Tim asuhan Didier Deschamps ini, pada laga Jumat lalu, mendapat hasil kurang bagus, setelah bermain imbang 0-0 dengan Georgia. Sementara pesaing utamanya Spanyol menang 2-0 di Finlandia.
Dengan hasil itu, Prancis sekarang membuntuti pimpinan Grup I Spanyol yang sudah mengumpulkan 14 angka. Sedangkan, Prancis yang berada di urutan kedua terpaut tiga poin dengan hanya menyisakan dua pertandingan terakhir.
Perjalanan "Les Bleus" kali ini sepertinya berjalan kurang mulus. Terbukti dalam pertandingan terakhir, Prancis gagal memetik kemenangan. Kebuntuan di Tbilisi seakan menggarisbawahi kekurangan mereka di depan gawang. Olivier Giroud dan Karim Benzema kerap membuang peluang dan kesempatan.
Untungnya, Prancis memiliki kesenjangan lima poin dengan urutan ketiga Finlandia urutan ketiga. Dengan begitu Benzema dan kawan-kawan minimal harus bisa memastikan lolos ke babak play-off sebagai target realistis.
Bahan Kritikan
Deschamps dan timnya sebelum melakoni laga kualifikasi sempat jadi bahan kritikan pers Perancis. Media menyebut bahwa kondisi ini bisa menjadi sisi terburuk dalam sejarah sepakbola Prancis.
Namun, manajer yang pernah menjadi kapten Prancis yang sukses merengkuh Piala Dunia pada 1998, lebih menghindari perbandingan."Aku tidak pernah bisa mengatakan ini adalah salah satu tim terburuk dalam sejarah Perancis. Saya tidak membandingkan generasi," katanya.
"Aku akan membuat pilihan untuk kebaikan tim. Saya masih memiliki beberapa solusi, tetapi tidak memiliki obat ajaib," imbuhnya.
Menghadapi laga melawan Belarusia, Deschamps mengaku belum memutuskan siapa yang akan bermain. Tapi, dia akan membuat pilihan untuk kebaikan tim. "Kami kurang dalam efisiensi. Kita perlu meningkatkan aspek ini," katanya.
Dilihat dari rekor pertemuan kedua negara, Prancis pernah mengalahkan Belarusia 3-1 saat mereka bertemu September lalu. Dan, pelatih Belarusia, Georgi Kondratiev, me