8 Persen Pasien Katarak Takut Operasi, Baru Datang saat Kondisi Berat

Miris, ada sebagian pasien katarak yang ketakutan menjalani operasi. Baru kembali kembali ke dokter ketika hampir buta.

oleh Ade Nasihudin Al AnsoriDiterbitkan 21 Mei 2026, 07:00 WIB
Dokter spesialis mata Nina Asrini Noor soal katarak picu disabilitas netra, Jakarta (20/5/2026). Foto: Liputan6.com/Ade Nasihudin.

Liputan6.com, Jakarta - Dokter spesialis mata Nina Asrini Noor mengatakan bahwa katarak adalah penyebab utama disabilitas netra di dunia.

“Katarak menjadi penyebab utama kebutaan di seluruh dunia. Penyandang katarak secara global hingga 2020 telah mencapai lebih dari 100 juta orang, dengan 17 juta di antaranya sampai alami kebutaan,” kata Nina dalam temu media bersama media bersama JEC Eye Hospitals and Clinics di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Data Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) menunjukkan, 8 juta masyarakat mengalami gangguan penglihatan, termasuk 1,6 juta kasus kebutaan. Dari angka kebutaan itu, sekitar 81,2 persen (1,3 juta orang) disebabkan oleh katarak. Sayangnya, tak semua masyarakat segera menangani katarak karena masih takut.

“Kadang kita agak miris, ternyata 8,1 persen pasien takut dioperasi. Dan terus terang, sedihnya itu ketika mereka baru datang setelah tiga sampai lima tahun, ketika kataraknya sudah sangat-sangat berat,” kata Nina.

Dia menambahkan, perkembangan katarak untuk sampai ke kondisi disabilitas netra membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun. Maka dari itu, Nina mengimbau masyarakat untuk menangani katarak sejak awal untuk hasil yang lebih optimal. Dengan kondisi berat, maka risiko tindakan pun tinggi. Ia mengimbau agar penanganan katarak jangan sampai terlambat.

“Butuh waktu bertahun-tahun, tapi jangan nunggu sampai terjadi (kebutaan),” ujarnya.

Faktor Risiko Katarak

Katarak adalah buramnya lensa mata yang biasanya berkembang seiring berjalannya usia. Menurut Nina, risiko katarak semakin meningkat jika mata kerap terpapar sinar ultraviolet (UV).

Lantas, apakah risiko katarak semakin tinggi di musim-musim panas seperti halnya situasi El Nino Godzilla?

Menurut Nina, paparan sinar UV tak hanya terjadi ketika cuaca panas terik, saat mendung pun mata perlu dilindungi misalnya dengan kacamata anti UV.

“UV protection tetap harus pakai tapi bukan berarti kalau lagi mendung itu enggak pakai. Jadi, di situasi yang seolah tidak banyak paparan matahari pun tapi secara indeks UV-nya itu tinggi. Apalagi jika UV indeksnya ekstrem, itu mungkin harus proteksi ganda, pakai kacamata (hitam) terus pakai topi lagi,” kata Nina kepada Liputan6.com.

Teknologi Operasi Katarak Kian Berkembang

Nina menambahkan, sebetulnya pasien tidak perlu takut untuk operasi katarak karena operasinya kian aman. Terlebih, kini ada teknologi Femtosecond Laser Cataract Surgery (FLACS).

“Kalau katarak tentu obatnya cuman satu yaitu operasi, enggak ada yang namanya obat tetes lah atau apa. Katarak tatalaksana medisnya adalah operasi,” kata Nina.

Operasi katarak sudah dilakukan sejak dulu. Pada, 1950 ada yang disebut dengan Intracapsular Cataract Surgery (ICCE). Ini merupakan operasi manual, artinya tidak ada bantuan ultrasonic atau apapun. Sehingga luka operasinya pun perlu dijahit.

Teknologi operasi katarak berkembang pada phacoemulsification dengan bantuan ultrasonic. Operasi dilakukan dengan membuat lubang kecil untuk membersihkan katarak dari dalam lensa. Setelah itu, lensa tanam yang baru dimasukkan. Penyayatan bagian mata dilakukan dengan pisau dan pasien bisa dibius lokal atau total.

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya