Hujan Lebat Picu Banjir di China, 22 Orang Tewas dan 20 Lainnya Hilang

Pemerintah China telah mengumumkan bantuan ratusan juta yuan untuk korban banjir.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 20 Mei 2026, 15:00 WIB
Foto udara memperlihatkan Sungai Jianjiang yang meluap dan kawasan terdampak banjir di Kota Duyun, Provinsi Guizhou, China barat daya, setelah hujan lebat mengguyur wilayah tersebut. (Dok. Xiao Wei/Xinhua)

Liputan6.com, Beijing - Korban tewas akibat hujan lebat yang melanda wilayah tengah dan selatan China sejak akhir pekan meningkat menjadi 22 orang. Demikian menurut laporan media pemerintah pada Rabu (20/5/2026).

Sebanyak 20 orang lainnya hingga kini masih dinyatakan hilang.

Bencana alam dan cuaca ekstrem merupakan hal yang umum terjadi di China, khususnya pada musim panas, ketika beberapa wilayah mengalami curah hujan sangat tinggi sementara daerah lain dilanda panas ekstrem.

Menurut stasiun televisi pemerintah CGTN, sejumlah wilayah di China dilaporkan mengalami curah hujan yang memecahkan rekor dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut memicu penghentian sementara kegiatan sekolah dan pekerjaan, serta mendorong pemerintah mengalokasikan dana bantuan.

"Di Provinsi Hunan yang berada di wilayah tengah dan memiliki medan pegunungan, lima orang dilaporkan tewas dan 11 lainnya hilang," sebut laporan kantor berita pemerintah Xinhua pada Rabu.

Laporan Xinhua sehari sebelumnya menyebutkan bahwa lebih dari 61.500 orang di satu kabupaten di provinsi tersebut terdampak hujan deras, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Di wilayah selatan Guangxi, menurut Xinhua, 10 orang dipastikan tewas pada Selasa (19/5) setelah sebuah truk terjun ke sungai yang meluap saat mencoba menyeberang pada Sabtu (16/5) malam.

Provinsi Guizhou yang berada tidak jauh dari Guangxi ikut diterjang hujan lebat, mengakibatkan empat orang meninggal dunia dan lima lainnya hilang.

Lebih ke utara, di Provinsi Hubei bagian tengah, tiga orang tewas dan empat lainnya hilang akibat banjir yang dipicu hujan deras. Bencana itu menyebabkan sejumlah bangunan runtuh dan memutus komunikasi ke beberapa desa.

Laporan Xinhua menyebutkan bahwa pemerintah China pada Selasa mengalokasikan dana bantuan bencana sebesar 120 juta yuan untuk lima wilayah terdampak.

"Tambahan dana sebesar 30 juta yuan dialokasikan untuk Provinsi Guizhou yang mengalami “banyak korban jiwa dan kerugian harta benda," kata Xinhua, mengutip Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional China.

Berdasarkan perhitungan AFP, hampir 24.000 orang telah dievakuasi dari wilayah terdampak di Hunan, Guizhou, dan Hubei.

Prakiraan cuaca menunjukkan kawasan tersebut diperkirakan masih akan mengalami hujan berkelanjutan dalam beberapa hari ke depan.

Para ilmuwan memperingatkan bahwa intensitas dan frekuensi cuaca ekstrem global akan meningkat seiring terus memanasnya planet akibat emisi bahan bakar fosil.

China merupakan negara penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia. Namun, negara itu juga menjadi kekuatan utama energi terbarukan global dan menargetkan perekonomiannya yang sangat besar mencapai netral karbon pada tahun 2060.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya