Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah tipis pada perdagangan Kamis pagi. Mata uang Garuda tercatat turun 1 poin atau sekitar 0,01 persen ke level Rp 17.655 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp 17.654 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menilai pelemahan rupiah masih dipengaruhi sentimen global, terutama tingginya harga minyak dan penguatan indeks dolar AS.
Advertisement
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah dengan kisaran di Rp 17.690 - Rp 17.740 dipengaruhi oleh faktor global harga minyak yang masih di atas 100 dolar AS per barel dan index dollar yang masih kuat,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Pergerakan harga minyak dunia saat ini juga masih menjadi perhatian pelaku pasar. Berdasarkan laporan Anadolu, minyak mentah Brent diperdagangkan di kisaran 104,5 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar 98 dolar AS per barel.
Harga minyak mengalami penurunan setelah pasar merespons perkembangan terbaru terkait situasi geopolitik di Timur Tengah. Pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai potensi berakhirnya konflik dengan Iran ikut memengaruhi pergerakan pasar energi global.
Selain itu, data persediaan minyak mentah AS juga menjadi faktor yang diperhatikan investor.
Sentimen Domestik
Pasar juga mencermati penurunan stok minyak mentah Amerika Serikat yang tercatat cukup besar dalam sepekan terakhir. Berkurangnya cadangan minyak disebut terjadi karena lonjakan ekspor serta mulai menurunnya pasokan domestik.
Data menunjukkan stok minyak mentah turun sekitar 17,8 juta barel, sehingga total persediaan menyentuh level terendah dalam hampir satu tahun terakhir.
Di sisi lain, sentimen dari dalam negeri juga masih menjadi perhatian pelaku pasar. Rully menilai kondisi fiskal pemerintah saat ini cukup rentan terhadap berbagai tekanan, mulai dari gejolak geopolitik, pergerakan harga minyak, hingga kebutuhan subsidi dan insentif untuk menjaga daya beli masyarakat.
“Pidato presiden (Prabowo Subianto) masih harus dicermati lebih mendalam lagi dengan kondisi fiskal yang rapuh saat ini mengingat tax ratio Indonesia tidak pernah beranjak di atas 10 persen dari GDP (Gross Domestic Product),” ungkap Rully.
Menurutnya, kombinasi sentimen global dan tantangan domestik berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah dalam jangka pendek. Investor pun diperkirakan masih akan menunggu perkembangan data ekonomi berikutnya sebelum mengambil keputusan lebih lanjut.