Trump Ancam Iran: Damai atau Tak Ada yang Tersisa

Ancaman ini disampaikan oleh Trump di akun media sosialnya.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 18 Mei 2026, 10:04 WIB
Warga AS yang marah atas pernyataan Donald Trump yang rasis, mengancam pindah ke Australia jika dia tetap dicalonkan jadi presiden

Liputan6.com, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan peringatan keras kepada Iran di tengah mandeknya negosiasi untuk mengakhiri perang yang mengguncang Timur Tengah.

Dalam unggahan di platform Truth Social pada Minggu, Trump mendesak Teheran segera mencapai kesepakatan damai dengan Washington.

“Bagi Iran, waktu terus berjalan, dan mereka harus bergerak cepat atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka,” tulis Trump. “WAKTU ADALAH SEGALANYA!”

Konflik antara Washington dan Teheran terus memanas sejak pasukan Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari lalu, dikutip dari Japan Today, Senin (18/5/2026).

Perang tersebut memicu gangguan besar di kawasan, termasuk blokade efektif di Strait of Hormuz, jalur pelayaran penting yang dilalui sekitar 20 persen ekspor minyak dunia pada masa normal.

Konflik juga meluas ke Lebanon, di mana kelompok bersenjata Hezbollah yang didukung Iran terus terlibat bentrokan dengan Israel.

Seorang pejabat militer Israel mengatakan Hizbullah menembakkan sekitar 200 proyektil ke wilayah Israel dan pasukannya sepanjang akhir pekan, meski kedua negara sebelumnya sepakat memperpanjang gencatan senjata.

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan serangan terbaru Israel di Lebanon selatan pada Minggu menewaskan lima orang, termasuk dua anak-anak.

Menurut otoritas Lebanon, lebih dari 2.900 orang tewas akibat serangan Israel sejak perang dimulai, termasuk sekitar 400 korban sejak gencatan senjata berlaku pada 17 April.

Washington dan Teheran sebenarnya sempat menyepakati gencatan senjata pada 8 April. Namun, perundingan damai kembali menemui jalan buntu dan bentrokan sporadis terus terjadi.

Media Iran pada Minggu melaporkan bahwa Amerika Serikat dinilai tidak menawarkan konsesi nyata dalam proposal terbaru negosiasi perdamaian.  

Kantor berita Fars menyebut Washington mengajukan lima poin tuntutan, termasuk permintaan agar Iran hanya mengoperasikan satu fasilitas nuklir dan memindahkan stok uranium yang diperkaya tinggi ke Amerika Serikat.

Menurut laporan tersebut, Washington juga menolak mencairkan sebagian besar aset Iran yang dibekukan di luar negeri maupun memberikan kompensasi atas kerusakan akibat perang.

Kantor berita Mehr menilai AS berupaya memperoleh konsesi politik yang gagal diraih melalui perang, sehingga memperbesar risiko kebuntuan negosiasi. 

 

Serangan Drone

Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Ruang Oval, Gedung Putih, Kamis (29/1/2026). (Dok. AP/Allison Robert)

Ketegangan kawasan juga meningkat setelah serangan drone memicu kebakaran di dekat pembangkit listrik tenaga nuklir di Abu Dhabi. Otoritas setempat mengatakan tidak ada korban jiwa maupun peningkatan tingkat radiasi.

Kelompok bersenjata pro-Iran di Irak serta pemberontak Houthis di Yaman diketahui memiliki kemampuan drone tempur.

Sementara itu, Pakistan terus berupaya menjadi mediator dalam perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat. Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi bertemu Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf di Teheran pada Minggu.

Usai pertemuan, Ghalibaf mengatakan perang antara AS, Israel, dan Iran telah mengguncang stabilitas seluruh kawasan Timur Tengah.

“Beberapa negara di kawasan percaya kehadiran Amerika Serikat akan membawa keamanan, tetapi peristiwa terbaru menunjukkan hal sebalIKNya,” katanya. 

Trump sebelumnya juga membahas situasi Iran dengan Presiden China Xi Jinping dalam pertemuan bilateral pekan ini. Namun, belum terlihat adanya kemajuan signifikan menuju penyelesaian konflik.

Kementerian Luar Negeri China menegaskan jalur pelayaran internasional harus segera dibuka kembali di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya