adha, dan baru makan setelah menyembelih hewan kurban.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya